Satu aplikasi, tiga jenis pekerjaan kreatif
Affinity adalah aplikasi kreatif terpadu untuk mengolah foto, membuat desain vektor, dan menyusun tata letak dokumen dalam satu ruang kerja, sehingga pengguna dapat merampungkan berbagai tahap proyek tanpa berpindah aplikasi. Canva meluncurkan Affinity di iPad secara gratis melalui App Store, memperluas ketersediaannya dari Windows dan macOS ke perangkat Apple. Aplikasi ini menggabungkan kemampuan Affinity Photo, Affinity Designer, dan Affinity Publisher, yang sebelumnya merupakan produk terpisah. Bagi kreator, nilai utamanya bukan sekadar jumlah fitur, melainkan alur kerja yang lebih ringkas: Personas untuk Sketch, Pixel, Vector, dan Layout memungkinkan ilustrasi, penyuntingan foto, serta tata letak dikerjakan di satu tempat. Ini langkah yang lebih berarti daripada sekadar membawa perangkat lunak desktop ke layar tablet.
Versi iPad disebut memiliki kemampuan setara desktop, termasuk pemrosesan RAW, penggabungan HDR, panorama, dan focus stacking. Dukungan Apple Pencil, pengelolaan layer kompleks, serta pilihan brush yang luas membuatnya relevan bagi ilustrator dan fotografer, bukan hanya pengguna yang ingin membuat desain ringan. Affinity juga dapat membuka berkas dari Photoshop, Illustrator, dan InDesign, sebuah kelebihan praktis bagi orang yang bekerja dengan berkas dari ekosistem Adobe. Namun, ketersediaan sebagian besar fitur inti secara gratis tidak berarti setiap kemampuan bebas biaya: fitur AI tertentu tetap memerlukan langganan Canva Pro.

Linux beralih dari trik ke dukungan resmi
Sementara ekspansi ke iPad sudah terwujud, Affinity untuk Linux masih dalam pengembangan aktif. Perusahaan mengonfirmasi tengah menyiapkan versi resmi, tetapi belum menyebut tanggal rilis ataupun distribusi Linux yang akan didukung. Perbedaan tahap ini penting: pengguna iPad dapat mengunduh dan mulai bekerja, sedangkan pengguna Linux baru mendapat alasan untuk berharap.
Selama ini, sebagian pengguna Linux menjalankan versi Windows melalui Wine, skrip pemasangan, paket AppImage tidak resmi, atau mesin virtual. Cara-cara tersebut bisa berfungsi, tetapi laporan kendala login Canva, WebView2, screen tearing, dan kinerja saat menangani proyek besar menunjukkan bahwa kompatibilitas tidak sama dengan dukungan native. Jika versi resmi hadir dengan baik, pengguna tak lagi harus merakit solusi sementara untuk memakai aplikasi kreatif profesional. Itu penting karena keterbatasan perangkat lunak semacam ini selama ini ikut mendorong sebagian orang bertahan di Windows atau macOS, meski mereka menginginkan fleksibilitas Linux.
Alternatif Adobe yang menjanjikan, dengan batas yang jelas
Bagi orang yang mencari alternatif Adobe, arah Affinity menarik karena dua perubahan ini menyasar hambatan berbeda. Aplikasi terpadu dan gratis di iPad mengurangi biaya awal serta kerumitan berpindah berkas; rencana Linux menjanjikan pilihan sistem operasi yang lebih luas. Penyatuan tiga aplikasi Affinity menjadi satu terjadi setelah Canva mengakuisisi Serif pada 2024. Kombinasi pengolah foto, vektor, dan tata letak dalam satu aplikasi dapat memudahkan pekerja lepas, pelajar, atau tim kecil yang kerap menangani jenis aset berbeda.
Namun, calon pengguna sebaiknya membedakan fitur yang sudah tersedia dari janji pengembangan. Di iPad, sebagian besar fitur utama gratis, tetapi fitur AI tertentu berada di balik langganan Canva Pro. Di Linux, tanggal rilis, rincian distribusi, dan cakupan dukungan belum diumumkan. Karena itu, jangan mengganti alur kerja penting di Linux hanya berdasarkan kabar pengembangan; tunggu versi resmi dan uji kompatibilitas berkas serta kinerja pada perangkat sendiri. Untuk pengguna iPad, aplikasi desain Affinity sudah menawarkan pilihan yang lebih konkret hari ini. Kesimpulannya, ekspansi ini membuat Affinity makin layak dipertimbangkan sebagai alternatif Adobe, tetapi kesiapan nyata di Linux masih harus dibuktikan.






