Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

BRIN Menguji Kesiapan Darurat dan Keamanan Fasilitas Nuklir Serpong

BRIN Menguji Kesiapan Darurat dan Keamanan Fasilitas Nuklir Serpong
Minat|Realitas Virtual (VR)

Latihan darurat menguji kesiapan nyata

Kesiapsiagaan nuklir adalah kemampuan fasilitas dan personelnya untuk mengenali keadaan darurat, menjalankan respons yang terkoordinasi, dan membatasi dampak terhadap manusia serta lingkungan. Karena itu, latihan hanya bernilai jika menguji prosedur dan kemampuan mengambil tindakan di bawah tekanan. BRIN menggelar latihan terpadu di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong, yang berstatus Objek Vital Nasional dan memiliki fasilitas nuklir. Direktur Pengelolaan Fasilitas Ketenaganukliran BRIN, R. Mohammad Subekti, menyatakan latihan itu dimaksudkan untuk menguji standar operasional prosedur sekaligus menilai kesiapan personel menghadapi keadaan darurat. Langkah ini patut dipandang sebagai uji kerja sistem, bukan seremoni: prosedur yang tertulis belum membuktikan bahwa tim mampu menjalankannya ketika kebakaran, gangguan keamanan, atau kondisi berbahaya benar-benar terjadi.

Empat skenario, satu ukuran: koordinasi

Latihan darurat Serpong mencakup empat skenario: gangguan keamanan dan pengendalian massa; kebakaran fasilitas disertai penghentian operasi reaktor; sabotase dan pencurian zat radioaktif; serta lepasan zat radioaktif yang memerlukan dekontaminasi dan penanganan medis. Cakupan ini penting karena kesiapan tidak bisa dinilai hanya dari satu jenis insiden.

Pengujian juga menilai koordinasi antartim, proteksi kebakaran, keselamatan dan kesehatan kerja, pengamanan, kesiapan tim medis, serta program penanggulangan kedaruratan. Latihan mengacu pada Peraturan Kepala Bapeten Nomor 1 Tahun 2010 dan melibatkan pengamat dari Bapeten serta internal BRIN. Ukuran keberhasilannya bukan sekadar respons cepat, melainkan komunikasi yang jelas, pembagian tugas yang dipahami, dan kemampuan mencegah dampak meluas ke masyarakat sekitar. Itulah hubungan praktis antara latihan dan kesiapsiagaan nuklir BRIN.

Keamanan harus mencakup ancaman siber

Keamanan fasilitas nuklir tidak cukup mengandalkan penjagaan fisik dan kepatuhan pada prosedur. BRIN juga menyoroti kebocoran informasi, pencurian kekayaan intelektual, ancaman orang dalam, phishing, rekayasa sosial, peretasan akun, dan serangan terhadap jaringan sebagai risiko yang perlu diantisipasi. Ancaman siber nuklir bukan persoalan terpisah dari keselamatan fasilitas: kelalaian atau akses tanpa izin dapat mengganggu aset, informasi, dan kelangsungan kerja.

Dalam kegiatan penguatan budaya keselamatan dan keamanan organisasi riset tenaga nuklir di Jakarta pada Senin, 26 Oktober, Dany Mulyana dari Pusat Riset Teknologi Reaktor Nuklir BRIN menekankan keterlibatan seluruh personel. Pelatihan, kewaspadaan, pelaporan insiden, pembagian tanggung jawab yang jelas, dan evaluasi berkala perlu menjadi kebiasaan kerja. Ini pendekatan yang lebih masuk akal daripada menganggap keamanan sebagai tugas petugas tertentu saja. Kesalahan yang tampak bisa berakar pada kelelahan, tekanan kerja, pelatihan yang kurang, atau pengawasan yang lemah; memahami penyebabnya membantu organisasi mencegah pengulangan.

Uji rutin dan koordinasi menentukan langkah berikutnya

Latihan akan lebih bermakna bila temuan ditindaklanjuti. Evaluasi BRIN menyoroti pemeriksaan hidran, ketersediaan dan penggunaan alat pemadam api ringan, serta penyempurnaan prosedur untuk korban luka maupun orang yang diduga terkontaminasi. Koordinasi dengan kepolisian, TNI, pemerintah daerah, pemadam kebakaran, dan BPBD juga diperlukan agar respons tidak terputus ketika keadaan darurat melampaui batas fasilitas.

Rencana berikutnya mencakup latihan di area di luar garis kuning, skenario ancaman keamanan dan kebakaran yang melibatkan bahan kimia, serta jadwal berkala di berbagai laboratorium sesuai karakteristik risikonya. Peningkatan bertahap ini tepat, asalkan hasil penilaian benar-benar diterjemahkan menjadi perbaikan SOP dan kesiapan personel. Kesimpulannya, kesiapsiagaan nuklir bukan satu latihan atau satu lapis pagar: ia bergantung pada latihan berulang, sarana yang terawat, kerja lintas instansi, dan budaya keamanan yang mencakup ancaman fisik maupun digital.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!