Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Sel Penjara hingga Melodi Doa: Kisah ‘Hidup MemuliakanMu’

Dari Sel Penjara hingga Melodi Doa: Kisah ‘Hidup MemuliakanMu’
Minat|Menyanyi

Lagu dari balik jeruji: ketika doa menjelma melodi

Lagu Hidup MemuliakanMu adalah sebuah lagu spiritual doa bernuansa keagamaan yang diciptakan Putri Candrawathi di dalam penjara dan dirilis ke publik lewat suara putrinya, Trisha Eungelica, sebagai bentuk ekspresi iman, penyangga batin, dan komunikasi keluarga dalam pusaran kasus hukum yang menyita perhatian publik. Putri sulung pasangan Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi, Trisha Eungelica rilis proyek musik terbarunya bertajuk Hidup MemuliakanMu pada Senin, 14 September 2026. Yang menjadikannya berbeda dari rilis musik biasa adalah fakta bahwa ini merupakan musik dari penjara: lirik dan nada diciptakan Putri di tengah masa tahanannya. Di titik ini, karya tersebut tidak bisa dinilai sekadar sebagai single rohani; ia adalah fragmen kehidupan keluarga yang sedang diuji dan memilih menanggapinya lewat doa yang dinyanyikan.

Proyek musik sebagai jembatan ibu–anak dan ruang pengakuan

Sejak awal, Trisha tidak memosisikan Hidup MemuliakanMu sebagai langkah debut artis yang dingin dan terencana, melainkan sebagai “lil something from mama”, sebuah persembahan kecil yang sarat makna. Ia membocorkan proyek ini lewat broadcast channel dengan kalimat lugu, “mama bikin laguu loh? Ditunggu yeah progressnya,” sambil bercanda soal “takut debut jadi idol”. Candaan itu menegaskan satu hal: proyek ini lahir dari ranah intim, bukan industri. Di balik teknik produksi dan promosi media sosial, terdapat kebutuhan manusiawi untuk menyambungkan dua ruang yang terpisah tembok penjara. Trisha meminjam tubuh dan suaranya untuk menjadi perpanjangan kehadiran ibunya di ruang publik—sebuah tindakan yang, disukai atau tidak, adalah bentuk pengakuan bahwa kisah keluarga mereka belum selesai hanya karena vonis dijatuhkan.

Resonansi publik: antara empati, amarah, dan kehausan akan keadilan

Begitu Trisha Eungelica rilis Hidup MemuliakanMu, respons publik langsung terbelah. Di satu sisi, banyak komentar yang menyoroti kekuatan pesan spiritual lagu ini; ada yang menulis bahwa tugas manusia adalah “tetap bertahan di dalam badai itu” dan terus memuliakan Tuhan. Bagi kelompok ini, musik dari penjara menjadi saksi bahwa iman dapat bertahan di tengah badai hukum dan stigma. Di sisi lain, nada sinis bermunculan: tudingan aji mumpung, sindiran “minimal malu”, hingga pertanyaan frontal soal apakah Trisha menganggap orang tuanya bersalah atau tidak. Reaksi keras tersebut menunjukkan bahwa publik belum memisahkan karya seni dari jejak hukum penciptanya. Lagu spiritual doa ini akhirnya ikut memikul beban kemarahan sosial yang belum tuntas, sekaligus membuka lagi perdebatan tentang batas antara empati kepada keluarga terpidana dan tuntutan keadilan bagi korban.

Dari kesunyian penjara ke ruang ibadah batin kolektif

Hidup MemuliakanMu lahir dari kesunyian penjara, namun memilih berbahasa doa, bukan pembelaan diri. Dari judulnya saja, lagu ini membawa pesan keagamaan tentang hubungan manusia dengan Tuhan di tengah badai kehidupan. Di tangan Trisha, musik dari penjara bergeser menjadi ruang penyembuhan: bagi dirinya yang harus memikul nama keluarga, bagi ibunya yang merangkai lirik di balik terali, dan bagi pendengar yang menemukan cermin atas luka masing-masing. Di sini, seni musik berperan ganda—sebagai medium spiritual untuk memuliakan Tuhan dan sebagai kanal emosional untuk mengelola rasa bersalah, marah, atau lelah yang tidak terucap. Bahwa masyarakat terbelah meresponsnya bukan kegagalan, melainkan bukti bahwa lagu spiritual doa semacam ini menyentuh wilayah yang paling sensitif: pertemuan antara iman, keadilan, dan kemanusiaan.

Kesimpulannya, Hidup MemuliakanMu memaksa kita menatap kompleksitas: seorang ibu terpidana yang menulis doa menjadi lagu, seorang anak yang mengubahnya jadi suara publik, dan masyarakat yang masih berjuang menyeimbangkan keinginan memaafkan dengan tuntutan keadilan. Kita boleh menolak glorifikasi pelaku, tetapi menutup telinga terhadap jeritan batin yang disalurkan lewat musik hanya akan memiskinkan percakapan tentang bagaimana sebuah keluarga bertahan setelah skandal hukum menghancurkan segalanya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!