Target besar membutuhkan andalan yang terbukti
Target juara PON adalah sasaran prestasi kontingen yang menuntut perolehan medali konsisten dari berbagai cabang, bukan sekadar kemenangan sesaat. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menargetkan Jakarta menjadi juara umum PON XXII 2028, yang akan digelar bersama Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, serta Jakarta. Sasaran ini ambisius, tetapi Jakarta punya alasan untuk bertumpu pada cabang akuatik: hasilnya pada edisi sebelumnya memberi bukti konkret bahwa cabang tersebut mampu menyumbang medali dalam jumlah besar. Pramono menyampaikan target itu saat menghadiri pelantikan pengurus Federasi Akuatik Indonesia DKI Jakarta periode 2026–2030 di Balai Kota pada akhir Oktober 2026. Namun, pengumuman target hanyalah awal. Agar gelar juara umum tidak berhenti sebagai slogan, Jakarta perlu menerjemahkan modal prestasi menjadi pembinaan dan persiapan yang terukur.
Raihan 2024 memberi dasar bagi optimisme
Pada PON XXI Aceh-Sumatra Utara 2024, cabang akuatik menyumbang 22 medali emas, 17 perak, dan 16 perunggu. Angka itu menjadikan akuatik salah satu penyumbang penting bagi prestasi olahraga Jakarta dan menjelaskan mengapa cabang ini masuk dalam daftar tumpuan untuk PON berikutnya. Pramono menyebut kontribusi tersebut luar biasa dan menempatkan akuatik sebagai salah satu harapan utama Jakarta untuk mengejar gelar juara umum. Jumlah medali akuatik PON dari edisi sebelumnya patut dibaca sebagai modal, bukan jaminan. Hasil 2024 menunjukkan potensi besar, tetapi mempertahankannya memerlukan atlet yang siap dan pembinaan yang berkesinambungan. Jakarta sebaiknya menggunakan capaian itu sebagai patokan kerja: menjaga kekuatan yang sudah ada sekaligus menyiapkan atlet baru agar kontribusi akuatik tetap berarti ketika persaingan kembali berlangsung.
Pembinaan harus menyusul janji
Pramono meminta pengurus baru memperkuat pembinaan dan menyiapkan atlet sejak dini. Ia juga meminta Federasi Akuatik Indonesia DKI Jakarta berkoordinasi dengan Dinas Pemuda dan Olahraga agar persiapan menuju PON 2028 berjalan optimal. Arahan ini tepat: hasil besar tidak lahir hanya dari mengandalkan catatan medali sebelumnya, melainkan dari kesinambungan persiapan. Dukungan penuh gubernur dapat menjadi pengungkit, tetapi ukuran keberhasilannya kelak adalah kesiapan atlet dan kemampuan organisasi menjalankan rencana. Karena itu, target juara umum perlu diikuti kerja bersama yang jelas antara pengurus cabang dan pemerintah daerah. Jika akuatik mempertahankan daya sumbangnya, Jakarta memiliki dasar kuat untuk mengejar target; jika tidak, capaian 2024 hanya akan menjadi kenangan yang tidak menjamin hasil berikutnya.
Jakarta juga menyatakan kesiapan mendukung penyelenggaraan PON 2028 bersama NTB dan NTT, dengan memanfaatkan fasilitas olahraga yang tersedia. Pramono menilai penggunaan fasilitas yang sudah ada penting untuk menekan biaya dan mencegah pembangunan sarana baru yang tidak terpakai setelah ajang selesai. Dengan demikian, Jakarta menghadapi dua pekerjaan sekaligus: mengejar prestasi dan membantu kelancaran penyelenggaraan. Kesimpulannya, akuatik layak menjadi tumpuan karena sudah memperlihatkan kontribusi medali yang nyata, tetapi gelar juara umum hanya mungkin dikejar jika modal tersebut disertai pembinaan dini, koordinasi, dan persiapan yang konsisten.






