Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Festival Mustika Rasa: Mustika Baru Warisan Kuliner Nusantara

Festival Mustika Rasa: Mustika Baru Warisan Kuliner Nusantara
Minat|Makanan Kaki Lima

Festival Mustika Rasa: Lebih dari Sekadar Festival Kuliner Tradisional

Festival Mustika Rasa adalah festival kuliner tradisional yang menghadirkan sekitar 100 stan UMKM kuliner lokal di Alun-Alun Kidul Yogyakarta selama dua hari, menggabungkan pelestarian warisan kuliner Nusantara, penguatan kedaulatan pangan, dan pengembangan ekonomi rakyat dalam satu ruang publik yang terbuka dan inklusif.

Inti dari Festival Mustika Rasa bukan sekadar keramaian akhir pekan, tetapi pernyataan sikap: kuliner jalanan dan masakan rumahan layak mendapat panggung utama, bukan hanya jadi pelengkap pariwisata. Digelar pada Sabtu–Minggu, 29–30 Agustus 2026, festival ini memadukan senam massal, pameran kuliner, edukasi kesehatan, hingga aksi solidaritas sosial. Di balik aroma bika singkong dan sate kere, ada pesan politik pangan yang kuat: kemandirian bahan baku lokal adalah bentuk kedaulatan, bukan romantisme masa lalu.

100 UMKM Kuliner Lokal: Saat Pedagang Makanan Jalanan Naik Kelas

Sekitar 100 stan UMKM dari berbagai daerah Nusantara memadati Alun-Alun Kidul selama akhir pekan festival. Di sini, pedagang makanan jalanan yang biasanya tersebar di gang dan trotoar, terkonsolidasi dalam satu festival kuliner tradisional yang terkurasi. Mereka bukan sekadar “penjaja kaki lima”, tetapi pelaku ekonomi rakyat yang membawa identitas rasa masing-masing daerah. Dari penganan sederhana berbahan singkong hingga olahan koyor ala sate kere, kreativitas mereka menunjukkan bahwa kelezatan tidak selalu bertumpu pada bahan mahal atau impor.

Festival seperti ini mengoreksi bias lama yang kerap meminggirkan UMKM kuliner lokal. Mengapa selama ini pusat belanja modern dianggap lebih layak sebagai wajah kuliner, sementara pedagang makanan jalanan hanya ditempatkan sebagai eksotika? Dengan menempatkan mereka di ruang strategis kota, pemerintah dan penyelenggara mengirim pesan jelas: ekonomi kerakyatan dimulai dari memberi ruang setara bagi pelaku kecil untuk bertemu langsung dengan massa pengunjung.

Warisan Kuliner Nusantara dan Kedaulatan Pangan: Dari Buku ke Piring

Wali Kota Yogyakarta menegaskan bahwa festival ini juga berfungsi mendokumentasikan kekayaan kuliner yang tercatat dalam buku Mustika Rasa sebagai warisan nasional. Di sini, warisan kuliner Nusantara tidak berhenti sebagai katalog resep di rak perpustakaan, tetapi hidup di piring pengunjung. Bika berbahan singkong dan sate kere menjadi contoh nyata bagaimana bahan lokal yang kerap dianggap “kelas dua” disulap menjadi ikon rasa dan gizi.

Ini penting karena obrolan tentang kedaulatan pangan sering berhenti di slogan. Festival Mustika Rasa mengikat kata dan praktik: mengurangi ketergantungan bahan impor, mengangkat bahan baku lokal, dan menjamin gizi lewat olahan yang terjangkau. Seperti dikatakan Ketua Bidang Pariwisata DPP PDI Perjuangan, “kemandirian pangan harus berjalan bersama upaya menjamin gizi rakyat melalui pemanfaatan bahan baku lokal yang beragam”. Dengan kata lain, setiap penganan tradisional yang tersaji adalah argumen politik sekaligus bukti bahwa dapur rakyat bisa menjadi benteng kedaulatan.

Alun-Alun Kidul: Ruang Sejarah yang Disulap Jadi Panggung Wisata Berkelanjutan

Pemilihan Alun-Alun Kidul sebagai lokasi festival bukan keputusan acak. Dukungan Kasultanan/Keraton Yogyakarta untuk penggunaan alun-alun sebagai ruang publik acara berskala nasional menunjukkan bahwa sejarah dan budaya lokal bisa berjalan seiring dengan agenda ekonomi kontemporer. Ketika 1.000 warga mengawali festival dengan senam cinta tanah air, lalu berlanjut menikmati kuliner, wisata, dan panggung hiburan yang menghadirkan Krisdayanti, alun-alun berubah menjadi model wisata berkelanjutan yang menghidupkan tradisi, bukan mengusirnya.

Di tengah banyak kota yang menjadikan ruang publik sekadar lahan parkir atau komersial, pemanfaatan alun-alun untuk festival kuliner tradisional adalah pilihan politik ruang. Ketua Komisi A DPRD DIY berharap ruang ini terus diisi kegiatan produktif, inklusif, dan berkelanjutan. Artinya, destinasi wisata tidak cukup instagramable; ia harus menjadi tempat pertemuan warga, pelaku UMKM, seniman, dan pengunjung dalam ekosistem yang saling menguatkan.

Kekuatan dan Keterbatasan: Mengapa Festival Ini Penting, Tapi Belum Cukup

Festival Mustika Rasa memadukan kuliner, pariwisata, UMKM, kesehatan, dan aksi sosial, termasuk pemeriksaan kesehatan gratis dan penggalangan dana untuk korban bencana di Nusa Tenggara Timur. Ini menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi rakyat bisa berjalan berdampingan dengan kepedulian sosial. Namun, di tengah semarak festival, Ketua Bidang Kesehatan DPP PDI Perjuangan mengingatkan bahwa masyarakat masih kesulitan mengakses layanan kesehatan. Artinya, festival setahun dua hari belum cukup menjawab masalah struktural yang dihadapi warga.

Meski begitu, relevansi festival ini tetap kuat bagi berbagai kalangan: pelaku UMKM kuliner lokal, pegiat pariwisata, pemerintah daerah, hingga warga yang ingin mencintai, melestarikan, dan membanggakan kuliner Nusantara. Ke depan, yang dibutuhkan adalah kontinuitas: pendampingan UMKM setelah festival, kebijakan ruang publik pro-pedagang makanan jalanan, dan program kedaulatan pangan yang konsisten. Festival Mustika Rasa telah membuktikan bahwa panggung besar bisa milik rakyat; tugas berikutnya adalah memastikan lampunya tidak padam setelah tenda dibongkar.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!