Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Strategi Linkage Tourism Kepri: Batam Sebagai Gateway Utama

Strategi Linkage Tourism Kepri: Batam Sebagai Gateway Utama
Minat|Destinasi Luar Negeri

Linkage Tourism: Dari Angka 4,5 Juta Menuju Nilai Kunjungan yang Lebih Tinggi

Linkage tourism adalah strategi pengembangan wisata yang menghubungkan beberapa destinasi dalam satu rangkaian perjalanan terintegrasi, sehingga wisatawan tidak berhenti di satu titik kunjungan saja, melainkan bergerak dari satu kota atau pulau ke lokasi lain, yang pada akhirnya memperpanjang lama tinggal, memperbesar belanja wisata, dan menyebarkan manfaat ekonomi ke lebih banyak pelaku usaha lokal di berbagai daerah tujuan. Di Kepulauan Riau, konsep ini bukan lagi wacana, melainkan jawaban atas paradoks: kunjungan wisata sudah menembus 4,5 juta orang pada Januari–Agustus 2026, tetapi nilai dan sebaran manfaatnya masih bisa jauh ditingkatkan melalui desain perjalanan yang lebih cerdas dan terhubung.

Gubernur Ansar Ahmad membaca situasi ini dengan cukup tajam. Lonjakan kunjungan—3.145.849 wisatawan nusantara dan 1.451.609 wisatawan mancanegara dalam delapan bulan pertama 2026—menunjukkan wisata Kepulauan Riau sudah menarik perhatian pasar. Namun tanpa linkage tourism Batam yang kuat, wisatawan cenderung berhenti di satu kota, menghabiskan sedikit waktu, dan meninggalkan sedikit jejak ekonomi. Fokus kebijakan seharusnya bergeser dari sekadar mengejar angka kedatangan menuju mengelola arus pergerakan wisatawan lintas pulau agar nilai tambahnya berlipat.

Strategi Linkage Tourism Kepri: Batam Sebagai Gateway Utama

Batam sebagai Gateway: Mengalirkan Wisatawan ke Bintan, Tanjungpinang, Penyengat, dan Karimun

Batam sudah lama menjadi pintu masuk utama pariwisata Kepri mancanegara, terutama dari Singapura, Malaysia, Tiongkok, India, dan Filipina. Namun selama ini, posisi itu lebih banyak dimaknai sebagai terminal kedatangan, bukan sebagai hub distribusi wisatawan ke pulau-pulau lain. Strategi baru yang didorong Ansar Ahmad mengubah logika tersebut: wisatawan yang tiba di Batam diarahkan melanjutkan perjalanan ke destinasi wisata Bintan, Tanjungpinang, Pulau Penyengat, Karimun, dan destinasi unggulan lain.

Secara ekonomi, pendekatan ini masuk akal. Setiap tambahan satu malam menginap berarti peluang lebih besar bagi hotel, transportasi laut dan darat, kuliner lokal, jasa perjalanan, hingga UMKM untuk mendapat pendapatan baru. Di sisi pengalaman, wisata Kepulauan Riau menjadi paket lengkap: wisata bahari di Bintan, kota sejarah di Tanjungpinang, jejak budaya di Pulau Penyengat, hingga aktivitas bisnis dan belanja di Batam. Tantangannya, pemerintah dan pelaku usaha harus berani merancang rute lintas pulau yang praktis, jelas, dan terjadwal, bukan sekadar menumpuk brosur di meja hotel.

ASITA Travel Mart: Dari Ruang Pamer Menjadi Dapur Paket Terintegrasi

Asita Kepri Travel Mart VII 2026 di Batam adalah momentum uji coba paling nyata bagi konsep linkage tourism Batam. Di ballroom sebuah hotel di kota ini, pemerintah dan pelaku industri bertemu bukan hanya untuk mempromosikan destinasi, tetapi untuk menyusun ulang cara menjual Kepri ke pasar domestik dan mancanegara. Menurut Gubernur Ansar, kegiatan ini harus menjadi ruang promosi bagi pelaku industri untuk memperkenalkan produk wisata dan membangun peluang kerja sama bisnis lintas negara dan daerah.

Ketua DPD ASITA Kepri, Eva Betty Siahaan, menegaskan bahwa Travel Mart dirancang mempertemukan pelaku usaha perjalanan dengan mitra potensial, termasuk agen perjalanan dari mancanegara. Lebih dari 62 tenant, buyers, dan sellers dari berbagai daerah dan sejumlah negara terlibat dalam ajang ini. Di sinilah seharusnya paket wisata terintegrasi lahir: bukan lagi menjual Batam atau destinasi wisata Bintan secara terpisah, tetapi paket lintas pulau yang menggabungkan bahari, belanja, dan warisan budaya Melayu dalam satu itinerary yang mudah dijual dan dijalankan.

Mengangkat Warisan Melayu dan Memperluas Promosi ke Pasar Global

Tema Travel Mart, “Bringing Malay Heritage of the Riau Islands to the World”, menunjukkan arah yang tepat: wisata Kepulauan Riau tidak boleh hanya dijual sebagai laut biru dan resort, tetapi sebagai rumah warisan budaya Melayu yang hidup. Pulau Penyengat dan Tanjungpinang punya modal narasi sejarah, sastra, dan religi yang kuat. Jika digabung dengan destinasi bahari dan urban, Kepri bisa menawarkan pengalaman yang lebih kaya dibanding paket pantai generik di tempat lain.

Namun agar pariwisata Kepri mancanegara tumbuh, promosi tidak bisa berhenti di satu event. Pemerintah dan ASITA didorong menjadi mitra strategis jangka panjang: mengembangkan paket wisata terintegrasi, memperluas jaringan pemasaran, dan membangun kemitraan usaha lintas negara. Keterlibatan buyers dan sellers dari berbagai negara di Travel Mart diharapkan meningkatkan eksposur Kepri di pasar internasional dan membuka peluang kemitraan konkret. Tantangan berikutnya adalah konsistensi: hadir di lebih banyak bursa pariwisata global, memperkuat pemasaran digital, dan memastikan cerita tentang Kepri tersaji dalam bahasa dan format yang dipahami pasar dunia.

Kesimpulan: Dari Hitung Kepala ke Hitung Nilai

Kunjungan 4,5 juta wisatawan ke Kepri adalah pencapaian, tetapi bukan tujuan akhir. Tanpa linkage tourism yang kuat, angka itu hanya statistik di podium pidato. Menjadikan Batam sebagai gateway yang mengalirkan wisatawan ke Bintan, Tanjungpinang, Pulau Penyengat, Karimun, dan destinasi lain adalah langkah strategis untuk mengubah kuantitas menjadi kualitas kunjungan.

Kuncinya ada pada tiga hal: paket lintas pulau yang konkret, promosi global yang konsisten, dan kemitraan erat antara pemerintah, ASITA, dan pelaku usaha. Jika tiga hal ini berjalan, wisata Kepulauan Riau akan bergerak dari sekadar pintu masuk cepat ke kawasan transit yang kaya pengalaman, di mana setiap pulau mendapat bagian yang adil dari kue pariwisata.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!