Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Pasar Gas Berubah, Ketahanan Energi Diuji

Pasar Gas Berubah, Ketahanan Energi Diuji
Minat|Asia Tenggara

Perubahan struktural yang tak bisa diabaikan

Net importir gas adalah kondisi ketika suatu kawasan mengimpor gas alam lebih banyak daripada yang diekspornya, sehingga kebutuhan pasokannya bergantung pada aliran gas dari luar. Asia Tenggara diperkirakan memasuki kondisi itu setelah 2032, sebuah perubahan besar bagi pasar energi regional yang selama ini juga menjadi pemasok gas dunia. Proyeksi tersebut dibahas dalam pertemuan ke-51 ASEAN Council on Petroleum yang berlangsung sejak 26 Oktober 2026. Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, mengatakan para peserta membicarakan cara menjaga ketahanan energi di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat sejak awal tahun. Pergeseran ini bukan sekadar perubahan angka perdagangan. Negara-negara ASEAN perlu menilai ulang seberapa jauh pasokan domestik mampu memenuhi kebutuhan, dan seberapa besar mereka bersedia bergantung pada impor. Menunda persiapan hanya akan mempersempit pilihan ketika produksi kawasan tak lagi mencukupi.

Posisi Indonesia: eksportir hari ini, rentan esok

Saat ini, Indonesia masih menjadi eksportir gas alam terbesar kedua di Asia Tenggara setelah Malaysia. Pada 2025, Malaysia mengekspor 37,07 miliar meter kubik, sementara ekspor Indonesia mencapai 21,24 miliar meter kubik. Total ekspor empat negara di kawasan tercatat 73,81 miliar meter kubik, setara 5,3% arus ekspor global. Angka itu menunjukkan bahwa ekspor gas Asia Tenggara masih berarti, tetapi status eksportir tidak menjamin surplus akan bertahan. Indonesia memproduksi 71,8 miliar meter kubik gas pada 2025, setara 1,7% produksi dunia, dan belum mengimpor gas. Artinya, perubahan kawasan menjadi net importir gas ASEAN bukan alasan untuk menganggap pasokan nasional otomatis aman. Produksi, kebutuhan domestik, dan komitmen ekspor harus direncanakan bersama. Jika kebijakan hanya mengejar penjualan keluar, ruang untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri bisa makin terbatas ketika pasokan regional mengetat.

Impor, kerja sama, dan dampaknya bagi pengguna

Ketergantungan impor sudah menjadi kenyataan bagi sebagian negara ASEAN: Malaysia, Singapura, dan Thailand mengimpor total 26,7 miliar meter kubik gas, termasuk LNG, sepanjang 2025. Bagi pengguna, persoalannya bukan hanya asal gas, melainkan kepastian pasokan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Ketegangan geopolitik dapat memperburuk risiko tersebut; Oki Muraza menyebut penutupan Selat Hormuz dalam waktu cukup panjang telah memengaruhi suplai energi dunia. Karena itu, respons yang masuk akal bukan memilih antara produksi fosil dan energi terbarukan, melainkan memperkuat keduanya sambil membangun infrastruktur yang memadai. Oki mendorong percepatan proyek pengembangan gas alam serta investasi bersama ASEAN di sektor hulu, infrastruktur, dan energi terbarukan. Ia juga menyoroti potensi pengembangan gas di Indonesia Timur. Tanpa langkah konkret, kawasan berisiko menghadapi persaingan lebih ketat untuk pasokan; dengan kerja sama dan perencanaan yang matang, negara-negara ASEAN masih dapat mengurangi kerentanan itu.

Pasar Gas Berubah, Ketahanan Energi Diuji

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!