Air es tidak membuat darah haid membeku
Minum es saat haid adalah kebiasaan mengonsumsi minuman dingin selama menstruasi, yang menurut penjelasan medis tidak membuat darah membeku di dalam rahim atau menghambat keluarnya darah. Mitos menstruasi ini sudah lama dipercaya turun-temurun, sehingga sebagian perempuan menghindari es dan makanan dingin ketika datang bulan. Kekhawatiran itu terdengar masuk akal bagi yang membayangkan suhu minuman dapat mengubah kondisi rahim, tetapi tidak didukung penjelasan dokter. Dr. dr. Kanadi Sumapradja, Sp.OG, Subsp. F.E.R, M.Sc, menegaskan bahwa anggapan air dingin memengaruhi menstruasi tidak tepat. Ia menyampaikan penjelasan tersebut saat diwawancarai pada Kamis (29/10/2026). Jadi, air dingin saat menstruasi bukan sesuatu yang perlu dilarang hanya karena takut darah haid membeku. Perempuan tidak perlu menyalahkan segelas es atas perubahan siklus.
Tidak ada alasan medis untuk menghindari minuman dingin
Menstruasi bukan alasan untuk mengabaikan kebutuhan makan dan minum, apalagi membatasi pilihan berdasarkan suhu makanan. Dokter Kanadi mengatakan, “Sayangnya itu tidak tepat,” saat menanggapi anggapan bahwa minuman dingin atau es dapat memengaruhi menstruasi. Penjelasan ini penting karena larangan turun-temurun bisa menambah kecemasan tanpa menyasar penyebab yang relevan. Suhu minuman bukan faktor yang disebut memicu gangguan siklus dalam penjelasan dokter. Jika seseorang merasa minuman dingin kurang nyaman, ia tentu dapat memilih minuman bersuhu lain berdasarkan kenyamanan pribadi. Namun, itu berbeda dari menganggap es membekukan darah haid atau membuat menstruasi berlangsung lebih lama. Lebih masuk akal untuk memperhatikan pola konsumsi secara menyeluruh daripada menjadikan air es sebagai pantangan wajib.
Pola makan dan metabolisme lebih layak diperhatikan
Alih-alih mencemaskan suhu minuman, perhatian sebaiknya diarahkan pada jumlah dan jenis makanan. Konsumsi berlebihan dapat memicu kenaikan berat badan, yang berkaitan dengan perubahan metabolisme tubuh. Salah satu gangguan metabolik yang dapat muncul ialah resistensi insulin, yaitu keadaan ketika sel tubuh tidak merespons insulin sebagaimana mestinya. Ini bukan berarti setiap perubahan haid disebabkan pola makan, tetapi menunjukkan bahwa kesehatan reproduksi dipengaruhi hal yang lebih luas daripada minuman dingin. Perubahan metabolisme dapat berkaitan dengan fungsi reproduksi, termasuk pematangan dan pelepasan sel telur. Karena itu, pola makan seimbang dan perhatian terhadap perubahan berat badan lebih relevan untuk dibahas daripada melarang es selama menstruasi. Fokus pada faktor tersebut memberi gambaran yang lebih berguna tentang kesehatan, tanpa menjadikan mitos sebagai pedoman.
Kesimpulan: tinggalkan pantangan yang tidak berdasar
Kesimpulannya, perempuan tidak perlu menghindari air es saat haid karena takut darah membeku di rahim. Dokter menyatakan anggapan itu tidak tepat, sementara pola makan berlebihan, kenaikan berat badan, dan perubahan metabolisme patut mendapat perhatian lebih. Sikap yang lebih bijak bukan menambah larangan, melainkan membedakan kenyamanan pribadi dari klaim medis: silakan memilih minuman yang terasa enak, tetapi jangan menganggap suhu dingin sebagai penyebab menstruasi tidak lancar. Bila ada kekhawatiran tentang perubahan siklus atau kesehatan reproduksi, jangan langsung menyimpulkan penyebabnya dari minuman yang dikonsumsi. Mitos menstruasi sebaiknya tidak menggantikan perhatian terhadap pola makan dan kondisi tubuh. Dengan begitu, keputusan selama haid bertumpu pada informasi yang relevan, bukan ketakutan turun-temurun.






