Inti Masalah: AI, Harga RAM Naik, dan Hilangnya Ponsel Murah
Krisis harga RAM ponsel naik dan melonjaknya biaya chip AI ponsel mahal adalah situasi ketika permintaan memori untuk pusat data kecerdasan buatan menggerus pasokan bagi perangkat konsumen, sehingga ponsel murah menghilang dari katalog, spesifikasi ponsel turun, dan pembeli budget terjebak antara membayar lebih mahal atau menerima performa yang lebih rendah dibanding generasi sebelumnya. Fenomena ini bukan sekadar fluktuasi siklus teknologi, tetapi pergeseran struktur pasar yang menempatkan keuntungan produsen di segmen premium, sementara pengguna dengan dana terbatas dikorbankan. Gelombang AI di smartphone memperlebar jurang antara raksasa dan merek kecil. Ponsel AI membutuhkan chip yang lebih baru dan memori yang lebih besar, sehingga biaya minimum untuk "sekadar dianggap serius" di industri ikut naik. Di saat bersamaan, laporan memori menunjukkan bahwa RAM kini menyumbang hingga 64% dari biaya komponen untuk ponsel ultra murah seharga USD 99 (sekitar Rp1.600.000) atau lebih rendah. Jika memori menjadi komponen paling mahal, tidak mengejutkan kalau ponsel budget terjangkau menjadi spesies yang terancam punah.

Permintaan AI Menggerus Pasokan Memori Konsumen
Akar masalahnya jelas: chip memori diborong pusat data AI, bukan lagi didistribusikan merata ke industri elektronik konsumen. Ketika data center berlomba membangun layanan AI generatif, mereka membeli DRAM dan NAND dalam jumlah besar, membuat jumlah chip yang tersedia bagi ponsel, laptop, dan konsol game menyusut. Hasilnya langsung terasa di kantong: harga perangkat meningkat dan spesifikasinya justru tidak membaik. Data pemantau harga menunjukkan konsumen kini bisa membayar 50 euro, 100 euro, hingga 200 euro lebih mahal tergantung kapasitas memori yang dibeli. Model seri populer seperti Samsung Galaxy A dijual sekitar 50 euro (sekitar USD 57) lebih mahal dibanding tahun lalu dengan spesifikasi memori yang hampir sama. Lebih parah lagi, beberapa laptop Windows mulai dipasarkan dengan RAM 8 GB alih-alih 16 GB, tanpa penurunan harga, sehingga pengguna memperoleh perangkat dengan kemampuan lebih rendah meskipun membayar harga yang sama. Ini gambaran telanjang bagaimana memori AI untuk server mengubah standar konsumen menjadi kompromi.

Segmen Low-End: Tidak Lagi Menguntungkan, Spesifikasi Dipotong
Di dunia smartphone, laporan komponen menunjukkan angka yang mengkhawatirkan: RAM menyumbang hingga 64% biaya komponen ponsel ultra murah seharga USD 99 (sekitar Rp1.600.000), dan sekitar 59% di segmen USD 100–400 (sekitar Rp1.600.000–Rp6.400.000). Sebagai perbandingan, memori hanya 32% dari total biaya komponen di segmen tersebut pada kuartal ketiga 2025. Ketika satu bagian komponen menyedot lebih dari separuh biaya, produsen tidak punya banyak ruang untuk memberi layar bagus, kamera layak, dan chipset baru. Titik kritisnya adalah di USD 400 (sekitar Rp6.400.000): produsen harus menaikkan harga atau memangkas perangkat dari lini produk. Omdia memperkirakan penjualan smartphone di bawah USD 400 akan turun 22% dibanding tahun lalu. Tidak mengherankan jika product low-end sudah mulai dianggap tidak menguntungkan dan permintaannya berisiko turun karena harga ritel terus melonjak. Untuk bertahan, vendor ponsel mulai menurunkan spesifikasi ponsel: panel display diturunkan kualitasnya, jumlah dan ukuran sensor kamera dikurangi, dan chipset generasi sebelumnya dipakai supaya anggaran bisa dialihkan ke RAM.

Merek Kecil Tersisih, Pembeli Budget Kehilangan Pilihan
Gelombang AI bukan hanya menaikkan harga, tetapi menjadi "biaya masuk" baru yang menyingkirkan merek kecil dari kompetisi. Mereka dulu bisa bersaing dengan layar yang layak, kamera yang bagus, dan kepribadian produk yang unik. Kini, ponsel AI membutuhkan chip yang lebih baru, memori besar, infrastruktur cloud, kemitraan model AI, dukungan perangkat lunak panjang, dan anggaran pemasaran ekstra. Bagi pemain kecil, ini bukan lagi arena kreativitas, melainkan tiket mahal yang sulit ditebus. Meizu adalah contoh dramatis: pada 2024 mereka mengakhiri proyek ponsel tradisional dan beralih fokus ke perangkat berbasis AI. Saat raksasa seperti Apple menguasai lebih dari dua pertiga pasar ponsel di atas USD 600 (sekitar Rp9.600.000), dan lebih dari tiga perempat di harga USD 1.000 (sekitar Rp16.000.000) atau lebih, jelas bahwa uang terpusat di segmen premium. Segmen ini bahkan diprediksi masih tumbuh meskipun pengiriman ponsel global menurun. Sementara itu, ponsel lebih mahal di atas USD 400 justru diperkirakan naik pengapalannya sebesar 5,7% tahun ini. Artinya, pembeli berduit mendapatkan lebih banyak opsi AI canggih, sedangkan konsumen budget harus menerima ponsel dengan spesifikasi lebih rendah atau harga yang melompat.
Ke Depan: Krisis RAM Berlarut dan Realitas Baru Pembeli Budget
Kabar buruknya, ini bukan badai sebentar. Produsen chip utama memperkirakan keterbatasan pasokan akan terus berlanjut seiring meningkatnya permintaan dari industri AI, dengan salah satu pemain seperti Micron memprediksi kendala pasokan chip hingga setidaknya 2028. Sementara itu, Counterpoint Research memperkirakan ponsel dengan kemampuan GenAI akan menyumbang 36% pengiriman global pada 2025 dan naik menjadi 45% pada 2026. AI bukan lagi bonus, melainkan standar baru yang memaksa setiap produsen membayar tiket mahal. Di sisi lain, Omdia menilai vendor ponsel secara proaktif dan bertahap mundur dari segmen low-end tahun ini karena produk di bawah USD 400 kian tidak menguntungkan. Di atas harga tersebut, pengapalan justru naik 5,7%. Gambaran praktis bagi konsumen: jangan berharap harga ponsel budget terjangkau membaik dalam waktu dekat. Banyak orang akan menghadapi dilema pahit, apakah menunggu lebih lama, membayar lebih mahal, atau menerima ponsel dengan spesifikasi ponsel turun dibanding generasi sebelumnya. Dalam ekosistem yang kini lebih berpihak pada pembeli kaya dan merek besar, pengguna budget perlu jauh lebih kritis menilai spek, bukan hanya terpikat label "AI" di brosur.

