Mengapa Pestapora Wajib Masuk Kalender Festival Musik Jakarta September
Pestapora adalah festival musik Jakarta September yang berlangsung selama tiga hari di Gambir Expo dan Hall D2 JIExpo Kemayoran, menghadirkan sekitar 330 penampil lintas genre dan generasi dalam satu rangkaian acara terpusat bagi musisi, komunitas, dan penonton, lengkap dengan panggung utama, panggung sekunder, serta aktivitas hiburan pendukung di satu kawasan festival yang padat pengalaman.
Jika ada satu festival musik yang paling merepresentasikan kata “ramai” dan “lintas generasi”, Pestapora layak berada di puncak daftar. Digelar pada 25–27 September di kawasan JIExpo Kemayoran, Jakarta, acara ini mengusung konsep One Stop Celebration yang memadukan musik, komunitas, dan kreativitas dalam satu ruang hidup selama tiga hari. Alih-alih sekadar menyusun nama besar, Pestapora membangun ekosistem: 19 area pertunjukan dan puluhan tenant makanan-minuman menegaskan bahwa ini bukan konser tunggal, melainkan pengalaman festival penuh. Di tengah kalender padat festival musik Jakarta September, Pestapora menonjol karena ambisius—330 penampil bukan angka kecil, dan itu adalah pernyataan bahwa satu akhir pekan bisa diisi oleh seluruh “spektrum” skena musik.

Lineup Lintas Generasi: Dari Sheila On 7, Dewa 19, Tulus hingga Rhoma Irama
Daya tarik utama Pestapora adalah komposisi lineup lintas generasi yang jarang kita temui dalam satu festival musik. Di satu sisi, ada nama-nama pop besar seperti Sheila On 7, Dewa 19, Tulus, Raisa, Syahrini, dan Mahalini yang menggaransi singalong massal. Di sisi lain, musisi legendaris dan ikon skena seperti Rhoma Irama & Soneta, God Bless, Tony Q Rastafara, Burgerkill, The SIGIT, Koil, hingga Project Pop menyajikan “kelas sejarah” musik versi panggung. Ritme reggae dari Souljah, energi alternatif dari Barasuara dan Morfem, sampai komedi panggung Agak Laen, membuat Pestapora 2026 lineup terasa seperti playlist gabungan beberapa generasi sekaligus.
Menurut Festival Director Kiki Aulia Ucup, PESTAPORA selalu dibayangkan sebagai ruang yang hidup selama beberapa hari, namun memorinya bertahan hingga kapan pun. Pernyataan ini terlihat konkret dari kurasi nama yang bertujuan mempertemukan penonton yang tumbuh dengan band era 2000-an, penikmat pop kekinian, hingga penonton yang akrab dengan dangdut panggung dan rock klasik. Di antara ratusan nama, beberapa magnet besar seperti Kerispatih x Sammy Simorangkir, MALIQ & D’Essentials, The Changcuters, Pamungkas, Rhoma Irama & Soneta, dan Sheila On 7 membuat festival ini relevan bagi berbagai usia, dari mereka yang baru mengenal festival musik hingga veteran gig yang aktif sejak era panggung kecil.
Breakdown Tiga Hari: Cara Memilih Hari yang Tepat untuk Kamu
Dengan ratusan penampil selama tiga hari, strategi paling penting adalah menentukan hari yang paling sesuai dengan selera kamu. Hari pertama (Jumat, 25 September) cenderung nostalgik dan penuh kolaborasi spesial: ada Kerispatih x Sammy Simorangkir, Killing Me Inside Reunion, Pure Saturday, The Upstairs, The Adams, Ari Lasso, Tompi, Ten2Five, Bondan Prakoso & Fade2Black, hingga The Changcuters dan Vierratale. Hari ini cocok untuk kamu yang ingin merayakan memori lagu-lagu lama bersama teman satu generasi, sekaligus menonton orkestra Erwin Gutawa yang berkolaborasi dengan Ardhito Pramono dan Danilla.
Hari kedua (Sabtu, 26 September) adalah titik pertemuan arus utama dan skena: Sheila On 7, Maliq & D’Essentials, Raisa feat. Andi Rianto, Pamungkas, Rhoma Irama & Soneta, Burgerkill, The SIGIT, Koil, Barasuara, Morfem, hingga deretan penyanyi dangdut seperti Inul Daratista dan Lesti Kejora tampil di hari ini. Kalau kamu mencari puncak euforia festival, Sabtu adalah pilihan paling aman. Hari ketiga (Minggu, 27 September) melanjutkan kemeriahan dengan nama seperti Armada, Bernadya, Agak Laen, dan berbagai unit alternatif lain yang menutup rangkaian festival. Kombinasi panggung utama dan panggung sekunder plus sesi live podcast dan stand-up comedy di tiap hari memastikan tidak ada jam yang terasa kosong.
Harga Tiket Pestapora dan Strategi Membeli Berdasarkan Gaya Nonton
Di tengah maraknya festival musik, harga tiket Pestapora cukup bersaing untuk skala tiga hari dengan 330 penampil. Tiket harian dan terusan dijual mulai dari Rp250.000 untuk kategori Early Entry, Rp300.000 untuk Daily Pass, serta Rp650.000 untuk paket 3-Day Pass. Artinya, kamu diberi kebebasan memilih: datang lebih awal dengan harga lebih miring, fokus pada satu hari dengan line up yang kamu incar, atau mengunci seluruh pengalaman tiga hari. Untuk penikmat berat festival yang ingin merasakan festival musik Jakarta September secara penuh, 3-Day Pass hampir selalu menjadi opsi paling rasional karena distribusi nama besar terbentang di semua hari.
Strategi praktisnya: pecinta nostalgia dan kolaborasi spesial bisa memprioritaskan Day 1; pemburu “inti” Pestapora 2026 lineup yang berisi Sheila On 7, Dewa 19, Tulus, Rhoma Irama, dan Maliq & D’Essentials akan lebih maksimal di Day 2; sementara penonton yang ingin menutup akhir pekan dengan suasana relatif lebih santai bisa menjadikan Day 3 sebagai penutup. Jika anggaran terbatas, pilih Daily Pass di hari yang paling mencerminkan selera kamu dan luangkan waktu penuh di area festival, karena panggung utama dan sekunder, plus live podcast dan stand-up comedy, menambah nilai di luar daftar musisi.
Tips Logistik: Cara Menikmati Satu Ruang Hidup Selama Tiga Hari
Konsep Pestapora sebagai satu ruang hidup selama beberapa hari berarti pengalaman kamu ditentukan bukan hanya oleh siapa yang tampil, tetapi bagaimana kamu menjalaninya. Dengan 19 area pertunjukan dan sekitar 330 penampil, kunci utama adalah perencanaan. Buat daftar prioritas musisi per hari—misalnya blok waktu untuk Sheila On 7, Dewa 19, Tulus, Rhoma Irama, MALIQ & D’Essentials, atau The Changcuters—lalu sisakan slot kosong untuk eksplorasi nama baru. Jangan abaikan panggung sekunder, sesi stand-up comedy, dan live podcast, karena sering kali di sanalah kamu menemukan kejutan yang memperkaya cerita festival.
Secara praktis, manfaatkan keberadaan 60 tenant makanan dan minuman di Hall D2 sebagai “basecamp” untuk istirahat di sela jadwal padat. Datang lebih awal, terutama jika kamu memegang Early Entry, memberi ruang untuk adaptasi dengan tata letak panggung dan menghindari antrean panjang. Gunakan pakaian nyaman, siapkan rencana pulang setiap malam, dan jangan ragu membagi hari antara nonton di depan panggung utama dan berjalan santai di area festival. Pada akhirnya, seperti yang diungkapkan Kiki Aulia Ucup, keberadaan Pestapora ditentukan bukan hanya oleh apa yang dihadirkan penyelenggara, tetapi juga oleh pengalaman yang dibangun bersama para pengunjung. Pastikan kamu menjadi bagian aktif dari pengalaman itu.






