Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Kemitraan Dekranasda–BPVP: Jalan Cepat Naik Kelas Perajin Lokal

Kemitraan Dekranasda–BPVP: Jalan Cepat Naik Kelas Perajin Lokal
Minat|Tembikar

Pelatihan keterampilan perajin: dari program rutin menjadi strategi daya saing

Pelatihan keterampilan perajin adalah program terstruktur yang mengajarkan teknik produksi, kreativitas desain, dan pemahaman kualitas kepada pelaku kerajinan, agar mereka mampu meningkatkan nilai tambah produk, memperluas pasar, dan menguatkan posisi usaha kecil dalam ekosistem ekonomi kreatif yang makin kompetitif. Di Jambi, pelatihan semacam ini naik kelas berkat kemitraan Dekranasda dan BPVP Padang melalui Satpel PVP Jambi, yang menggelar Tailor Made Training untuk 32 perajin lokal pada 22 Oktober 2026. Fokusnya jelas: menjahit baju kurung basiba dan membatik tulis, dua identitas budaya yang punya potensi pasar besar jika dikelola dengan standar produksi dan kualitas yang lebih tinggi. Langkah ini bukan sekadar mengisi jadwal kegiatan, tetapi mengubah cara daerah memandang perajin: bukan lagi objek bantuan, melainkan subjek penggerak ekonomi.

Kemitraan Dekranasda–BPVP: Jalan Cepat Naik Kelas Perajin Lokal

Kemitraan Dekranasda–BPVP: fondasi baru pengembangan UMKM kerajinan

Inti kekuatan program ini bukan hanya materi pelatihannya, tetapi kemitraan Dekranasda BPVP yang dirancang jangka panjang. Dekranasda Jambi menggandeng BPVP Padang melalui Satpel PVP Jambi untuk menggelar Tailor Made Training Tahun Anggaran 2026, dengan fasilitas membatik di Sanggar Batik Selaras Pinang Masak dan praktik menjahit di Satpel PVP selama delapan hari. Ini menunjukkan pembagian peran yang sehat: Dekranasda dekat dengan perajin dan ekosistem kerajinan, BPVP kuat di sisi vokasi dan produktivitas. Keduanya sepakat menyiapkan penandatanganan MoU sebagai landasan pengembangan berkelanjutan, agar program pengembangan UMKM kerajinan tidak berhenti pada satu angkatan pelatihan, tetapi menjadi siklus pendampingan yang terus berulang dan meningkat kualitasnya. Tanpa kerangka kerja seperti ini, pelatihan mudah berubah menjadi seremonial; dengan MoU, ia dipaksa menjadi komitmen.

Meningkatkan kapabilitas produksi dan standar kualitas, bukan sekadar menambah peserta

Angka 32 peserta—16 membatik dan 16 menjahit—terlihat kecil di atas kertas, tetapi justru menunjukkan pendekatan yang lebih serius terhadap kualitas pelatihan keterampilan perajin. Dengan durasi delapan hari untuk pelatihan lanjutan menjahit, peserta diberi ruang cukup untuk memperdalam teknik, bukan hanya menonton demonstrasi singkat. Materi yang diangkat pun spesifik: baju kurung basiba sebagai busana tradisional dan batik tulis sebagai produk kerajinan unggulan. Keduanya menuntut presisi, kerapian, dan konsistensi standar kualitas. Di sini, kemitraan Dekranasda BPVP mengambil posisi tegas: pelatihan harus berujung pada peningkatan kapabilitas produksi dan standar kualitas produk kerajinan, bukan sekadar sertifikat. Seperti ditegaskan Anton Hilman, kemampuan yang diperoleh tidak boleh berhenti sebagai pengetahuan, tetapi harus dipakai untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan pendapatan.

Daya saing kerajinan lokal: dari keterampilan ke dampak ekonomi

Dekranasda Jambi dan BPVP jelas tidak puas jika pelatihan hanya menghasilkan karya yang indah; target mereka adalah daya saing kerajinan lokal yang terukur. Hesti Haris menegaskan bahwa pelatihan ini adalah strategi mencetak SDM perajin yang kreatif dan mandiri, agar produk memiliki nilai jual tinggi dan berdaya saing. Anton Hilman menambahkan, target utama adalah dampak pasca-pelatihan: keterampilan harus dikonversi menjadi perputaran uang dan peningkatan pendapatan keluarga. Di sinilah program pengembangan UMKM kerajinan diuji: apakah perajin mampu mengaplikasikan teknik menjahit dan membatik yang lebih rapi ke dalam proses produksi, memanfaatkan pelatihan pemasaran digital yang sudah diberikan, dan masuk ke pasar yang lebih luas? Jika berhasil, industri kerajinan lokal tidak lagi berjalan di tempat, tetapi menjadi motor kesejahteraan UMKM di daerah.

Kesimpulan: MoU harus mengikat komitmen, bukan sekadar seremonial

Pelatihan tailor made yang digelar Dekranasda Jambi dan BPVP Padang melalui Satpel PVP Jambi menunjukkan satu hal penting: peningkatan daya saing kerajinan lokal tidak bisa mengandalkan bakat perajin semata, tetapi perlu sistem pelatihan vokasi yang terencana, relevan, dan berkelanjutan. Rencana penandatanganan MoU adalah momentum krusial. Jika MoU hanya berisi daftar kegiatan, program akan mudah kembali menjadi rutinitas. Namun jika MoU mengikat komitmen pada kualitas pelatihan, pendampingan pasca-pelatihan, dan integrasi dengan pengembangan UMKM, maka kemitraan Dekranasda BPVP bisa menjadi model bagi daerah lain. Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan banyaknya pelatihan yang digelar, tetapi berapa banyak perajin yang naik kelas menjadi pelaku usaha yang produknya dicari pasar, dihargai, dan mampu menghidupi keluarga mereka.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

Related Products

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!