Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Project Pop Rayakan 30 Tahun di Synchronize Festival

Project Pop Rayakan 30 Tahun di Synchronize Festival
Minat|Penyanyi/Band Pop

Malam Ketika Nostalgia Menang di Panggung Synchronize

Penampilan Project Pop di Synchronize Festival 2026 adalah pertunjukan spesial musik yang merayakan Project Pop 30 tahun dengan tema ‘Forever Young – Forever Fun’, menghadirkan kolaborasi lintas generasi, deretan lagu hits, dan atmosfer konser pop Jakarta yang menjadikan nostalgia bukan sekadar kenangan, melainkan pengalaman kolektif yang hidup di depan mata penonton. Dari awal sampai akhir, jelas bahwa panggung ini bukan hanya perayaan usia, tetapi pernyataan bahwa humor, pop, dan kebersamaan masih relevan di tengah festival yang dipenuhi nama-nama baru. Di tengah gempuran musisi kontemporer, Project Pop memilih untuk merangkul masa lalu dan masa kini sekaligus, mengajak Popop dan warga wargi untuk mengingat, menyanyikan, dan menertawakan perjalanan panjang mereka bersama.

Project Pop Rayakan 30 Tahun di Synchronize Festival

Setlist Penuh Kenangan dan Kejutan Kolaborasi

Begitu intro ‘Tu Wa Ga Pat’ mengalun, penonton langsung paham bahwa ini bukan malam biasa: ini reuni emosional antara lagu-lagu yang membesarkan generasi awal 2000-an dan para pendengarnya. Deretan hits seperti ‘Batal Kawin’, ‘Pacarku Superstar’, dan ‘Dangdut Is The Music Of My Country’ mengembalikan memori kolektif ke masa ketika Project Pop menguasai radio dan layar kaca. Kejutan pertama datang saat Wika Salim muncul di tengah lagu dangdut kebanggaan itu, lalu menggulirkan medley ‘Hello Dangdut’, ‘Basah-Basah’, dan ‘Penasaran’ yang dipopulerkan Rhoma Irama, mengikat tradisi dangdut klasik dengan humor pop khas Project Pop. Di sini terlihat jelas: mereka tidak sekadar bernostalgia, tetapi menghubungkan sejarah musik dengan cara yang ringan, dekat, dan mengundang semua orang untuk ikut bersenang-senang.

Goyang Duyu, Rapot, dan BDG 40: Humor yang Tetap Tajam

Momen paling riuh terjadi saat ‘Goyang Duyu’ menggema dan penonton bersorak menunggu koreografi ikonik yang sudah tertanam di ingatan banyak orang. Kehadiran Podcast Rapot dengan kostum putih-merah ala seragam SD menambah lapisan komedi visual yang segar, seolah mengingatkan bahwa Project Pop selalu memadukan musik pop dengan sketsa sosial yang ringan namun mengena. Kolaborasi ini terasa seperti tongkat estafet humor pop yang berpindah ke generasi kreator konten masa kini. Ketika ‘Bukan Superstar’ dan ‘BDG 40’ dibawakan, lengkap dengan kostum terinspirasi girl group dan lirik yang ditampilkan di visual panggung, penonton diajak ikut bernyanyi sambil menyadari bahwa satire dan parodi masih menjadi senjata utama mereka. Di tengah banyak konser pop Jakarta yang serius mengejar estetika, Project Pop memilih tetap bermain, bercanda, dan itu justru membuat mereka relevan.

Metal vs Dugem: Puncak Energi dan Simbol Perjalanan 30 Tahun

Menuju akhir, ‘Metal vs Dugem’ menjadi klimaks yang menegaskan mengapa Project Pop 30 tahun layak dirayakan dengan skala festival. Kolaborasi dengan Kotak dan Feel Koplo mengubah lagu ini menjadi pertemuan tiga dunia: rock, EDM koplo, dan pop komedi. Kotak membuka dengan ‘Pelan-Pelan Saja’, lalu Project Pop masuk dan menggebrak dengan ‘Metal vs Dugem’, sebelum Feel Koplo menyusul dengan DJ set yang mengangkat energi penonton meski waktu sudah lewat tengah malam. Koreografi, atraksi panggung, dan tumpang tindih genre menjadikan satu nomor ini seperti ringkasan perjalanan mereka: selalu lintas batas, selalu menggabungkan hal-hal yang tampak tidak cocok, lalu menjadikannya hiburan massal. Penutupan dengan ‘Ingatlah Hari Ini’ terasa simbolis—sebuah ajakan eksplisit agar malam itu disimpan sebagai penanda bahwa mereka belum selesai, hanya berganti babak.

Synchronize Festival dan Gema Kota: Lanskap Pop yang Terus Bergerak

Synchronize Festival 2026 yang berlangsung 16–18 Oktober di Gambir Expo, JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, kembali membuktikan klaimnya: “IT’S NOT JUST A FESTIVAL, IT’S A MOVEMENT”. Dengan menghadirkan Tribute to Warkop DKI, Float, Bernadya, Indonesian Girl Group, Konser Musikal Senja Teduh Pelita, Souljah, The Panturas, kembalinya PIJAR, dan banyak musisi lain, festival ini mempertemukan legenda dan nama baru dalam satu ruang konser pop Jakarta yang luas. Di luar area festival, gema semangat serupa terlihat di Plaza Lada, Kota Tua, ketika BILLKISS, band city pop asal Bogor, membuka Gema Pemuda 2026 pada 16 Oktober 2026 dengan empat lagu andalan dan satu cover, disambut meriah penonton. Kedua panggung ini menunjukkan satu hal penting: pop lokal hidup karena dialog antargenerasi, dari Project Pop yang merayakan tiga dekade hingga BILLKISS yang memperluas jangkauan di skena independen.

Project Pop Rayakan 30 Tahun di Synchronize Festival

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!