Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Bagaimana Stres Memicu Kenaikan Berat Badan dan Cara Memutuskannya

Bagaimana Stres Memicu Kenaikan Berat Badan dan Cara Memutuskannya
Minat|Kesehatan Mental

Stres Naik Berat Badan: Masalah Hormonal, Bukan Sekadar Kurang Disiplin

Stres naik berat badan adalah kondisi ketika tekanan emosional jangka panjang mengganggu keseimbangan hormon, mengubah nafsu makan, menurunkan metabolisme, dan mendorong penumpukan lemak, sehingga angka timbangan meningkat meski pola makan tampak tidak berubah secara drastis. Ini bukan soal kurang kuat menahan godaan makanan, melainkan tubuh yang sedang berada dalam mode bertahan hidup. Reaksi alami terhadap beban pikiran membuat sistem hormon dan otak mengarahkan kita pada perilaku makan yang tidak sehat. Hubungan antara kondisi pikiran dan perubahan berat badan bukanlah ilusi; tekanan hidup memicu perubahan fisik dan perilaku yang berujung pada penumpukan lemak. Jika kita terus menyalahkan diri sendiri tanpa memahami mekanisme ini, siklus stres, rasa bersalah, dan makan berlebihan akan terus berulang.

Bagaimana Stres Memicu Kenaikan Berat Badan dan Cara Memutuskannya

Hormon Kortisol dan Gemuk: Saat Otak Menghadiahi Diri dengan Lemak Perut

Secara biologis, stres kronis membuat tubuh memproduksi hormon kortisol secara berlebihan. Kortisol yang tinggi bukan hanya angka di hasil lab; ia adalah sinyal kepada tubuh untuk menyimpan lebih banyak lemak, terutama di area perut. Inilah lemak visceral yang berkaitan dengan risiko penyakit metabolik dan membuat banyak orang merasa bentuk tubuhnya berubah walau tidak merasa makan lebih banyak. Lebih rumit lagi, kortisol mengganggu sistem imbalan di otak. Tekanan mental kronis memengaruhi amigdala dan hipokampus, sehingga sistem imbalan (reward system) memicu keinginan untuk terus makan. Dr. Ariana M. Chao menjelaskan bahwa banyak orang akhirnya makan sebagai coping mechanism untuk membuat diri merasa lebih baik. Ketika hormon kortisol dan gemuk saling berkaitan seperti ini, diet ketat tanpa mengurus stres emosional hanya akan membuat tubuh semakin tertekan.

Mengapa Saat Stres Kita Mendadak Doyan Makanan Manis dan Berkalori Tinggi

Perubahan hormonal saat stres tidak hanya menambah lemak, tetapi juga mengubah preferensi makanan. Kortisol dan sistem imbalan otak membuat kita mendambakan comfort food: makanan tinggi kalori, bergula, dan berlemak. Dr. Ariana menegaskan bahwa pelepasan kortisol memicu dorongan mengonsumsi makanan tinggi kalori. Stres meningkatkan kebutuhan akan imbalan, sehingga seseorang membutuhkan lebih banyak makanan untuk mendapatkan rasa puas yang sama. Akibatnya, pilihan makan bergeser dari sayur dan protein seimbang ke camilan manis dan gorengan. Ditambah lagi, kurang tidur yang sering menyertai stres memicu ketidakseimbangan hormon ghrelin (pemicu lapar) dan leptin, sehingga kita lebih mudah tergiur makanan manis. Di titik ini, diet dan kesehatan mental saling terkait: tanpa manajemen stres emosional, pola makan sehat akan terus digagalkan oleh dorongan biologis yang kuat.

PMS dan Kenaikan Berat: Retensi Cairan, Nafsu Makan, dan Kecemasan yang Tak Perlu

Pada wanita, PMS dan kenaikan berat sering menjadi sumber panik yang sebenarnya tidak perlu. Fase pra-menstruasi hingga periode haid memicu gejolak emosi, nafsu makan meningkat, dan angka timbangan yang mendadak berhenti turun atau naik, sehingga banyak yang merasa dietnya gagal. Spesialis gizi klinik dr. Igus Ulfa Yaze menegaskan bahwa fenomena berat badan stuck saat haid adalah respons hormonal yang sangat alami. Penyebab utama bukan penumpukan lemak baru, melainkan retensi cairan atau penumpukan air sementara di jaringan tubuh. Begitu haid selesai, retensi cairan mereda dan berat badan biasanya turun pelan-pelan lagi. Di sini manajemen stres emosional penting: daripada menimbang setiap hari dan menyiksa diri, dr. Yaze menyarankan evaluasi berat badan setiap dua minggu atau satu bulan sekali untuk mengurangi kecemasan.

Memutus Siklus: Manajemen Stres Emosional Lebih Penting daripada Diet Ketat

Jika akar masalahnya adalah stres, solusi utama bukan menambah larangan makanan, tetapi menormalkan respons hormonal lewat manajemen stres emosional. Untuk memutus rantai ini, diperlukan pendekatan menyeluruh yang mencakup perbaikan pola hidup dan manajemen emosi. Memperbaiki kualitas tidur (sekitar 7 jam atau lebih per malam) membantu menstabilkan hormon ghrelin dan leptin agar keinginan makanan manis berkurang. Rutin berolahraga menjaga massa otot—pembakar kalori terbesar di tubuh—dan merangsang pelepasan endorfin yang memperbaiki suasana hati. Selain itu, latihan mindfulness, belajar mencintai diri sendiri, dan mencatat hal-hal yang disyukuri dapat meredam tekanan emosional dan rasa malu atas bentuk tubuh. Pikirkan sebelum ngemil, bedakan lapar fisik dan lapar emosional, dan gunakan jalan kaki singkat sebagai pelampiasan stres. Diet tanpa perbaikan kesehatan mental hanya akan mengulang lingkaran rasa bersalah dan makan berlebihan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!