Belajar lewat warna dan kebersamaan
Lomba mewarnai anak adalah kegiatan belajar yang mengajak anak usia dini memilih warna, menuangkan gagasan, dan berani ikut serta dalam suasana yang menyenangkan. Karena itu, lomba semacam ini layak menjadi bagian dari peringatan Sumpah Pemuda: anak tidak hanya menjadi penonton seremoni, tetapi turut mengambil bagian melalui karya mereka.
Di Kota Gorontalo, 200 anak dari TK dan PAUD mengikuti lomba yang digelar Lembaga Pemerhati Lingkungan Hidup Nata Buana Lestari pada Rabu, 28 Oktober 2026. Jumlah peserta itu memperlihatkan bahwa kegiatan kreatif dapat menarik minat banyak keluarga sekaligus membuka ruang bagi anak untuk berekspresi. Nilai kegiatan ini bukan semata pada gambar yang selesai, melainkan pada pengalaman memilih, mencoba, berkonsentrasi, dan hadir bersama teman sebaya.
Dari Gorontalo ke Kecamatan Galang
Semangat serupa hadir di Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang. Pada Kamis, 29 Oktober 2026, PKG-PAUD Kecamatan Galang menggelar Lomba Mewarnai Pemuda Cilik Indonesia PAUD di TK Nurul Iman, Dusun I, Desa Kotasan. Anak-anak usia dini mengikuti kegiatan tersebut dalam rangka peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98.
Sekretaris Camat Galang, Herman Kaya Siregar, S.Sos., hadir sebagai bentuk dukungan pemerintah kecamatan terhadap pendidikan dan kreativitas anak. Kehadiran pemerintah penting, tetapi yang lebih menentukan adalah kesinambungan dukungan dari pendidik, keluarga, komunitas, dan pemerintah. Satu acara dapat membangkitkan antusiasme; ruang berkegiatan yang rutin dan mudah dijangkau membantu anak terus belajar serta berani mencoba.
Manfaat yang lebih luas daripada hasil karya
Mewarnai memberi anak kesempatan melatih motorik halus dan konsentrasi, mengenal perpaduan warna, serta mengembangkan cara berpikir kreatif. Kegiatan ini juga membantu anak menyampaikan gagasan dan membangun rasa percaya diri. Bagi kreativitas anak PAUD, pengalaman memilih warna sendiri sama berharganya dengan hasil akhir: prosesnya memberi ruang untuk bereksperimen tanpa harus menuntut semua gambar tampak seragam.
Lomba di Galang pun dirancang bukan hanya untuk menilai karya, tetapi juga memberi pengalaman belajar, melatih konsentrasi, mengenal warna, dan membangun keberanian untuk berpartisipasi. Inilah alasan aktivitas anak TK dan kegiatan anak usia dini semestinya dinilai dari keterlibatan serta pengalaman yang didapat, bukan semata-mata siapa yang menang. Dalam suasana yang mendukung, anak belajar berbagi ruang, mengikuti kegiatan bersama, dan menghargai ekspresi teman.
Jadikan ruang kreatif sebagai kebiasaan
Mengaitkan lomba dengan Sumpah Pemuda juga membuat nilai persatuan terasa lebih dekat dengan dunia anak. Anak-anak dapat merasakan kebersamaan melalui kegiatan yang sesuai usia, alih-alih hanya mendengar pesan kebangsaan dalam bentuk seremonial. Namun, lomba mewarnai tidak seharusnya berhenti sebagai agenda tahunan. Tanpa dukungan berkelanjutan dari lembaga pendidikan, orang tua, komunitas, dan pemerintah daerah, kesempatan mengembangkan kreativitas bisa tetap terbatas dan tidak merata.
Dua kegiatan di Gorontalo dan Galang memperlihatkan bahwa lomba mewarnai dapat menjadi pintu masuk menuju pembelajaran yang lebih menyenangkan dan partisipatif. Penyelenggara patut mempertahankan pendekatan yang menempatkan proses anak di atas hasil lomba. Kesimpulannya, kegiatan kreatif seperti ini paling bermakna ketika tidak hanya memeriahkan peringatan Sumpah Pemuda, tetapi juga menjadi bagian dari kesempatan rutin bagi anak untuk berkarya, belajar bersama, dan percaya pada gagasannya.






