Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Mengapa Turis Modern Lebih Suka Membeli Pengalaman daripada Barang

Mengapa Turis Modern Lebih Suka Membeli Pengalaman daripada Barang
Minat|Destinasi Luar Negeri

Dari Koper Penuh Belanja ke Kenangan Penuh Makna

Wisata pengalaman berkualitas adalah pendekatan berlibur yang menempatkan kualitas interaksi dengan budaya, alam, dan manusia sebagai tujuan utama, sehingga turis lebih memprioritaskan kenangan autentik dan wisata bermakna daripada sekadar mengunjungi destinasi populer atau berbelanja barang fisik yang mudah dilupakan setelah pulang. Pergeseran ini terlihat jelas pada perilaku turis milenial dan Gen Z yang menjadikan pengalaman sebagai faktor penentu utama ketika memilih destinasi. Berwisata kini bukan lagi soal datang, foto, lalu pergi; perjalanan diharapkan menjadi cerita yang layak diceritakan ulang dan dirasakan kembali, bukan hanya dipamerkan di media sosial.

Penelitian terhadap 14.673 orang dewasa di berbagai kawasan menunjukkan bahwa 61 persen responden sengaja berperilaku berbeda saat bepergian dibanding ketika di rumah. Artinya, begitu liburan dimulai, banyak orang mengaktifkan "versi diri" yang lebih berani mencoba hal baru, termasuk membelanjakan uang untuk pengalaman yang terasa tidak masuk akal bila dilakukan dalam keseharian. Fenomena ini menjelaskan mengapa turis yang biasanya hemat menjadi lebih longgar dalam membayar tur wisata, kelas memasak, atau aktivitas budaya, sementara belanja barang mulai bergeser ke posisi sekunder.

Milenial dan Gen Z: Generasi yang Membeli Cerita, Bukan Suvenir

Jika dulu perjalanan identik dengan koper penuh oleh-oleh, perilaku turis milenial kini menunjukkan bahwa yang lebih penting adalah cerita di balik perjalanan. Bagi generasi ini dan Gen Z, destinasi autentik yang menawarkan kedekatan dengan komunitas lokal, kuliner khas, atau alam yang masih terjaga lebih menarik daripada pusat perbelanjaan besar. Mereka mengukur nilai liburan dari seberapa bermakna pengalaman yang didapat, bukan dari jumlah barang yang dibawa pulang. Ketika sebuah perjalanan terasa personal dan menyentuh, mereka menganggap uang yang dikeluarkan sebagai investasi pada diri sendiri, bukan sekadar pengeluaran konsumtif.

Dalam pandangan wakil otoritas pariwisata, turis milenial dan Gen Z saat ini semakin mencari pengalaman yang autentik, personal, dan bermakna. Data menunjukkan 52 persen dari mereka bersedia membayar lebih untuk mendapatkan pengalaman wisata berkualitas, sebuah angka yang menegaskan bahwa harga bukan lagi masalah utama selama aktivitas yang ditawarkan terasa relevan dengan nilai dan gaya hidup mereka. Saat sebagian orang tua mereka masih terpikat oleh diskon belanja, generasi muda ini memburu kelas gastronomy, sesi wellness, atau eksplorasi laut yang menghubungkan mereka dengan alam dan budaya.

Psikologi Liburan: Kenapa Kita Jadi ‘Orang Lain’ Saat Bepergian

Perubahan fokus dari shopping ke pengalaman tidak bisa dilepaskan dari fakta bahwa kita memang bukan "orang" yang sama ketika liburan. Jauh dari rutinitas dan tanggung jawab, wisatawan merasa punya izin mental untuk melanggar aturan pribadi: tidur lebih malam, menghabiskan lebih banyak uang, dan membuka diri pada aktivitas yang di rumah akan mereka tolak. Survei menunjukkan 47 persen responden sengaja melakukan sesuatu saat bepergian karena merasa hal itu hanya pantas dilakukan ketika berlibur, dan 35 persen mengaku terkejut dengan apa yang mereka lakukan setelah kembali ke rumah.

Menariknya, perilaku berbeda ini juga menyentuh pola konsumsi. Sebanyak 38 persen responden pernah membeli barang yang biasanya dianggap tidak perlu, semata karena terkait kenangan perjalanan. Namun ketika peluang wisata bermakna semakin besar, belanja barang pelan-pelan digeser oleh belanja pengalaman: tur kuliner, lokakarya seni, atau sesi meditasi yang membuat liburan terasa seperti reset emosi. Standar penggunaan waktu dan uang ikut berganti; wisatawan membangun "aturan liburan" sendiri yang menilai pengalaman sebagai cara paling layak memanfaatkan keterbatasan hari cuti dan tabungan perjalanan.

Dari Event ke Experience: Saat Destinasi Perlu Menjual Kualitas, Bukan Kuantitas

Jika turis modern lebih rela membayar pengalaman daripada barang, destinasi yang masih bertumpu pada pusat perbelanjaan jelas akan tertinggal. Otoritas pariwisata sudah membaca arah angin ini: pengembangan MICE didorong bergeser dari sekadar menghadirkan event menuju penciptaan pengalaman yang bernilai. Logikanya sederhana, tetapi tajam: semakin banyak wisata bermakna yang bisa ditawarkan di sekitar konferensi atau pameran, semakin lama turis akan tinggal dan semakin besar uang yang dibelanjakan di destinasi, bukan hanya di ruang acara.

Tren bleisure—perpaduan perjalanan bisnis dan rekreasi—menguatkan pergeseran ini. Perjalanan yang awalnya hanya untuk menghadiri rapat berubah menjadi kesempatan menambah satu atau dua hari untuk menikmati kuliner, atraksi, budaya, dan destinasi autentik di sekitar kota tujuan. Di sini, belanja bukan hilang, tetapi bergeser bentuk: dari mall ke warung lokal, dari suvenir massal ke karya pelaku ekonomi kreatif. Ketika penyedia atraksi, hotel, restoran, pelaku seni, dan komunitas lokal terhubung dalam satu ekosistem, pengalaman turis menjadi utuh dan belanja mengalir ke lebih banyak kantong penduduk, bukan berhenti di satu pusat retail.

Masa Depan Wisata: Ekosistem Pengalaman, Bukan Mass Tourism

Mengikuti logika pengalaman, masa depan wisata bukan lagi tentang memadati satu destinasi terkenal, melainkan membangun ekosistem pengalaman yang tersebar. Strategi yang dikembangkan otoritas pariwisata melalui program gastronomy, wellness, dan marine tourism menunjukkan arah ini: wisata pengalaman berkualitas harus berakar pada penghargaan terhadap budaya, alam, dan koneksi antarmanusia. Rencana penambahan wisata wastra serta seni budaya bukan sekadar variasi produk, melainkan upaya sadar menghindari jebakan mass tourism yang merusak kualitas pengalaman wisata bermakna dan menggerus lingkungan.

Pelaku industri perhotelan pun merespons dengan menguatkan aspek kualitas hidup. Salah satu grup hotel, misalnya, mulai fokus pada peningkatan kualitas tidur tamu dan menyiapkan fasilitas gym bernama Wanderlust Recovery Center untuk menjawab kebutuhan wisatawan bergaya hidup aktif. Arah ini sejalan dengan prediksi bahwa 1 dari 3 traveller akan membutuhkan gym dalam perjalanan. Kesimpulannya tegas: destinasi dan penyedia jasa yang berani beralih dari menjual kuantitas event dan shopping ke kualitas pengalaman akan menang dalam perebutan hati turis milenial dan Gen Z—generasi yang tidak lagi membeli barang, melainkan membeli versi diri yang lebih segar, lebih terhubung, dan lebih hidup.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!