Inti Gagasan: Teknologi Sederhana Solusi Nyata untuk Masalah Sehari-hari
Teknologi sederhana solusi adalah pendekatan pemecahan masalah yang mengandalkan inovasi praktis, murah, dan mudah diterapkan, yang berangkat dari kebutuhan riil masyarakat alih-alih mengejar kecanggihan teknis, sehingga dampaknya terasa langsung di kehidupan sehari-hari, terutama bagi kelompok prasejahtera yang sering luput dari layanan teknologi tingkat tinggi. Kepala lembaga riset nasional, Arif Satria, menegaskan bahwa tidak semua persoalan di masyarakat harus diselesaikan dengan teknologi yang canggih. Sikap ini adalah kritik halus terhadap obsesinya publik pada AI, nuklir, dan segala yang berlabel "tinggi". Menurutnya, teknologi sederhana justru bisa memberikan solusi yang murah, efektif, dan sesuai kebutuhan masyarakat. Pertanyaannya bukan lagi seberapa kompleks teknologi yang dipakai, melainkan seberapa relevan dan terjangkau ia bagi warga biasa.
Sepatu Karet dan Lahsamor: Mengapa ‘Teknologi Biasa’ Sering Luar Biasa
Contoh paling kuat dari filosofi ini adalah sepatu karet tanpa lem dan jahitan yang dikembangkan peneliti BRIN. Di permukaan, inovasi ini tampak sederhana dan "biasa saja". Namun jika dilihat dari kacamata inovasi masyarakat lokal, sepatu tersebut menjawab kebutuhan alas kaki yang awet, murah, dan mudah dirawat bagi masyarakat prasejahtera. Inilah teknologi praktis terjangkau: tidak menonjol dari sisi kecanggihan, tetapi langsung memotong masalah dasar—akses alas kaki yang layak. Hal serupa terjadi pada Lahsamor, mesin pengolah sampah organik yang sempat diremehkan karena dianggap bisa dibuat siswa SMK. Arif Satria menantang pandangan merendahkan itu: "Teknologi sederhana semua orang bisa. Tapi kenapa orang lain tidak melakukan?" Kreativitas ide, bukan kerumitan mesin, yang membuat sampah organik punya nilai dan ruang kelola di lingkungan warga.
Filosofi Penelitian BRIN: Multi-Level, Bukan Fanatik Teknologi Tinggi
Di tengah euforia AI, nuklir, dan beragam istilah futuristik, penelitian BRIN Indonesia bergerak dengan pendekatan yang lebih membumi. Arif terang-terangan mengkritik kecenderungan "maunya teknologi tinggi semuanya" dan mengingatkan bahwa kalau semua hanya berorientasi pada teknologi tinggi, orang akan bertanya, "Apa untuk rakyat?" Oleh karena itu BRIN akan terus mengembangkan inovasi secara berjenjang (multi-level), mulai dari teknologi sederhana hingga teknologi tingkat lanjut. Pendekatan holistik ini menolak dikotomi usang antara teknologi tinggi dan rendah. Teknologi tinggi, teknologi yang maju, orientasinya tetap pada kemanfaatan. Di saat yang sama, teknologi sederhana tidak dihindari selama ada unsur kebaruan dan kreativitas periset. Intinya: laboratorium nasional tidak boleh menjadi menara gading yang sibuk mengembangkan mesin canggih, tetapi lupa ember bocor di dapur warga.
Mengapa Empati dan Relevansi Lebih Penting dari Kecanggihan
Kunci filosofi teknologi sederhana solusi adalah empati terhadap kebutuhan nyata di lapangan. Arif menekankan bahwa inovasi seperti sepatu karet dan Lahsamor lahir dari kepedulian pada saudara-saudara yang kurang mampu dan persoalan pelik seperti pengelolaan sampah. Inovasi masyarakat lokal yang berangkat dari konteks sosial dan ekonomi setempat hampir selalu lebih tahan lama daripada proyek besar yang sulit dioperasikan oleh warga. Teknologi praktis terjangkau memungkinkan komunitas mengadopsi dan merawat sendiri, tanpa bergantung pada teknisi mahal atau perangkat rumit. Pendekatan holistik penelitian nasional yang mengintegrasikan teknologi tingkat lanjut dengan solusi praktis memastikan tidak ada lapisan masyarakat yang tertinggal. Jika riset hanya mengagungkan kecanggihan, ia akan menjauh dari rakyat; jika riset berpihak pada kemanfaatan, teknologi—apa pun tingkatnya—menjadi alat pembebasan sosial, bukan sekadar simbol gengsi.
Kesimpulan: Saatnya Menghargai ‘Teknologi Biasa’ yang Bekerja Luar Biasa
Pesan yang mengemuka dari pernyataan Kepala BRIN sederhana namun menantang ego teknokrat: ukuran kehebatan inovasi bukan derajat kecanggihan, melainkan kemampuannya menyelesaikan masalah. Penelitian BRIN Indonesia yang ber-multilevel—dari sepatu karet hingga teknologi tingkat lanjut—adalah contoh bagaimana negara bisa membangun ekosistem riset yang berpihak pada manfaat nyata. Di level praksis, ini mengajak periset, pemerintah daerah, dan komunitas untuk memprioritaskan teknologi praktis terjangkau yang lahir dari inovasi masyarakat lokal. AI dan nuklir tentu punya tempat, tetapi keduanya bukan jawaban untuk semua hal. Banyak persoalan sosial—akses alas kaki, atap rumah, pengelolaan sampah—lebih butuh kreativitas sederhana daripada kecanggihan luar biasa. Jika kita mulai menghargai karya yang tampak "biasa" namun berdampak langsung, ekosistem inovasi akan menjadi lebih inklusif dan relevan bagi sebanyak mungkin orang.








