Ketangguhan dimulai dari budaya meminta bantuan
Ketahanan mental mahasiswa adalah kemampuan menghadapi tekanan, mencari pertolongan ketika dibutuhkan, lalu pulih dan bangkit tanpa menganggap kesulitan sebagai tanda kelemahan. Pengertian ini penting karena kesejahteraan psikologis tak bisa dipisahkan dari pengalaman belajar sehari-hari. Pada 15 Oktober, Wakil Rektor Universitas Pattimura, Dr. Nur Aida Kubangun, menyampaikan pesan tersebut saat membuka talkshow tentang mengatasi kecemasan dan menemukan ritme diri di kampusnya. Ia mengingatkan bahwa tekanan mahasiswa datang dari tuntutan akademik, persoalan ekonomi, keluarga, pergaulan, hingga kecemasan akan masa depan. Talkshow hasil kolaborasi kampus dengan Mata Garuda Maluku itu menghadirkan dosen kedokteran Bertha Jean Que, psikiater Sherly Yakobus, dan psikolog Febry Elizabet Wattimena. Susunan narasumber ini memperlihatkan bahwa dukungan psikologis universitas perlu lebih mudah dijangkau dan disertai upaya mengurangi stigma. Resiliensi mahasiswa tumbuh bukan dengan menutup masalah, melainkan dengan lingkungan yang mendorong kepedulian dan keberanian meminta bantuan.

Kuliah umum perlu menjadi awal, bukan garis akhir
Pascasarjana Universitas Jambi menempatkan kesehatan mental dalam pembahasan keberhasilan akademik melalui kuliah umum bagi mahasiswa magister dan doktoral. Direktur Pascasarjana, Muazza, menyoroti perubahan iklim pendidikan tinggi, persaingan akademik, dan percepatan teknologi sebagai faktor yang memengaruhi kondisi emosional mahasiswa. Ia juga mengaitkan kondisi mental yang sehat dengan prestasi belajar, hubungan interpersonal, dan kemampuan beradaptasi di kampus. Ini langkah yang masuk akal: program kesehatan kampus seharusnya tidak menunggu mahasiswa berada dalam krisis sebelum membicarakan kesejahteraan mereka. Namun, kuliah umum hanya bermanfaat jika menjadi pintu menuju dukungan yang berkelanjutan—misalnya lingkungan yang aman untuk bercerita dan akses bantuan yang jelas. UNJA menyatakan ingin membangun ekosistem belajar kondusif dengan menempatkan kesehatan mental sebagai unsur keberhasilan akademik. Tantangan berikutnya adalah memastikan perhatian itu terasa dalam pengalaman mahasiswa, bukan berhenti sebagai pesan di ruang kuliah.

Perangkat digital membuka jalur pencegahan baru
Inovasi mahasiswa Universitas Airlangga menunjukkan bagaimana aplikasi intervensi digital dapat melengkapi, bukan menggantikan, layanan profesional. Tim Behavix meraih medali perak dalam International Science and Invention Fair ke-8; presentasi berlangsung 15 Oktober dan penghargaan diumumkan 17 Oktober 2026. Platform itu dirancang untuk membantu remaja mengenali pola perilaku, meningkatkan regulasi diri, dan memahami risiko perilaku seksual kompulsif. Sebelum merancangnya, tim mengumpulkan masukan dari sekitar 300 responden serta melakukan wawancara di dua sekolah di Lamongan. Fitur check-in harian, jurnal, dan pelacakan progres memungkinkan pengguna merefleksikan kebiasaan dan memantau perubahan. Behavix berbentuk aplikasi web progresif yang dapat diakses melalui peramban, dengan akun berbasis nama pengguna serta fitur pencadangan dan pemulihan data. Tim menegaskan platform ini bukan pengganti psikolog. Mereka berencana menyempurnakannya, mempertimbangkan persetujuan etik, dan mengembangkan aplikasi untuk diajukan ke Google Play.

Standar kampus sehat mengubah komitmen menjadi evaluasi
Kuliah dan aplikasi pencegahan akan sulit berdampak luas tanpa kebijakan serta infrastruktur yang mendukungnya. Universitas Airlangga kembali mempertahankan peringkat bintang lima dalam Healthy University Rating System yang diinisiasi ASEAN University Network-Health Promotion Network. Penilaian tersebut bukan akreditasi khusus kesehatan mental, melainkan evaluasi kampus sehat yang mencakup kebijakan, fasilitas, lingkungan belajar, perilaku, dan promosi kesehatan. Sistem yang diperbarui pada 2025 menggunakan 46 indikator dan skor maksimal 1.000 poin. Kriterianya meliputi sistem dan infrastruktur, perlindungan dari perilaku yang membahayakan kesehatan, serta promosi kesehatan. Nilai utamanya terletak pada fungsi evaluasi: hasilnya dapat mengungkap kekurangan dan membantu kampus menentukan prioritas pembenahan, dengan tindak lanjut melalui koordinasi unit terkait bila diperlukan. Bintang lima bukan bukti bahwa seluruh masalah telah selesai. Namun, standar yang menuntut penilaian dan perbaikan memberi program kesehatan kampus pijakan kelembagaan. Ketahanan mental mahasiswa akan lebih terjaga ketika edukasi, akses bantuan, dan lingkungan sehat berjalan sebagai satu sistem.






