Workshop Parenting 2026: Saat Orang Tua Naik Kelas Bersama Anak
Workshop parenting 2026 adalah rangkaian seminar pengasuhan anak dan pertemuan orang tua di berbagai kota yang menggabungkan ilmu pendidikan, nilai agama, serta penguatan keluarga agar orang tua mampu mendampingi anak menghadapi tantangan teknologi, sosial, dan spiritual secara lebih terarah dan berjejaring. Di tengah gempuran gawai, media sosial, dan kecerdasan buatan, acara-acara ini bukti bahwa orang tua mulai sadar: mengasuh anak hari ini tidak bisa hanya mengandalkan naluri dan nasihat turun-temurun. Dibutuhkan ilmu, komunitas, dan keberanian mengubah cara mendampingi. Dari kampus bergengsi hingga aula DPRD, satu pesan yang bergema sama: peran orang tua adalah fondasi, bukan pelengkap. Mengabaikan kesempatan belajar di berbagai workshop ini sama saja membiarkan keluarga berjalan tanpa kompas yang jelas.
Parents Gathering UPH: Orang Tua dan Kampus Harus Satu Tim
Parents Gathering sebagai bagian dari rangkaian UPH Festival 2026 di Auditorium Grand Chapel, Kampus Utama UPH Lippo Village, mempertemukan orang tua dan pimpinan universitas untuk membangun sinergi dalam mendampingi mahasiswa dan mempersiapkan mereka menjadi pribadi berkarakter dan berdampak. Ini bukan sekadar seremoni penyambutan mahasiswa baru, tetapi pernyataan tegas bahwa kampus tidak mau bekerja sendirian. Rektor menegaskan, ketika anak masuk, universitas dan keluarga menjadi satu rumah besar dengan visi yang sama membentuk kompetensi sekaligus karakter. Di sisi lain, orang tua diajak mengubah gaya pengasuhan: dari mengatur semua keputusan menjadi mentor yang tahu kapan harus bicara dan kapan memberi ruang. Mengabaikan fase transisi ini berisiko melahirkan generasi yang pintar secara akademis tetapi rapuh menghadapi dunia kerja dan kemajuan teknologi seperti AI dan robotika yang ikut disorot dalam acara tersebut.
Pamfest Palembang: Tips Parenting Islami yang Turun Langsung dari Mimbar
Di Mega Wisata Pamfest 2026 di Transmall Radial Palembang, talkshow parenting bersama Ustadz Abdullah Roy mengingatkan orang tua bahwa tujuan utama hidup manusia adalah beribadah kepada Allah. Ini bukan slogan, melainkan pondasi tips parenting islami yang terus diulang: akidah dan tauhid harus ditanamkan sejak dini sebagai fondasi kokoh bagi anak. Di era ketika orang tua sibuk mengejar ranking, gelar, dan prestasi, pesan ini terasa seperti teguran keras. Beliau mengingatkan agar orang tua selektif memilih sekolah, karena salah memilih bisa membuat anak jauh dari Sang Pencipta. Cita-cita boleh setinggi langit, tetapi tauhid harus nomor satu. Talkshow ini mengubah seminar pengasuhan anak menjadi ruang muhasabah massal: sudahkah visi keluarga selaras dengan tujuan penciptaan manusia, atau hanya mengejar kesuksesan duniawi tanpa arah akhirat?
Kudus: Menyemai Cinta dan Harmoni, Bukan Sekadar Nilai Rapor
Di Aula DPRD Kabupaten Kudus, ratusan wali murid dan guru berkumpul dalam kegiatan parenting bertajuk Menyemai Cinta dan Harmoni untuk Buah Hati yang digelar YSP Al-Fath Kudus, Sabtu (5/9/2026) pagi. Dari sekitar 1.000 wali murid yang menjadi sasaran peserta, kapasitas tempat yang tersedia hanya sekitar 600 orang. Keterbatasan kursi ini menyisakan satu catatan pahit: minat belajar orang tua sudah tinggi, tetapi akses belum selalu memadai. Kegiatan yang diikuti jenjang TPA, KBIT, TKIT hingga SDIT Umar bin Khattab ini menghadirkan penulis Ayat-Ayat Cinta, Habiburrahman El Shirazy, yang membahas penguatan literasi sebagai pondasi masa depan anak. Pesannya jelas: cinta dan harmoni di rumah tidak bisa tumbuh kalau keluarga alergi membaca. Guru menekankan bahwa pendidikan anak tidak bisa dibebankan kepada sekolah; guru hanyalah mitra, sedangkan orang tua adalah penanggung jawab utama pendampingan anak.

Seminar Pengasuhan Anak: Dari Ruang Kuliah ke Ruang Keluarga
Jika tiga contoh di atas disatukan, terlihat pola yang menarik: berbagai institusi pendidikan dan komunitas mulai serius mengadakan seminar parenting untuk memperkuat peran orang tua di semua fase tumbuh kembang anak. Di kampus, fokusnya sinergi orang tua–universitas dan kesiapan menghadapi kemajuan teknologi. Di festival keagamaan, fokusnya tips parenting islami dengan titik berat pada akidah dan pilihan lingkungan belajar anak. Di sekolah dasar dan PAUD, temanya menyemai cinta, harmoni, dan literasi sebagai pondasi masa depan. Kelemahannya, sebagian acara masih terbatas tempat dan belum menjangkau seluruh sasaran orang tua. Namun, tren ini seharusnya menjadi alarm: orang tua yang tidak ikut bergerak akan tertinggal. Kesimpulannya, mengikuti workshop parenting bukan lagi aktivitas opsional, melainkan investasi wajib bagi keluarga yang ingin anaknya tumbuh beriman, berkarakter, dan siap menatap masa depan.






