Energy Station: Ketika Warisan Sneaker Disetrum Ulang
Onitsuka Tiger SS27 adalah koleksi musim semi/musim panas berjudul “Energy Station” yang meramu warisan estetika sneaker klasik merek ini dengan energi baru lewat 47 tampilan runway bernuansa sporty, western, dan prairie, sekaligus menegaskan reposisi brand sebagai label heritage sneaker yang akrab dengan kultur kontemporer dan berbagai gaya hidup urban modern.
Koleksi musim semi 2027 ini tidak sekadar parade busana, melainkan pernyataan sikap: heritage tidak boleh membeku. Dengan latar instalasi SPBU klasik lengkap dengan pom bensin, kios bodega, hingga cuci mobil darurat, peragaan dibuka oleh dua motor yang meraung melewati tamu, mengubah runway menjadi arena pengisian energi gaya. Menurut keterangan resmi koleksi, benang merahnya adalah “perpaduan tailoring dengan busana olahraga”, dan inilah yang membuat Onitsuka Tiger SS27 terasa relevan dengan tren kontemporer tanpa meninggalkan DNA atletiknya.

Alas Kaki SS27: Heritage Sneaker Tren yang Siap Dipakai Sehari-hari
Inti koleksi Onitsuka Tiger SS27 adalah jajaran alas kaki yang beragam, dari sneaker hingga pump, yang dirancang menjawab berbagai gaya hidup: commuter urban, penggemar motor, hingga pencinta gaya preppy dengan twist. Mexico 66 yang ikonik direimajinasi dalam bentuk mule, menunjukkan bagaimana heritage sneaker tren bisa bergeser dari arena olahraga ke gaya santai tanpa kehilangan siluet legendarisnya. Di sisi lain, sepatu bot biker dengan hak wedge dalam warna kuning terang, merah muda metalik, dan perak menjembatani dunia motor dan fashion tinggi.
Koleksi ini tidak berhenti di sneakers boots: loafer, mules, dan sepatu pump hadir dengan palet warna yang lebih berani, dari Tiger Yellow hingga perak. Bintang peragaan, seperti biasa, adalah alas kaki khas mereka, dan kali ini Onitsuka Tiger membuktikan bahwa satu brand bisa memayungi begitu banyak karakter gaya tanpa kehilangan identitas sneaker heritage-nya.

Dari Preppy ke Prairie: Busana yang Mengikuti Ritme Sneaker
Yang menarik dari koleksi musim semi 2027 ini adalah cara busana dirancang seolah mengikuti ritme sneaker, bukan sebaliknya. Perpaduan tailoring dengan sportswear hadir lewat blazer dan kemeja yang dipasangkan dengan trackpants, sekaligus kemeja berstruktur dan kaus fit bersama celana pendek mini dan rok mini terinspirasi motor. Nuansa preppy muncul lewat kaus grafis dengan rok pendek lipit, sementara gaun velvet pendek bernuansa retro dipadukan dengan sneakers model knee high-top, menghapus batasan antara “sepatu olahraga” dan “sepatu pesta”.
Dari sana, Onitsuka Tiger menggeser mood ke wilayah American Western dan prairie: gaun serta jaket dengan aksen fringes tampil lebih modern dan jauh dari kesan kostum, lalu dilunakkan oleh deretan gaun midi ringan yang romantis. Di runway lain, atasan lengan panjang grafis disandingkan dengan rok renda feminin, dan celana pendek wol terinspirasi Muay Thai memperkaya lapisan narasi sporty. Keputusan menggabungkan begitu banyak gaya ini berisiko, namun narasi yang jelas membuat koleksi terasa kohesif dan tetap wearable.

Energi Selebriti: TWICE, Gulf, dan Amplifikasi Budaya Pop
Jika runway adalah panggung utama Onitsuka Tiger SS27, maka front row adalah kanal distribusi budaya pop yang memperluas gaung koleksi ini. Kehadiran Momo dari TWICE dan aktor Gulf Kanawut tidak sekadar gimmick; keduanya memvisualisasikan bagaimana koleksi bisa hidup di luar panggung. Momo tampil preppy dengan setelan rok kotak-kotak, dipertegas boots ala era Y2K yang selaras dengan semangat playful koleksi. Gulf memilih sweater kuning bergrafis dengan celana netral dan sneakers merah, kombinasi warna yang memantulkan palet berenergi di runway.
Sorotan lain datang dari Kim Jae-won dengan coat klasik dan sneakers motif python yang berkesan edgy, serta Baifern Pimchanok dalam dress putih bertekstur menyerupai shearling dengan pump kuning yang elegan. Raline Shah menambahkan interpretasi yang chic melalui setelan rok abu-abu dengan pump dan kaus kaki senada. Melalui gaya selebriti di barisan depan ini, Onitsuka Tiger mendemonstrasikan bahwa koleksi Energy Station bukan hanya untuk runway, tetapi juga untuk dunia nyata yang dipenuhi kamera, media sosial, dan budaya fan global.

Kesimpulan: Musim Ketika Heritage dan Budaya Pop Jalan Beriringan
Onitsuka Tiger SS27 menunjukkan bahwa istilah heritage sneaker tren bukan nostalgia pasif, melainkan proses menghidupkan kembali warisan melalui konteks baru. Dengan konsep Energy Station, koleksi musim semi 2027 ini memadukan tailoring dan sportswear, menghamparkan spektrum gaya dari preppy hingga prairie, sekaligus menampilkan alas kaki yang siap menyusup ke berbagai gaya hidup.
Kekuatan lain datang dari cara brand merangkul budaya pop lewat kehadiran figur seperti Momo TWICE, Gulf Kanawut, dan nama-nama front row lain yang memperlihatkan banyak kemungkinan styling di luar runway. Pada akhirnya, musim ini terasa seperti babak baru yang tegas: Onitsuka Tiger bukan sekadar label sepatu sport klasik, melainkan pemain penting dalam percakapan tentang bagaimana warisan sneaker dibawa ke masa depan yang serba cepat, berwarna, dan sarat referensi budaya.







