InfraNexia: Dari Unit Infrastruktur Menjadi Tulang Punggung Digital
InfraNexia adalah perusahaan infrastruktur telekomunikasi di bawah TelkomGroup yang mengelola wholesale fiber connectivity, jaringan core network, dan portofolio infrastruktur terkait untuk mendukung konektivitas grup sekaligus membuka layanan bagi berbagai pelaku industri eksternal, sehingga berperan sebagai tulang punggung bagi ekosistem infrastruktur digital nasional. Pendapatan Rp7,7 triliun dan margin EBITDA 54,5 persen pada semester pertama menegaskan satu hal: transformasi TelkomGroup mulai mengubah InfraNexia dari sekadar pengelola aset menjadi mesin pertumbuhan infrastruktur digital. Alih-alih hanya memikul beban investasi jaringan, InfraNexia kini memposisikan diri sebagai entitas yang dituntut menciptakan nilai finansial sekaligus nilai strategis. Pendekatan ini penting, karena ekonomi digital tidak akan bertahan di atas jaringan yang dikelola sebagai cost center. TelkomGroup berani memindahkan sebagian bisnis dan aset wholesale fiber ke InfraNexia per 1 Januari 2026, dan angka-angka H1 menunjukkan keputusan itu mulai berbuah.
Membedah Kinerja Finansial: Pendapatan Tinggi, Margin EBITDA Tebal
Kinerja finansial InfraNexia layak disebut agresif untuk ukuran bisnis infrastruktur. Pendapatan Rp7,7 triliun di enam bulan pertama didominasi ekosistem TelkomGroup, tetapi pertumbuhan paling menarik justru datang dari luar grup. Pendapatan eksternal naik 31 persen secara tahunan menjadi Rp939 miliar, sebuah sinyal jelas bahwa pasar mulai mengakui InfraNexia sebagai penyedia infrastruktur yang layak dipercaya oleh operator, ISP, penyedia layanan digital, dan korporasi. Di sisi profitabilitas, margin EBITDA telekomunikasi yang mencapai 54,5 persen menunjukkan InfraNexia tidak hanya tumbuh, tetapi tumbuh dengan disiplin biaya dan efisiensi operasional. "InfraNexia membukukan margin EBITDA sebesar 54,5% pada semester pertama 2026, didukung oleh efisiensi operasional dan digitalisasi proses bisnis," kata Lukman Hakim Abd. Rauf. Ini penting, karena margin setebal ini memberi ruang manuver untuk terus berinvestasi dalam jaringan tanpa mengorbankan kesehatan neraca.
Pendorong Utama: Kapasitas Jaringan dan Layanan Core Network
InfraNexia kinerja finansial yang kuat tidak datang dari spekulasi, melainkan dari kebutuhan nyata: kapasitas jaringan dan layanan core network yang terus meningkat. Segmen Wholesale Network—yang mencakup Metronexia, Wavenexia, dan IP Nexia—mencatat pertumbuhan pendapatan 12,7 persen secara tahunan setelah pengelolaan dialihkan ke InfraNexia. Pertumbuhan ini ditopang permintaan konsisten terhadap layanan core network di tengah akselerasi ekonomi digital, ketika trafik data melonjak dan kualitas konektivitas menjadi faktor daya saing. Fakta bahwa pelanggan eksternal mau membeli kapasitas dari entitas yang sebelumnya identik dengan jaringan internal TelkomGroup menunjukkan dua hal: infrastruktur yang dikelola InfraNexia dianggap cukup andal, dan model open infrastructure mulai mendapat tempat. Perusahaan juga mengembangkan portofolio FTTx dan infrastructure sharing untuk mendorong efisiensi pemanfaatan jaringan, sekaligus memperluas ruang kerja sama lintas pelaku industri. Strategi ini membuat investasi jaringan tidak mengendap, tetapi terus berputar menjadi pendapatan.
Transformasi TelkomGroup: Konsolidasi yang Menghasilkan Ekosistem
Transformasi TelkomGroup terlihat jelas dalam cara InfraNexia dikonfigurasi. Pengalihan sebagian bisnis dan aset wholesale fiber connectivity Telkom yang efektif sejak 1 Januari 2026 bukan hanya penataan portofolio, melainkan konsolidasi untuk menciptakan ekosistem infrastruktur digital nasional yang lebih terhubung dan produktif. InfraNexia kini memegang skala operasi dan kapabilitas yang lebih besar, sehingga pengelolaan aset jaringan bisa dilakukan secara lebih fokus, efisien, dan siap dimonetisasi di pasar eksternal. Transformasi TelkomGroup membuahkan hasil positif: proses bisnis InfraNexia mulai memperkuat daya saing perusahaan dan meningkatkan produktivitas aset infrastruktur. Di level yang lebih luas, langkah ini sejalan dengan komitmen memperkuat fondasi ekonomi digital nasional melalui pengelolaan aset negara yang lebih berdaya saing dan menciptakan nilai ekonomi berkelanjutan. TelkomGroup, lewat InfraNexia, memilih strategi konsolidasi ketimbang fragmentasi—dan angka kinerja awal menunjukkan pilihan ini tepat.
Menuju Tulang Punggung Infrastruktur Digital Nasional
InfraNexia kini memikul ambisi lebih besar: bukan sekadar tumbuh secara finansial, tetapi mempercepat penguatan infrastruktur digital nasional sebagai bagian dari strategi konsolidasi TelkomGroup. Jumlah karyawan meningkat dari 1.128 menjadi 1.338 orang sepanjang semester pertama, menandakan ekspansi layanan dan kompleksitas operasi yang kian besar. Ke depan, perusahaan berencana melanjutkan modernisasi jaringan, meningkatkan kualitas layanan, dan memperluas kolaborasi dengan berbagai pelaku industri. Targetnya jelas: pengelolaan infrastruktur digital yang lebih efisien tanpa mengorbankan kemampuan memberi kontribusi yang lebih besar bagi ekosistem digital nasional. Dalam konteks itu, H1 dengan pendapatan Rp7,7 triliun dan margin EBITDA telekomunikasi setebal 54,5 persen hanyalah titik awal. Jika InfraNexia konsisten menjaga disiplin biaya dan membuka diri terhadap kolaborasi eksternal, ia berpeluang menjadi tulang punggung jaringan yang menghidupi ekonomi digital jangka panjang, bukan sekadar bintang sesaat di laporan keuangan.






