Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Suara Uap hingga Filosofi Keberuntungan: Kisah Kue Kukus Tradisional yang Bertahan Puluhan Tahun

Dari Suara Uap hingga Filosofi Keberuntungan: Kisah Kue Kukus Tradisional yang Bertahan Puluhan Tahun
Minat|Makanan Kaki Lima

Kue kukus tradisional: lebih dari sekadar camilan manis

Kue kukus Indonesia adalah jajanan berbahan dasar tepung yang dimasak dengan uap, menghadirkan tekstur lembut, rasa manis-gurih, serta bentuk dan bunyi khas yang mencerminkan akar budaya, memori kolektif, dan filosofi hidup berbagai komunitas di Nusantara. Di tengah gempuran dessert modern, kue kukus tradisional masih bertahan bukan karena nostalgia semata, tetapi karena ia menawarkan pengalaman multisensori: terdengar, terlihat, dan terasa. Dari jajanan tradisional Jawa hingga kudapan khas Betawi, setiap kue membawa cerita tentang pasar, kampung, dan perayaan keluarga. Mengabaikan kue-kue ini berarti mengabaikan lapisan penting identitas kuliner kita. Pertanyaannya bukan apakah kue kukus masih relevan, melainkan apakah kita mau terus memberi ruang bagi tradisi yang hidup di dalamnya.

Kue putu tradisional: suara uap yang jadi penanda zaman

Kue putu tradisional adalah contoh paling jelas bahwa jajanan bisa punya "suara" sendiri. Sebelum gerobak penjual terlihat, bunyi siulan dari alat kukusnya sudah lebih dulu memanggil pembeli. Uap yang keluar saat adonan tepung beras berisi gula merah dikukus dalam cetakan bambu menghasilkan identitas akustik yang tak dimiliki kue lain. Di pasar tradisional atau gang perumahan, suara itu bukan sekadar tanda dagangan datang, melainkan alarm kenangan masa kecil. Menariknya, jejak kue putu (puthu) tercatat dalam Serat Centhini yang ditulis pada 1814, menandakan posisinya sebagai jajanan tradisional Jawa yang tua usianya. Ada pula cerita yang mengaitkannya dengan kudapan Tiongkok masa Dinasti Ming (1368–1644), menunjukkan kemungkinan lintas budaya dalam satu tabung kecil berisi gula merah.

Kue dongkal Betawi: tumpeng manis yang sering disalahpahami

Kue dongkal Betawi sering disamakan dengan kue putu, padahal keduanya jelas berbeda identitas. Kue dongkal, atau dodongkal, adalah kuliner tradisional masyarakat Betawi berbentuk kerucut menyerupai tumpeng, dengan lapisan putih tepung beras dan cokelat gula aren yang disusun bergantian lalu dikukus. Setelah matang, kue dongkal diiris dan disajikan dengan taburan kelapa parut, menghadirkan perpaduan rasa manis gula aren dan gurih kelapa yang khas. Memang, dongkal dan putu sama-sama memakai tepung beras dan gula merah serta diolah dengan cara dikukus, sehingga tampak serupa di mata pembeli yang terburu-buru. Namun, ketika kita mengabaikan bentuk tumpeng manis dongkal dan menyebutnya sekadar “putu versi lain”, kita sedang menghapus detail penting dari identitas Betawi yang hidup di dalam jajanan pasar ini.

AspekKue putu tradisionalKue dongkal Betawi
BentukTabung kecil dari cetakan bambuKerucut menyerupai tumpeng
Isian/LapisanTepung beras berisi gula merahLapisan tepung beras dan gula aren bergantian
Ciri khasSuara siulan uap dari alat kukus kelilingPotongan tumpeng manis dengan kelapa parut
Dari Suara Uap hingga Filosofi Keberuntungan: Kisah Kue Kukus Tradisional yang Bertahan Puluhan Tahun

Kue moho Solo: filosofi keberuntungan dalam kukusan lintas budaya

Kue moho Solo membuktikan bahwa kue kukus Indonesia bukan hanya soal rasa, tetapi juga simbol dan pertemuan budaya. Sekilas mirip bolu kukus, bagian atasnya merekah dengan warna mencolok seperti merah muda atau putih. Namun moho adalah jajanan tradisional di Solo, Semarang, dan Pati yang lahir dari pertemuan budaya Tionghoa dan Jawa. Hubungannya dengan huat kueh, kue kukus dalam tradisi Tionghoa saat Tahun Baru Imlek, menempatkan moho sebagai jembatan antara dapur pecinan dan pasar Jawa. Salah satu ciri khasnya, bagian atas yang merekah setelah dikukus, dimaknai sebagai lambang rezeki melimpah dan harapan hidup yang terus berkembang ke arah lebih baik. Pada 1960-an, kawasan Pecinan di Solo bahkan dikenal sebagai pemasok utama kue moho untuk pedagang jajanan di pasar tradisional kota itu.

Carabikang: bunga mekar di loyang, favorit keluarga yang menuntut ketelatenan

Jika kue putu punya suara dan moho punya filosofi, kue carabikang memikat lewat visual. Jajanan tradisional ini dikenal dengan bentuknya menyerupai bunga mekar, bagian bawahnya merekah ketika dikeluarkan dari cetakan sehingga tampak seperti kelopak yang terbuka. Berbahan tepung beras dengan warna-warni cerah—merah muda, hijau, putih—carabikang menjadi jajanan pasar yang mudah ditemukan, terutama di Pulau Jawa, dan sering hadir sebagai camilan keluarga dalam berbagai acara. Perpaduan rasa manis dan gurih santan membuatnya cocok dinikmati bersama teh atau kopi di rumah. Namun ada harga yang harus dibayar: meski tampak sederhana, membuat carabikang membutuhkan teknik khusus agar adonan merekah dengan baik, mulai dari kekentalan adonan hingga suhu cetakan dan api yang harus dijaga agar bagian bawah tidak gosong sementara bagian atas masih mentah.

Dari Suara Uap hingga Filosofi Keberuntungan: Kisah Kue Kukus Tradisional yang Bertahan Puluhan Tahun

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!