Dari Kegiatan Pasif ke Budaya Literasi Komunitas yang Hidup
Program membaca nyaring dan pelatihan mengulas buku adalah rangkaian kegiatan literasi anak sekolah yang dirancang dalam komunitas untuk menumbuhkan minat baca, kepercayaan diri membaca, serta kemampuan berbicara dan berpikir kritis melalui interaksi langsung dengan buku, teman sebaya, dan fasilitator yang aktif memandu diskusi serta ekspresi lisan mereka. Di Kelurahan Salo, gagasan ini tidak berhenti di konsep; ia menjelma menjadi praktik rutin yang mengubah hubungan anak dengan buku. Mahasiswa KKN Tematik Literasi Universitas Hasanuddin Gelombang 116 menghadirkan program inovatif dan terstruktur sebagai bagian dari gerakan literasi di masyarakat. Alih-alih sekadar menyuruh anak membaca sendiri, mereka menciptakan ruang belajar yang hangat, interaktif, dan berbasis komunitas. Inilah arah baru budaya literasi komunitas: tidak elitis, tidak menakutkan, dan menempatkan suara anak sebagai pusat.
Program Membaca Nyaring: Panggung Aman untuk Melatih Suara Anak
Program membaca nyaring bukan sekadar ritual membacakan cerita; ia adalah panggung aman pertama bagi banyak anak untuk berlatih bersuara di depan orang lain. Mahasiswa KKN Tematik Literasi melaksanakan program kerja Membaca Nyaring sebanyak 11 kali pertemuan pada 9 Juli hingga 1 Agustus 2026 di empat lokasi dengan sasaran utama anak usia 7–12 tahun. Skala ini menunjukkan bahwa literasi anak sekolah bisa digerakkan secara sistematis di tingkat komunitas tanpa menunggu program besar dari pusat. Dengan intonasi lantang, ekspresif, dan komunikatif, fasilitator mengubah teks menjadi pengalaman bersama yang hidup. Tanya jawab, diskusi sederhana, dan penggunaan gerak tubuh membuat anak terlibat, bukan hanya duduk pasif. Ketika mereka mulai mencoba membaca nyaring secara bergantian, yang sedang dibangun bukan cuma kemampuan teknis membaca, tetapi keberanian sosial: berani salah, berani terdengar, dan berani dilihat teman.
Mengulas Buku: Latihan Berpikir Kritis yang Mengangkat Kepercayaan Diri
Jika membaca nyaring adalah pintu masuk, maka program "Mengulas Buku" adalah ruang latihan berpikir dan berbicara yang lebih dalam. Program ini berlangsung selama enam kali pertemuan, dari 9 Juli hingga 1 Agustus 2026, di Sudut Baca, UPT SDN 244 Pinrang, dan Posko KKN Tematik Literasi Kelurahan Salo dengan sekitar 25 anak di setiap kegiatan. Setiap sesi diawali membaca nyaring, lalu anak memilih buku sesuai minat, membaca mandiri, dan mengulasnya di depan kelompok. Mereka diminta menceritakan alur, mengenalkan tokoh, menyampaikan pesan moral, dan mengungkapkan pendapat di hadapan teman. Di sinilah kepercayaan diri membaca tumbuh: anak belajar bahwa pendapat mereka layak didengar, bahwa memahami teks bukan hak eksklusif “anak pintar”, dan bahwa berbicara di depan umum bisa terasa menyenangkan. Hadiah bagi yang berani tampil bukan sekadar gimmick; ia adalah sinyal kuat bahwa keberanian berargumen lebih dihargai daripada diam yang aman.

Ekosistem Literasi Berkelanjutan: Model KKN yang Layak Ditiru
Kekuatan utama inisiatif ini bukan hanya pada dua programnya, tetapi pada cara keduanya ditanamkan ke dalam ekosistem literasi komunitas. Program membaca nyaring merupakan bagian dari pelaksanaan KKN Tematik Literasi Gelombang 116 yang bermitra dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia untuk mendukung penguatan budaya literasi di masyarakat, sementara "Mengulas Buku" ikut mengoptimalkan pemanfaatan Taman Bacaan Masyarakat sebagai ruang belajar aktif dan inklusif. Kolaborasi dengan relawan literasi memperluas jejaring dukungan sehingga kegiatan tidak terpisah dari kehidupan warga, melainkan menjadi bagian dari rutinitas lokal. Model ini skalabel: mahasiswa KKN menyediakan tenaga kreatif, TBM menjadi basis ruang, sekolah dasar dan menengah menjadi penerima manfaat, dan komunitas memperkuat keberlanjutan. Seperti disampaikan koordinator kelurahan, program diharapkan menumbuhkan kepercayaan diri anak untuk membaca nyaring di depan temannya—dan pernyataan ini layak dibaca sebagai ajakan agar sekolah lain tidak takut menyalin pola kerja serupa.
Kesimpulan: Literasi Anak Sekolah Harus Berpusat pada Suara Mereka
Pengalaman di Kelurahan Salo mengajarkan satu hal penting: budaya literasi komunitas tidak akan kuat jika anak dibiarkan menjadi pembaca sunyi tanpa ruang untuk bersuara. Program membaca nyaring menempatkan mereka di tengah lingkaran, bukan di pinggir kelas; pelatihan mengulas buku memaksa mereka berpikir dan berpendapat, bukan hanya menghafal isi cerita. Di sini literasi anak sekolah dipahami sebagai kemampuan memahami, mengomunikasikan, dan memaknai teks bersama orang lain. Kita perlu berpihak pada pendekatan yang membangun kepercayaan diri membaca, bukan sekadar angka statistik kemampuan literasi. Inisiatif mahasiswa KKN menunjukkan bahwa dengan kreativitas dan kolaborasi, sekolah dasar dan komunitas bisa memiliki program literasi yang murah, terukur, dan berdampak nyata. Pertanyaannya sekarang bukan apakah model ini berhasil, tetapi apakah kita mau menjadikannya norma baru, bukan pengecualian.






