Tenun sebagai cerita, bukan sekadar bahan
TEXTUM adalah peragaan busana Cita Tenun Indonesia yang menempatkan tenun Nusantara sebagai pusat rancangan sekaligus medium untuk merangkai kisah budaya dan gagasan kontemporer. Di panggung utama Jakarta Fashion Week 2027, acara pada 31 Oktober 2026 mempertemukan keterampilan perajin dengan tafsir Priyo Oktaviano, Wilsen Willim, dan Eridani. Sebanyak 42 tampilan busana menelusuri tenun dari Bangka Belitung, Kalimantan Barat, dan Lampung, memperlihatkan bahwa pelestarian tidak harus membekukan kain dalam bentuk lama. Nama TEXTUM berakar dari kata Latin texere, yang berarti menenun atau menyusun; gagasan merangkai itu terasa tepat untuk peragaan yang menyatukan material, teknik, dan visi desain. Nilai acaranya bukan hanya pada hasil yang tampil di runway, melainkan juga pada upaya memberi ruang baru bagi kain dan komunitas yang menghidupkannya.

Tiga daerah, tiga cara membaca wastra
Priyo Oktaviano mengolah Cual Bangka menjadi 12 rancangan modern dan mewah, masing-masing enam busana pria dan enam busana wanita. Cual Muntok atau Limar Muntok memadukan teknik ikat dan sungkit, tetapi pengetahuan pembuatannya nyaris tak berlanjut karena hanya sedikit penenun senior yang masih menguasainya. Pelatihan CTI untuk mengajarkan kembali teknik Limar menjadi bagian penting dari cerita di balik koleksi; tafsir Priyo, dengan siluet androgini dan detail terinspirasi kemegahan Versailles, memberi kain itu bahasa baru tanpa menghapus asalnya. Dari Kalimantan Barat, Wilsen Willim menyusun 15 tampilan berbasis tenun Dayak Iban, terutama teknik sidan, dalam potongan bersih dan busana malam glamor. Teknik pileh yang lebih langka hanya muncul pada beberapa busana. Eridani, sementara itu, mengangkat Tenun Inuh dari Lampung, yang sempat hilang lebih dari satu abad, ke dalam 15 rancangan bertema MANGI (THE BECOMING).

Pelestarian harus berhadapan dengan kenyataan
Kekuatan TEXTUM JFW terletak pada keberaniannya membawa tenun langka ke hadapan publik, tetapi peragaan ini juga menunjukkan betapa rapuhnya proses pelestarian. Teknik pileh membutuhkan waktu lama dan hanya dikuasai tiga penenun senior binaan CTI; akibat keterbatasan tenaga serta proses pengerjaan yang rumit, jumlah kain yang dapat digunakan pun terbatas. Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan menambah kecemasan karena bahan pewarna alami bergantung pada sumber daya hutan sekitar. Ini bukan catatan sampingan: keberlanjutan kain terkait langsung dengan kondisi lingkungan dan mata pencaharian perajin. Pelatihan, kolaborasi desainer, dan perhatian penonton penting, tetapi tak cukup bila ekosistem yang menopang bahan dan keterampilan terus terancam. Dengan memperlihatkan batas tersebut, TEXTUM lebih meyakinkan sebagai ajakan bertindak daripada sekadar perayaan estetika.

Busana kontemporer sebagai jalan penerusan
Cita Tenun Indonesia membawa TEXTUM ke panggung utama JFW 2027 dengan pendekatan yang menghubungkan wawasan budaya dan persoalan lingkungan. Karya para desainer membuktikan bahwa tenun dapat hadir dalam busana masa kini tanpa kehilangan identitas daerahnya; namun nilai terbesarnya tetap terletak pada hubungan yang terbangun dengan para perajin dan pengetahuan yang mereka jaga. Ketika teknik langka dipelajari kembali dan kain memperoleh konteks baru, pelestarian menjadi kerja bersama, bukan sekadar pajangan. Karena itu, keberhasilan TEXTUM sebaiknya diukur bukan hanya dari 42 tampilan yang diperagakan, tetapi juga dari kesinambungan pelatihan, kesempatan berkarya, dan kepedulian pada sumber daya alam. Peragaan ini memberi contoh kuat tentang bagaimana mode dapat membuka perhatian pada wastra yang terancam. Tantangan berikutnya ialah memastikan perhatian itu bertahan setelah lampu runway padam.







