Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Penanaman Mangrove Masif: Komunitas Lokal Tangkal Rob dan Abrasi

Penanaman Mangrove Masif: Komunitas Lokal Tangkal Rob dan Abrasi
Minat|Asia Tenggara

Penanaman Mangrove: Tanggul Hidup Melawan Rob dan Abrasi

Penanaman mangrove adalah upaya sadar menanam dan merawat pohon mangrove di kawasan pesisir untuk membentuk “tanggul hidup” yang menahan abrasi pesisir, meredam rob dan banjir rob, sekaligus memicu restorasi ekosistem yang mendukung kehidupan masyarakat di sekitarnya melalui perlindungan garis pantai dan pemulihan habitat alami. Di pesisir utara Semarang, gagasan ini telah bergeser dari wacana menjadi gerakan nyata. Mangrove diperlakukan bukan sebagai dekorasi hijau, melainkan infrastruktur alami yang berjalan seiring dengan tanggul beton. Pandangan bahwa solusi pesisir hanya urusan proyek fisik pemerintah pelan-pelan terpatahkan; warga, akademisi, dan pemerintah mulai duduk satu meja, menaruh bibit di lumpur, dan menerima pohon sebagai sekutu.

KWT Cantik Bahari: Ibu-Ibu yang Mengganti Trauma dengan Akar Mangrove

Kisah Tambakmulyo memperlihatkan betapa penanaman mangrove mengubah relasi warga dengan laut. Dewi Setiyorini tumbuh dengan rob setinggi paha yang saban waktu masuk ke rumah sejak ia lahir pada 1985. Daratan di kampung paling ujung Tanjung Mas itu bertahun-tahun dikikis abrasi pesisir, rumah-rumah tenggelam dalam gelombang pasang berulang. Tanggul laut (sheet pile) setinggi sekitar tiga meter yang dibangun pemerintah memang menghentikan air rob masuk ke kampung, tetapi bagi Dewi dan Komunitas Wanita Tani (KWT) Cantik Bahari, beton saja tidak cukup. Mereka memilih menanam mangrove di sepanjang pinggir sheet pile sebagai upaya mereboisasi garis pantai Tambaklorok yang terkikis.

Selama lima tahun, ibu-ibu KWT Cantik Bahari menanam mangrove secara periodik. “Sejak kita menanam mangrove, rob yang biasanya selalu masuk ke dalam kampung, sekarang bisa tertahan sedikit sedikit,” ujar Dewi. Bagi mereka, batang-batang mangrove bukan sekadar tanaman, melainkan penyangga psikologis untuk memupus trauma banjir. Eti Prasetyani, anggota KWT, mendapat jatah menanam hingga 500 meter bibit mangrove bantuan perusahaan listrik, telaten melubangi tanah berlumpur dan menancapkan bambu penyangga agar tanaman tidak mudah terhempas angin. Ketika mangrove yang ditanam bersama perusahaan itu telah mencakup 3–4 hektare dengan 15 ribu pohon sejak 2022, warga mulai berani membayangkan masa depan tanpa ketergantungan mutlak pada sheet pile.

Mangkang Kulon: Kampus Turun ke Lumpur, Kolaborasi Lintas Institusi

Gelombang penanaman mangrove tidak berhenti di Tambakmulyo. Fakultas Sains dan Teknologi UIN Walisongo menggelar aksi penanaman 1.000 bibit Rhizophora di Pantai Mangkang Kulon sebagai bagian program Pengelolaan Sumberdaya Biomaritim Berkelanjutan Masyarakat Pesisir PANTURA yang didanai BOPTN Tahun 2026. Kegiatan itu melibatkan sekitar 160 peserta lintas institusi, dari Dinas Lingkungan Hidup kota, lembaga keuskupan, fakultas lingkungan universitas lain, hingga kelurahan, tokoh masyarakat dan pegiat konservasi mangrove lokal. Inilah contoh restorasi ekosistem pesisir yang tidak eksklusif milik ilmuwan. Dekan FST menegaskan bahwa menanam pohon adalah aksi nyata menjaga lingkungan dan generasi mendatang, dan bahkan punya nilai ajaran keagamaan.

Pendekatan Mangkang Kulon penting karena menjawab kritik umum pada gerakan hijau: terlalu seremonial, kurang perawatan. Subkoordinator Konservasi Keanekaragaman Hayati DLH kota mengingatkan agar keterlibatan perguruan tinggi tidak berhenti ketika 1.000 bibit mangrove selesai ditanam; program berkelanjutan diperlukan agar tanaman benar-benar tumbuh dan warga paham pentingnya menjaga ekosistem pesisir. Pegiat konservasi lokal, Ferry Agung Istiasmara, mendampingi teknik penanaman, dari penempatan bibit sampai cara adaptasi dengan kondisi kawasan. Dukungan lembaga legislatif menambahkan dimensi kebijakan. Penanaman mangrove di Mangkang Kulon, dengan 160 orang menjejak lumpur bersama, menghadirkan satu panggung di mana ilmu, kebijakan, pengalaman praktis, dan kepedulian warga saling menguatkan.

Dari Beton ke Akar: Mengapa Mangrove Harus Jadi Arsitek Utama Pesisir

Pengalaman Semarang menunjukkan bahwa mengandalkan beton saja untuk menahan rob dan abrasi pesisir adalah strategi jangka pendek. Sheet pile di Tambakmulyo memang menahan air laut agar tidak lagi masuk ke kampung, tetapi warga memahami bahwa tanggul mati tidak memperbaiki ekosistem dan tidak selalu bisa melawan dinamika laut. Eti bahkan berharap suatu saat mangrove bisa menggantikan fungsi sheet pile untuk menahan abrasi. Aspirasi ini seharusnya dibaca serius oleh pemerintah dan akademisi: akar yang menjuntai dan rumpun daun yang memecah gelombang adalah teknologi alami yang bekerja 24 jam tanpa listrik dan tanpa kontrak proyek.

Di Mangkang Kulon, pemerintah melalui dinas lingkungan hidup terang-terangan mendorong kampus agar tidak berhenti pada seremoni penanaman, tetapi berlanjut ke edukasi, riset, pendampingan, dan pemberdayaan pesisir. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, komunitas, dan masyarakat diarahkan menjadi ekosistem kerja jangka panjang, bukan event tahunan yang foto-fotonya segera tenggelam di media sosial. Dengan penanaman mangrove sebagai poros, restorasi ekosistem pesisir mulai dipahami sebagai proses sosial, bukan sekadar proyek teknis. Kebijakan pesisir yang mengabaikan suara komunitas seperti KWT Cantik Bahari, atau menihilkan inisiatif kampus, pada dasarnya menolak salah satu tameng paling efektif yang dimiliki kota terhadap krisis pesisir.

Kesimpulan: Menata Ulang Kekuasaan Atas Pesisir

Jika rob dan banjir rob selama ini dianggap takdir yang tak bisa diubah, gerakan penanaman mangrove di Tambakmulyo dan Mangkang Kulon membantahnya. Ibu-ibu KWT Cantik Bahari menunjukkan bahwa warga pesisir bukan korban pasif, tetapi pelaku restorasi ekosistem yang sanggup menahan abrasi dengan 15 ribu pohon yang telah ditanam sejak 2022. Di sisi lain, penanaman 1.000 bibit Rhizophora oleh 160 peserta lintas institusi di Mangkang Kulon membuktikan bahwa kampus dan pemerintah dapat menjadi sekutu ketika mau turun ke lumpur bersama.

Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah penanaman mangrove penting, melainkan apakah kita berani menjadikannya pusat strategi pesisir. Itu berarti menyusun kebijakan yang memprioritaskan tanggul hidup, memastikan pendanaan jangka panjang untuk perawatan, dan menempatkan komunitas lokal sebagai pemegang pengetahuan, bukan objek proyek. Pesisir yang selamat dari abrasi pesisir bukan hanya garis pada peta; ia adalah hasil keputusan kolektif untuk memercayai akar, daun, dan kerja warga sebagai pertahanan pertama terhadap laut yang berubah.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!