Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Lari Biasa ke Geopark Run: Sport Tourism yang Mengubah Kota Kecil

Dari Lari Biasa ke Geopark Run: Sport Tourism yang Mengubah Kota Kecil
Minat|Lari Jalanan

Geopark Run Indonesia: Lari Sebagai Gerakan Wisata

Geopark Run Indonesia adalah rangkaian event lari destinasi wisata yang menjadikan aktivitas berlari sebagai pintu masuk untuk mengenal kawasan geopark, menikmati alam, merasakan budaya lokal, dan menghidupkan ekonomi daerah melalui konsep sport tourism lari yang terencana. Ini bukan sekadar lomba lari dengan garis start dan finish, melainkan platform yang sengaja dirancang untuk mempertemukan pelari, komunitas, destinasi, dan mitra dalam satu gerakan wisata berbasis olahraga. Kekuatan utama Geopark Run ada pada sikapnya yang terang‑terangan memosisikan destinasi sebagai pusat pengalaman. Lintasan dipilih bukan hanya karena teknis lari, tetapi karena mampu menampilkan karakter geopark, dari lanskap hingga kehidupan masyarakat sekitar. Ketika banyak event lari masih fokus pada catatan waktu, seri ini justru berani mengatakan bahwa lari hanyalah pintu, sementara cerita utamanya adalah wilayah yang dikunjungi.

Ijen Geopark Run: 839 Pelari dan Bukti Nyata Daya Tarik Sport Tourism

Ijen Geopark Run adalah contoh paling jelas bagaimana konsep sport tourism lari bekerja di lapangan. Pada 23 Agustus 2026, ajang ini digelar di kawasan Ijen UNESCO geopark dan diikuti 839 peserta yang berlari dari Paltuding Camp dalam tiga kategori: 5K, 10K, dan 21K. Fakta bahwa ratusan pelari datang dari berbagai daerah menunjukkan bahwa magnet utama acara bukan hanya lombanya, tetapi juga daya tarik kawasan Ijen sebagai destinasi. Penyelenggara sengaja meramu pengalaman lari dengan paparan pariwisata dan budaya lokal. Pelari tidak hanya mengukur pace dan waktu, tetapi juga melintasi panorama Banyuwangi–Bondowoso, sekaligus menikmati pertunjukan tari daerah yang disajikan di sekitar kegiatan. "Tak hanya menjadi ajang olahraga, Ijen Geopark Run juga menjadi sarana untuk memperkenalkan potensi pariwisata dan budaya lokal kepada peserta". Dari sini terlihat: ketika lari ditempatkan di dalam cerita destinasi, angka ratusan peserta bukan batas, melainkan awal.

Dari Satu Event ke National Series: Ambisi Besar Geopark Run

Perkembangan Geopark Run Indonesia tidak terjadi begitu saja. Konsep ini digagas Yv Tri Saputra sejak 2018 sebagai inisiatif sport tourism yang menggabungkan lari dengan promosi geopark. Sejak itu, Geopark Run perlahan bergeser dari satu ajang lokal menjadi platform nasional. Memasuki tahun kedelapan, seri ini resmi dikembangkan menjadi rangkaian 2026–2027 yang mencakup empat destinasi: Ijen, Minang, Ciletuh, dan Belitong. Rencana menjadikannya national series bahkan sudah disiapkan sejak 2020, lalu tertunda oleh pandemi dan baru diwujudkan kembali dalam periode 2026–2027. Menariknya, penyelenggara tidak bersembunyi di balik label komunitas; mereka menyebut diri sebagai event yang dikelola profesional dengan pendanaan dari biaya pendaftaran dan sponsor. Namun dalam narasi resmi, tujuan finansial bukan satu‑satunya orientasi. Event ini secara terbuka diposisikan sebagai gerakan sport tourism yang ingin menghidupkan ekonomi lokal dan memperkuat identitas kawasan UNESCO geopark maupun calon UNESCO geopark.

Ekonomi Berputar di Sekitar Lintasan: Kota Kecil Menjadi Destinasi

Dampak paling terasa dari Geopark Run Indonesia adalah perputaran ekonomi di kota‑kota yang selama ini jarang berada di radar pelari nasional. Dalam perspektif sport tourism, kehadiran ribuan pelari ke suatu daerah membuat kebutuhan mereka bersentuhan dengan hotel, penginapan, restoran, rumah makan, transportasi, pusat oleh‑oleh, UMKM, jasa dokumentasi hingga destinasi wisata. Pada Ijen Geopark Run, sebanyak 35 booth UMKM ikut hadir dan mendapatkan ruang langsung untuk menjual produk kepada peserta. Angka peserta yang terus naik di berbagai seri menunjukkan tren lebih besar: event lari berbasis destinasi mampu mengubah kota kecil menjadi panggung sport tourism nasional. Di satu sisi, pelari mendapatkan pengalaman baru berlari di lanskap geopark. Di sisi lain, masyarakat lokal menikmati efek ganda: promosi kawasan serta penjualan produk yang meningkat. Secara ekonomi, uang berputar di sekitar event tanpa harus mengandalkan mega proyek pariwisata top‑down.

Menuju Minang, Ciletuh, Belitong: Masa Depan Geopark Run

Ijen Geopark Run hanyalah pembuka. Rangkaian Geopark Run Series 2026–2027 sudah punya jadwal jelas: Minang Bukittinggi pada 1 November 2026, Ciletuh Sukabumi pada 17 Januari 2027, dan penutup di Belitong pada 18 April 2027. Situs resmi penyelenggara bahkan menyebut target lebih dari 10.000 peserta untuk seluruh rangkaian periode ini. Artinya, skala gerakan akan jauh lebih besar daripada satu event di satu kota. Di Minangkabau, Geopark Run dipakai sebagai sarana mengenalkan Geopark Ranah Minang dan mendorong kawasan tersebut menuju pengakuan UNESCO geopark. Polanya jelas: kawasan yang sebelumnya dilihat semata sebagai kota wisata, kini tampil sebagai ekosistem geopark lengkap dengan lanskap dan budaya. Pada akhirnya, Geopark Run adalah model yang mencoba mempertemukan tiga kepentingan: olahraga, pariwisata, dan ekonomi daerah. Bila pendekatan ini konsisten, sport tourism lari bukan hanya tren sesaat, tetapi bisa menjadi strategi jangka panjang mengangkat destinasi geopark ke panggung nasional – bahkan global.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!