Runway yang Mengukuhkan Wastra sebagai Bahasa Modest Fashion Baru
IN2MOTIONFEST x Jakarta Muslim Fashion Week adalah ajang modest fashion week yang menampilkan koleksi wastra Nusantara dalam siluet kontemporer, menjadikannya panggung utama bagi desainer lokal Indonesia untuk menggabungkan tenun tradisional Indonesia dengan gaya busana santun modern yang relevan bagi pasar global. Di fashion show Jakarta 2026 ini, wastra tidak lagi diperlakukan sebagai ornamen pelengkap, melainkan inti narasi setiap koleksi. Itu penting, karena selama bertahun-tahun kain tradisional sering terjebak di ruang seremoni, jauh dari kehidupan sehari-hari generasi muda. Ketika tenun, batik, dan motif daerah hadir dalam bentuk abaya modern, athleisure, hingga set modest yang fleksibel, pesan yang muncul jelas: warisan budaya tidak harus tinggal di museum, ia bisa berjalan anggun di runway dan kemudian mengisi lemari pakaian sehari-hari.
Tenun Sumba dan Abaya Bold ala Vivizubedi: Elegan Sekaligus Menantang
Koleksi Vivizubedi yang mengangkat tenun Sumba di penutupan IN2MF x JMFW di Jakarta International Convention Center pada 18 Oktober 2026 menjadi salah satu momen paling kuat di runway. Abaya berpotongan tegas namun flowy, dipadu monogram monokrom dan palet pastel, menunjukkan bahwa tenun tradisional Indonesia bisa tampil sangat modern tanpa kehilangan wibawa. Namun, keberanian ini datang dengan harga kreatif: tenun Sumba bernilai tinggi dan pengolahannya dalam skala busana full-body menuntut teknik khusus agar nilai historis dan maknanya tidak hilang. Tantangannya, selendang-selendang Sumba yang sudah jadi ini kalau digunting akan hilang maknanya. Di sinilah sikap Vivizubedi terasa penting—mengolah wastra bukan sekadar estetika, melainkan misi menjaga ruh budaya tetap hidup di tengah arus tren global.
Anisah Dhiya Azizah: Kakaban dan Batik Berau dalam Athleisure Modest
Jika Vivizubedi bermain di ranah abaya glam, Anisah Dhiya Azizah dari Berau memilih jalur athleisure untuk koleksi Gemala Bahari yang tampil sejak 14 Oktober di IN2MOTIONFEST x JMFW 2026. Ia memadukan teknik layering dan mix and match dengan Batik Berau, serta inspirasi motif ubur-ubur dan terumbu karang dari Pulau Kakaban, menjadikan wastra pesisir sebagai bagian dari gaya hidup aktif. “Selain mengangkat Batik Berau, inspirasi utama koleksinya juga berasal dari keindahan Pulau Kakaban,” tegasnya. Pendekatan ini relevan bagi pelaku usaha dan desainer lokal Indonesia yang ingin menembus pasar internasional: wastra tidak diposisikan sebagai busana acara khusus, melainkan pakaian sehari-hari yang bisa dipesan lewat sistem pre-order dan dibawa pulang oleh buyer mancanegara. Ajang ini jelas membuka jalan bagi produk fesyen lokal Berau untuk dikenal lebih luas, bukan hanya sebagai souvenir, tetapi sebagai bagian dari wardrobe global.
“Rona Simpor” SEPIAK: Alam Belitung dalam Batik Feminin Kontemporer
Lewat “Rona Simpor”, Bella Kartika Aprilia dari brand SEPIAK menghadirkan tafsir lembut atas alam Belitung di IN2MOTIONFEST x JMFW pada 15 Oktober 2026. Daun Simpor, pantai, semburat matahari terbenam, hingga bebatuan granit diterjemahkan menjadi motif flora dan geometris yang modern, lalu dituangkan dalam delapan tampilan modest wear yang feminin dan elegan. Wastra yang digunakan adalah batik dengan palet lavender, dusty pink, dan butter yellow, menghadirkan suasana lembut namun cerah yang terasa dekat dengan perempuan masa kini. Di sini tampak jelas tren menggabungkan tekstil tradisional dengan siluet kontemporer: A-line, loose fit, dan bentuk fleksibel yang memberi ruang gerak tanpa mengorbankan kesantunan. Lewat “Rona Simpor”, SEPIAK menunjukkan bagaimana kekayaan wastra Indonesia dapat terus dibaca ulang melalui perspektif desain masa kini, sehingga batik tidak terjebak pada citra formal dan kaku.

IN2MOTIONFEST x JMFW: Laboratorium Tren Global untuk Wastra Nusantara
Lebih dari sekadar fashion show Jakarta 2026, IN2MOTIONFEST x JMFW berfungsi sebagai laboratorium tren global bagi koleksi wastra Nusantara. Ajang modest fashion week ini menghadirkan desainer dan pelaku industri kreatif dari berbagai negara, termasuk Turki, Korea Selatan, dan Singapura, sekaligus mempertemukan pelaku usaha dengan buyer dalam dan luar negeri. Bagi desainer lokal Indonesia, panggung ini adalah kesempatan strategis: mereka tidak hanya memamerkan karya, tetapi menguji apakah tenun Sumba, Batik Berau, atau batik bernuansa Belitung mampu berbicara dalam bahasa pasar internasional. Lewat helatan ini, terlihat jelas bahwa tren menggabungkan tekstil tradisional dengan siluet kontemporer menarik minat global—dari abaya bold, athleisure berlapis, hingga set modest feminin. Jika konsistensi ini dijaga, wastra tidak lagi sekadar identitas lokal, melainkan aset kreatif yang punya daya tawar di ekosistem fashion dunia.






