Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Trainee hingga Superstar: Always LALISA dan Harga Sebuah Mimpi

Dari Trainee hingga Superstar: Always LALISA dan Harga Sebuah Mimpi
Minat|Penyanyi/Band Pop

Always LALISA: Sebuah potret jujur tentang harga menjadi bintang

Dokumenter Always LALISA adalah film yang menyorot perjalanan panjang perjalanan trainee Lisa, disiplin keras YG Entertainment, dan kebangkitannya sebagai solois sekaligus anggota BLACKPINK yang tetap setia pada grup, sambil membuka sisi manusiawi tentang mimpi dan kehidupannya di luar panggung. Dokumenter ini bukan sekadar kilas balik nostalgia; ia adalah pernyataan personal tentang harga yang harus dibayar seorang gadis 13 tahun yang mengalahkan sekitar 4.000 peserta audisi untuk masuk YG Entertainment dan menjadi trainee asing pertama di perusahaan itu. Always LALISA menunjukkan bahwa glamor panggung K-pop dibangun di atas lima tahun hidup di ruang latihan, penilaian bulanan, dan ancaman eliminasi yang konstan. Film ini, yang sempat diputar di sebuah festival film sebelum rilis bioskop pada 12 Oktober, menempatkan penonton di titik persimpangan penting: saat Lisa mulai mengklaim kebebasan kreatifnya sebagai solois pada 2024.

Dari Trainee hingga Superstar: Always LALISA dan Harga Sebuah Mimpi

Lima tahun masa trainee: disiplin YG sebagai mesin dan saringan mimpi

Perjalanan trainee Lisa adalah kombinasi kejam antara mimpi besar dan aturan ketat. Di usia 13 tahun, ia pindah dari rumahnya ke Korea Selatan, mempelajari percakapan bahasa Korea hanya dalam enam bulan sebelum tenggelam dalam lima tahun pelatihan nyaris tanpa henti di ruang latihan. Setiap bulan, ia dan para trainee lain harus tampil di depan manajemen, sadar bahwa satu penilaian buruk bisa berarti eliminasi. Daftar aturan YG Entertainment disiplin panjang: dilarang minum alkohol, dilarang berpacaran, dilarang keluar tanpa izin, dan setiap aktivitas dipantau. Ironisnya, Lisa menyamakan hidup di bawah kontrol itu seperti sekolah berasrama, menandakan betapa cepatnya ia menormalisasi tekanan tersebut. "Di usia 13 tahun, mengalahkan ribuan pelamar, ia menjadi trainee asing pertama di YG Entertainment" adalah fakta yang menegaskan betapa awal dan besar risiko yang ia ambil. Namun, menyaksikan teman-teman yang pulang karena gagal bertahan meninggalkan luka yang juga menempa ketahanannya.

Dari panggung BLACKPINK ke panggung dunia: identitas ganda Lisa

Debut bersama BLACKPINK setelah lima tahun pelatihan ketat mengubah Lisa menjadi bintang global, tetapi Always LALISA menunjukkan bahwa cerita besarnya baru bermula ketika ia mulai membangun karier solo Lisa BLACKPINK. Baru pada 2024, saat memulai karier solo, Lisa mengaku akhirnya merasakan kebebasan untuk memutuskan apa yang ia cintai dan ingin ia lakukan. Dalam waktu singkat, ia merilis album solo Alter Ego, tampil di panggung Academy Awards, melakukan debut akting di The White Lotus, hingga berdiri di panggung Coachella sebagai dirinya sendiri, bukan hanya sebagai bagian dari grup. Keputusan bersolo karier lahir dari kelelahan tur yang tak henti; ia mengambil jeda, lalu justru memilih tantangan baru: melihat sampai sejauh mana ia bisa melangkah tanpa payung perusahaan dan tanpa tiga anggota lain di sampingnya. Menariknya, ia menyebut fase awal kebebasan ini menakutkan karena untuk pertama kalinya tidak ada yang memberi tahu apa yang harus dilakukan.

Kebebasan, tekanan, dan janji untuk tetap menjadi bagian dari BLACKPINK

Always LALISA menjelaskan bahwa kebebasan datang dengan harga baru: kecemasan dan tekanan publik. Lisa kini berhadapan dengan lebih dari 100 juta pengikut di Instagram dan serbuan komentar negatif yang mengiringi setiap langkahnya. Ia mengakui sempat tertekan, namun setelah sepuluh tahun di industri, ia memilih fokus pada dirinya sendiri: selama ia tahu apa yang ia lakukan dan siapa dirinya, itu cukup. Di balik layar, dokumenter ini juga menyentuh momen sensitif: video masa trainee yang bocor, berisi rap dengan bahasa rasis, ancaman pembunuhan, dan keterbatasan bicara karena kebijakan perusahaan. Alih-alih defensif, Lisa meminta maaf dan menjelaskan konteks didikannya, memperlihatkan kedewasaan yang jarang terlihat pada idol muda. Sementara setelah tur BLACKPINK selesai, para anggota memilih fokus pada aktivitas solo, Lisa menegaskan bahwa mereka masih rutin mendiskusikan masa depan grup dan menolak narasi bubar.

Mimpi keluarga dan masa depan: Lisa sebagai manusia, bukan hanya ikon

Bagian paling menyentuh dari dokumenter Always LALISA adalah ketika Lisa berbicara tentang mimpi di luar panggung: keinginannya memiliki keluarga dan kedekatannya dengan anak-anak. Ia mengakui bahwa selama bertahun-tahun hidupnya hanya tentang pekerjaan, dan mimpi sederhana itu tertunda karena jadwal dan aturan kerja yang mengikat. "Saya sangat menyayangi anak-anak. Kita adalah manusia, dan hidup tidak bisa hanya tentang pekerjaan" adalah kalimat yang meruntuhkan jarak antara idol dan penggemar, menjadikannya sosok yang bisa disimak, bukan sekadar disembah. Menariknya, di tengah semua rencana individu, Lisa menyatakan ia ingin tetap menjadi bagian dari BLACKPINK bahkan ketika berusia 50 tahun. Setelah tur grup berakhir dan tiap anggota memasuki fase solo, keempatnya masih berkomitmen untuk terus bersama dan membicarakan masa depan BLACKPINK, memperlihatkan bahwa identitas solo dan grup tidak harus saling meniadakan. Always LALISA, pada akhirnya, adalah ajakan melihat Lisa bukan hanya sebagai produk K-pop, tetapi sebagai manusia yang belajar menyeimbangkan ambisi, kebebasan, dan kehangatan rumah.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!