Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Festival Gemblong dan Kintelan: Jajanan Lokal Naik Kelas

Festival Gemblong dan Kintelan: Jajanan Lokal Naik Kelas
Minat|Makanan Kaki Lima

Dari Jajanan Terlupakan ke Ikon Ekonomi Lokal

Festival kuliner tradisional adalah perayaan komunitas yang menjadikan jajanan warisan budaya bukan sekadar makanan, tetapi simbol identitas, sarana penguatan UMKM kuliner lokal, dan alat pelestarian makanan nusantara melalui ruang temu antara warga, pelaku usaha, dan pemerintah desa dalam satu ekosistem sosial-ekonomi yang saling menguatkan. Di Klaten dan Jepara, transformasi itu tampak jelas: gemblong dan kintelan yang dulu dipandang sebagai kudapan rumahan pelengkap ritual kini diperlakukan sebagai aset strategis. Ini bukan nostalgia massal, melainkan strategi sadar untuk mengangkat pangan lokal ke panggung utama. Ketika warga berani menjadikan jajanan tradisional sebagai tema festival, pesan yang dikirim jelas: masa depan ekonomi desa tidak harus bergantung pada produk modern; akar kuliner sendiri bisa menjadi motor perubahan.

Festival Gemblong dan Kintelan: Jajanan Lokal Naik Kelas

Festival Gemblong Klaten: Merdeka dengan Singkong dan Gotong Royong

Festival gemblong klaten tidak lahir dari agenda besar pemerintah, melainkan dari semangat kemerdekaan yang masih terasa di RT 21 Desa Tlogo, Prambanan, Klaten, saat warga menggelar Festival Gemblong #4 dan pentas seni pada Sabtu 29 Agustus 2026 malam sebagai puncak rangkaian HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Gemblong—olah ketela yang jejaknya ditarik hingga era Mataram Kuno—dijadikan ikon utama, lengkap dengan arak-arakan gunungan yang dilepas secara resmi oleh kepala desa. Yang menarik, sekitar 200 warga dari 70 kepala keluarga terlibat langsung dalam persiapan dan pelaksanaan festival ini. Ini bukan sekadar keramaian musiman; ini laboratorium sosial untuk membangun ekonomi berbasis hasil bumi. Kepala desa secara terang menyebut target ke depan: kegiatan ini dikembangkan menjadi penggerak ekonomi UMKM berbasis bahan lokal.

Logika festival ini jelas: ketika singkong diangkat dari halaman belakang ke panggung utama, warga mendapat alasan baru untuk merawat tanaman, memperkaya resep, dan menjual produk. Ketua panitia menegaskan bahwa festival bukan sekadar acara untuk berkumpul dan bersenang-senang, tetapi upaya mempererat silaturahmi, menjaga kerukunan, dan melestarikan makanan serta budaya lokal sebagai identitas masyarakat. Di sini, festival kuliner tradisional menjadi jawabannya ketika desa membutuhkan sekaligus ruang hiburan dan mekanisme pelestarian. Warga tidak menunggu investor; mereka mengorganisasi diri secara swadaya, mengundang perangkat desa lain, dan menjadikan gemblong sebagai simbol kebanggaan baru yang berpotensi menular ke desa sekitar.

Festival Gemblong dan Kintelan: Jajanan Lokal Naik Kelas

Kintelan Tegalsambi: Dari Sedekah Bumi ke Warisan Budaya Tak Benda

Jika Klaten mengangkat singkong, Tegalsambi di Jepara mempertaruhkan masa depan ketan lewat kintelan. Kintelan, makanan tradisional khas Desa Tegalsambi, selangkah lagi menuju penetapan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia 2026. Dulunya, jajanan berbahan ketan yang dimaknai sebagai "ngeraketke ikatan" ini hanya muncul setahun sekali saat sedekah bumi, ketika warga pulang kampung dan desa merayakan hubungan dengan tanah. Kini, Pemerintah Desa Tegalsambi bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jepara mengikuti proses penilaian oleh tim pusat dan telah melewati tahapan verifikasi melalui sidang daring di Jakarta. Ini menandai pergeseran penting: jajanan warisan budaya tidak lagi diperlakukan sebagai pelengkap upacara, tetapi sebagai objek kebijakan. Petinggi desa secara terbuka berharap kintelan menyusul Perang Obor Tegalsambi yang ditetapkan sebagai WBTb pada 2020.

Transformasi kintelan tidak berhenti pada status simbolik. Seiring ditetapkannya Tegalsambi sebagai desa wisata pada 2020, keberadaan kintelan mulai dikembangkan lebih luas. Jika sebelumnya hanya dibuat menjelang sedekah bumi, kini kintelan diproduksi secara rutin untuk memenuhi permintaan masyarakat dan wisatawan. Secara praktis, ini berarti perempuan dan keluarga yang dulu membuat kintelan hanya untuk ritual kini memiliki peluang usaha baru yang stabil. Menariknya, hampir seluruh warga disebut memiliki kemampuan membuat kintelan; dengan sedikit dukungan teknis dari dinas pariwisata dan kebudayaan, desa sudah punya basis produksi massal tanpa harus mengimpor tenaga ahli. Di sini terlihat bagaimana pelestarian makanan nusantara dan pengembangan desa wisata saling menguatkan: resep tradisional menjadi komoditas, sementara status desa wisata memberi arus pembeli yang konsisten.

Dampak Nyata bagi Warga: Identitas, Persatuan, dan UMKM Kuliner Lokal

Baik gemblong maupun kintelan menunjukkan bahwa festival kuliner tradisional punya dampak langsung pada kehidupan sehari-hari warga. Di Tlogo, festival disebut sebagai sarana mempererat semangat persatuan, gotong royong, cinta tanah air, sekaligus melestarikan budaya dan kesenian serta menumbuhkan semangat kebersamaan. Ketika warga turun ke jalan mengarak gunungan gemblong, mereka bukan hanya memamerkan makanan, tetapi memperkuat jaringan sosial yang menjadi fondasi UMKM kuliner lokal. Di Tegalsambi, produksi kintelan yang kini rutin untuk memenuhi permintaan masyarakat dan wisatawan mengubah ritual sedekah bumi menjadi pintu masuk ekonomi skala rumah tangga.

Secara ekonomi, langkah pemerintah desa Tlogo yang menargetkan festival sebagai penggerak UMKM berbasis bahan lokal menunjukkan kesadaran baru: warisan kuliner dapat menjadi strategi pembangunan yang murah dan dekat dengan realitas warga. Tidak perlu pabrik besar; cukup resep turun-temurun, bahan yang tersedia di pekarangan, dan momentum festival. Di Tegalsambi, kolaborasi pemerintah desa dengan dinas pariwisata dan kebudayaan memperluas pasar kintelan hingga ke wisatawan. Ini pelajaran penting: ketika jajanan tradisional diberi status resmi dan panggung festival, nilai jualnya naik, dan warga memiliki alasan kuat untuk terus memproduksi dan mengajarkannya pada generasi muda.

Kesimpulan: Masa Depan Makanan Nusantara Ada di Festival Desa

Gemblong dan kintelan menunjukkan satu hal: pelestarian makanan nusantara tidak akan bertahan dengan sekadar dokumentasi di buku resep; ia hidup lewat festival, arak-arakan, dan loyang yang terus dipanaskan di dapur warga. Dengan menjadikan gemblong sebagai ikon, warga Tlogo berharap makanan dari singkong ini terus lestari dan menjadi identitas kuliner sekaligus potensi ekonomi baru di kalurahan mereka. Tegalsambi menempuh jalur formal lewat pengajuan kintelan sebagai warisan budaya tak benda, dan kini tinggal menunggu hasil penetapan setelah proses verifikasi pusat.

Ke depan, tantangannya bukan lagi mencari legitimasi, tetapi menjaga agar festival tidak tergelincir menjadi sekadar atraksi turis yang kehilangan ruh lokal. Desa-desa lain yang ingin meniru pola Tlogo dan Tegalsambi perlu menyadari: kekuatan festival kuliner tradisional terletak pada partisipasi warga, kedekatan dengan tradisi, dan penempatan UMKM kuliner lokal sebagai pemain utama—not dekorasi tambahan. Jika tiga unsur itu dijaga, maka jajanan warisan budaya tidak akan punah; ia akan terus berevolusi, dari piring upacara ke rak dagangan, tanpa kehilangan makna.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!