Martha Tilaar: Pelopor Skincare Lokal yang Menjadikan Tradisi sebagai Masa Depan
Martha Tilaar adalah pelopor skincare lokal yang mengubah kosmetik herbal tradisional berbasis jamu dan ramuan Nusantara menjadi industri kecantikan modern berkelas internasional, melalui merek Martha Tilaar Sariayu dan ekosistem usaha yang memadukan kearifan lokal dengan ilmu kosmetik kontemporer.
Sulit membicarakan kosmetik herbal tradisional tanpa menyebut nama Martha Tilaar. Tokoh kelahiran 4 September 1937 di Gombong, Jawa Tengah, ini dikenal sebagai pendiri sekaligus pelopor kosmetik lokal yang populer lewat merek Sariayu. Ia wafat pada Rabu, 14 Oktober 2026, dalam usia 89 tahun, meninggalkan empat anak dan sebuah warisan gagasan yang mengubah cara kita memandang kecantikan. Alih-alih meniru tren luar, Martha memilih jalan yang lebih berani: menjadikan jamu, rempah, dan ritual perawatan tradisional sebagai fondasi utama bisnisnya. Keputusan inilah yang, menurut saya, membuatnya bukan sekadar pengusaha, melainkan arsitek gerakan kecantikan berbasis local wisdom.

Dari Garasi Menteng ke Sariayu: Saat Tradisi Masuk ke Laboratorium
Perjalanan Martha Tilaar membuktikan bahwa inovasi bahan alami bisa lahir dari ruang sesempit garasi. Tahun 1970, ia membuka Martha Salon di garasi rumah orang tuanya di Menteng, lalu dua tahun kemudian mendirikan Martha Griya Salon yang mulai menawarkan perawatan tradisional berbasis tanaman herbal. Di titik ini, ia mengambil sikap penting: tradisi bukan sekadar pelengkap layanan spa, tetapi sumber pengetahuan yang layak diteliti dan distandardisasi.
Tonggak besar terjadi pada 1977 ketika ia bersama mitra mendirikan PT Martina Berto dan meluncurkan merek Sariayu, yang secara eksplisit dibangun untuk mengangkat tradisi perawatan kecantikan perempuan Nusantara, termasuk pengetahuan bahan alami dan ramuan herbal. Martha mempelajari manuskrip kuno Keraton Yogyakarta untuk memahami resep dan filosofi di balik ritual kecantikan Jawa, lalu membawanya ke laboratorium modern. Di sinilah Sariayu menjadi lebih dari sekadar brand: ia menjembatani dunia jamu dapur dan standar kosmetik internasional melalui inovasi bahan alami yang terukur dan teruji.
Membangun Ekosistem Kosmetik Herbal yang Berkelanjutan
Keberanian Martha Tilaar tidak berhenti pada peluncuran produk. Ia memahami bahwa pelopor skincare lokal sejati harus membangun ekosistem, bukan hanya merek. Dari salon kecil, bisnisnya tumbuh menjadi kelompok usaha yang menaungi berbagai lini kosmetik, layanan kecantikan, dan pendidikan profesional. Pendirian Puspita Martha sebagai lembaga pendidikan kecantikan nonformal menunjukkan bahwa ia melihat tenaga terampil sebagai bagian penting dari keberlanjutan industri.
Langkah awal menerapkan perawatan tradisional berbasis tanaman obat di Martha Griya Salon menjadi batu pijakan lahirnya industri kecantikan modern berbasis kearifan lokal. Dari situ, PT Martina Berto mendirikan fasilitas produksi di kawasan industri Pulogadung pada 1981, yang kemudian berkembang menjadi dua pabrik besar di awal 1980-an. Menurut catatan resmi, "langkah tersebut menjadi batu pijakan penting bagi lahirnya industri kecantikan modern berbasis kearifan lokal". Di luar keuntungan bisnis, kepedulian Martha meliputi pelestarian budaya, pengembangan pengetahuan herbal, pendidikan, dan pemberdayaan perempuan, menjadikan ekosistem kosmetik herbal nasional lebih berakar dan berkelanjutan.
Local Wisdom sebagai DNA Inovasi Skincare Lokal
Warisan terbesar Martha Tilaar, menurut saya, bukan hanya produk, tetapi cara pandang: local wisdom bukan tren musiman, melainkan DNA inovasi. Sariayu dibangun dengan identitas yang jelas, menggabungkan kearifan lokal dengan riset dan teknologi kosmetik modern. Ia konsisten mengangkat kekayaan alam dan budaya Nusantara sebagai inspirasi utama, memadukan bahan-bahan alami dengan pengetahuan kosmetik modern untuk perawatan kulit, tata rias, hingga perawatan tubuh.
Lewat dedikasi yang konsisten, ia berhasil mengangkat jamu dan ramuan herbal Nusantara hingga diakui di tingkat nasional maupun internasional. Filosofi ini kini terasa dalam gelombang baru brand skincare lokal yang mengusung kosmetik herbal tradisional sebagai nilai jual utama. Bedanya, Martha sudah lebih dulu menunjukkan bahwa klaim natural harus ditopang pendidikan, riset, dan standardisasi. Di era ketika label "alami" sering dipakai sekadar sebagai gimmick, warisan Martha menjadi pengingat: inovasi bahan alami yang bertahan lama lahir dari riset serius dan penghormatan pada pengetahuan leluhur, bukan dari kemasan cantik semata.
Warisan yang Terus Hidup di Setiap Botol Skincare Lokal
Martha Tilaar membuktikan bahwa kosmetik herbal tradisional bisa berdiri sejajar dengan produk global tanpa meninggalkan akar budaya. Ia memulai dari garasi, menempuh pendidikan kecantikan di Amerika Serikat, lalu kembali untuk membangun industri yang berpihak pada alam dan pengetahuan lokal. Penghargaan internasional seperti The Outstanding Contribution 2000–2010 dan SDG Pioneer 2018 dari United Nations Global Compact, serta Bintang Budaya Parama Dharma dari pemerintah, menegaskan bahwa pendekatannya diakui dunia.
Bagi pelaku dan pencinta skincare lokal hari ini, warisan Martha adalah kompas moral: gunakan bahan alami dengan tanggung jawab, hormati tradisi dengan riset, dan bangun bisnis yang menguatkan ekosistem, bukan hanya neraca laba. Setiap kali kita melihat label yang mengklaim diri sebagai pelopor skincare lokal berbasis bahan alami, pertanyaan pentingnya adalah: apakah filosofi local wisdom yang ia perjuangkan benar-benar hidup di balik formulanya, atau berhenti di slogan? Di situlah, menurut saya, nama Martha Tilaar akan terus menjadi standar pembanding.






