Permintaan AI Mengubah Pasokan Memori
Krisis harga RAM adalah tekanan pasokan dan biaya memori yang membuat produsen ponsel harus memilih antara menahan harga jual atau mempertahankan spesifikasi perangkat seperti sebelumnya. Tekanan ini mulai mengubah strategi produksi menjelang akhir 2026. Salah satu pemicunya ialah pusat data kecerdasan buatan yang menyerap pasokan, sementara produsen memori memprioritaskan komponen bernilai tinggi seperti HBM dan DDR5 berkapasitas besar. IDC menyebut pusat data AI menyerap sekitar 70 persen produksi memori global. Dampaknya terasa pada komponen yang digunakan ponsel: TrendForce memperkirakan harga kontrak DRAM konvensional naik 90–95 persen pada kuartal pertama 2026 dibanding kuartal sebelumnya, sementara LPDDR4X dan LPDDR5X diproyeksikan naik masing-masing 70–75 persen dan 78–83 persen pada kuartal kedua. Angka-angka ini menjelaskan mengapa vendor tak bisa menganggap RAM dan storage sebagai pos biaya yang mudah diabaikan.
Menahan Harga dengan Kompromi Spesifikasi
Alih-alih meneruskan seluruh kenaikan biaya ke pembeli, produsen mulai menyesuaikan kapasitas RAM pada model tertentu dan mempertimbangkan pemasok memori yang lebih terjangkau. Inilah inti vendor penyesuaian spek: menjaga harga smartphone stabil dengan mengubah komposisi perangkat, bukan selalu menaikkan harga jual secara mencolok. Namun, spesifikasi ponsel berkurang bukan berarti setiap bagian pasti diturunkan. Vendor dapat mengimbangi RAM yang lebih kecil dengan peningkatan kamera, fitur perangkat lunak, atau kemampuan lain yang dianggap lebih terasa dalam pemakaian sehari-hari. Strategi ini masuk akal untuk menjaga harga tetap kompetitif, tetapi konsumen perlu memeriksa komprominya, bukan terpaku pada satu fitur unggulan. Kapasitas memori yang cukup penting bagi multitugas dan pemakaian jangka panjang; kamera atau fitur tambahan tidak otomatis menggantikannya. Karena itu, nilai sebuah ponsel sebaiknya dinilai dari keseimbangan spesifikasi sesuai kebutuhan, bukan dari daftar fitur yang paling menarik di iklan.

Dampaknya Berbeda di Tiap Kelas Ponsel
Pada flagship, kompromi dapat terlihat sebagai peningkatan RAM yang tertunda: sejumlah model 2026 tetap memakai RAM 12 GB, bukan 16 GB seperti yang sebelumnya diperkirakan. Di kelas menengah, penyesuaian kapasitas pada model tertentu berpotensi menjadi cara paling langsung untuk menahan harga, meski pembeli perlu membandingkan RAM, storage, dan fitur lain secara bersamaan. Untuk segmen budget, tekanannya lebih keras: produsen mulai mengurangi spesifikasi dan menghentikan lini entry-level yang kurang menguntungkan. Ini membuat pilihan konsumen bukan sekadar antara ponsel murah dan mahal, melainkan antara harga yang sesuai anggaran dengan spek lebih terbatas atau membayar lebih untuk perangkat yang memenuhi kebutuhan jangka panjang. Tekanan pasokan juga belum tentu cepat reda; krisis diperkirakan dapat berlanjut hingga 2028. Kesimpulannya, jangan membeli demi gengsi atau angka RAM semata. Tentukan kebutuhan, lalu pastikan kompromi yang diterima tidak mengganggu penggunaan sehari-hari.






