Perjalanan 150 km tanpa isi ulang
Yadea Orsta P adalah skuter listrik yang diuji menempuh lebih dari 150 kilometer dari Bandung ke Bogor tanpa pengisian ulang, termasuk melewati tanjakan Puncak dan tiba dengan sisa baterai 8 persen. Hasil ini memberi gambaran konkret tentang jarak tempuh skuter listrik dalam perjalanan panjang, bukan sekadar klaim di atas kertas. Tes touring listrik tersebut dilakukan oleh kanal YouTube Mama Rizky bersama rombongan pengguna motor listrik. Semua kendaraan memulai perjalanan dengan baterai penuh dan segel dipasang untuk memastikan tidak ada pengisian selama perjalanan. Bagi calon pengguna yang sesekali bepergian antarkota, hasil ini patut diperhatikan: rute menantang berhasil dituntaskan. Namun, angka 8 persen bukan cadangan yang besar. Tes ini menunjukkan kemampuan dalam satu kondisi perjalanan, bukan jaminan bahwa setiap pengendara akan memperoleh jarak serupa.
Konsumsi baterai berubah sepanjang rute
Catatan perjalanan memperlihatkan baterai Yadea Orsta P terkuras secara berarti sebelum rombongan mencapai bagian paling menantang. Setelah sekitar 32 kilometer, indikator menunjukkan 82–84 persen. Pada jarak 81 kilometer, pengendara berbobot sekitar 100 kilogram mencatat sisa 41 persen, sedangkan pengendara berbobot sekitar 77 kilogram masih memiliki 46 persen. Selisih ini mengingatkan bahwa angka jarak tempuh tidak berdiri sendiri: beban pengendara dapat memengaruhi konsumsi daya. Perbedaan kecil pada tahap awal pun bisa berarti ketika perjalanan masih panjang dan tanjakan menanti. Karena itu, calon pemilik sebaiknya tidak menjadikan satu hasil touring sebagai patokan pasti untuk rutinitasnya. Bobot, kondisi jalan, kecepatan, dan gaya berkendara dapat mengubah konsumsi baterai. Bukti ini meyakinkan sebagai demonstrasi, tetapi belum menggantikan perhitungan cadangan yang hati-hati.
Tanjakan Puncak menjadi ujian sesungguhnya
Bagian paling relevan bagi calon pengguna muncul di jalur menuju Puncak Pass. Dengan baterai yang terus menurun, Yadea Orsta P harus menghadapi rangkaian tanjakan panjang dan curam. Pengendara memakai mode Sport untuk mendapat tenaga tambahan; indikator sempat berada di kisaran 24–27 persen saat menanjak, lalu tercatat 16 persen ketika pengendara berbobot sekitar 100 kilogram mencapai Puncak Pass. Angka itu menunjukkan bahwa skuter sanggup melanjutkan perjalanan dalam kondisi berat, tetapi juga menegaskan pentingnya memperhatikan sisa daya sebelum memasuki tanjakan. Setelah puncak, rombongan melanjutkan perjalanan ke Bogor melalui jalur turun dan menggunakan pengereman regeneratif. Fitur tersebut menjadi bagian dari perjalanan, bukan alasan untuk menganggap daya yang terpakai di tanjakan akan pulih sepenuhnya. Uji ini lebih berguna sebagai gambaran realistis tentang naik-turunnya konsumsi daripada sebagai janji jarak yang selalu sama.
Apa artinya bagi calon pengguna?
Yadea Orsta P akhirnya tiba di kawasan Warung Jambu, Bogor, dengan baterai tersisa 8 persen pada unit yang dikendarai pengendara berbobot sekitar 100 kilogram. Itu hasil yang mengesankan untuk perjalanan lebih dari 150 kilometer tanpa isi ulang, terutama karena rute mencakup tanjakan Puncak. Bagi calon pengguna yang mempertimbangkan perjalanan jarak jauh, tes ini menunjukkan bahwa rute antarkota tertentu mungkin dapat ditempuh, tetapi perencanaan tetap penting. Sisakan ruang untuk variasi bobot, kondisi jalan, kecepatan, dan gaya berkendara; jangan merancang perjalanan seolah-olah baterai pasti tersisa 8 persen. Hasil satu rombongan tidak menjamin hasil identik dalam penggunaan sehari-hari. Kesimpulannya, tes Bandung–Bogor memperkuat daya tarik Orsta P sebagai skuter untuk perjalanan panjang, tetapi angka akhirnya harus dibaca sebagai capaian pengujian, bukan kepastian bagi semua pemilik.






