Mengapa Edukasi Skincare Remaja Harus Masuk Ruang Kelas
Edukasi skincare remaja adalah upaya terstruktur di sekolah untuk mengajarkan cara merawat kulit berdasarkan jenis kulit, memahami kandungan produk, serta memilih dan menggunakan skincare secara tepat agar perawatan kulit aman dan mencegah masalah kulit jangka panjang. Di tengah banjir tren kecantikan di media sosial, remaja sering belajar skincare dari rekomendasi viral, bukan dari ilmu yang dapat dipercaya. Akibatnya, banyak yang mencoba berbagai produk tanpa mengerti jenis kulit remaja mereka, efek bahan aktif, atau cara pakai yang benar, dan baru sadar ketika jerawat meradang atau kulit iritasi. Di sini sekolah seharusnya tidak tinggal diam. Jika kebersihan tangan dan gigi sudah diajarkan sejak dini, mengapa kesehatan kulit yang sehari-hari bersentuhan dengan polusi, sinar matahari, dan kosmetik dibiarkan jadi urusan algoritma?

SMAN 18 Makassar: Mengajari Remaja Mengenali Jenis Kulit dan Pilih Produk Skincare
Di SMAN 18 Makassar, edukasi skincare tidak lagi sekadar nasihat guru BK, tetapi menjadi program kerja mahasiswa farmasi yang disusun serius. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Prestasi Universitas Hasanuddin, Rashma Aufalia Hilmi, datang ke sekolah ini pada 23 Juli 2026 untuk membahas secara sistematis bagaimana remaja memilih produk skincare yang aman dan sesuai kebutuhan kulit. Materi mencakup pengenalan jenis kulit, langkah dasar penggunaan skincare yang tepat, cara pilih produk skincare sesuai kondisi kulit, sampai pentingnya tabir surya dalam rutinitas harian. Pendekatan ini tegas menantang budaya coba-coba akibat tren media sosial yang mendorong remaja memakai banyak produk tanpa mempertimbangkan keamanan maupun kesesuaian kulit. Alih-alih mengutuk tren, program ini mengajari remaja membaca label, mengenali bahan aktif, dan meminimalkan kesalahan umum dalam perawatan kulit agar perawatan kulit aman menjadi kebiasaan, bukan keberuntungan.
SD Saraswati 1 Denpasar: Belajar Skincare Lewat Praktik Pembuatan Lotion
Jika di SMA fokusnya adalah mengurai kebingungan remaja soal jenis kulit dan kandungan produk, di SD Saraswati 1 Denpasar pendekatan yang dipakai lebih aplikatif dan menyentuh rasa ingin tahu anak. Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Mahasaraswati menyelenggarakan kegiatan “Edukasi dan Praktik Pembuatan Sediaan Lotion Aloe Vera untuk Kulit Sehat” pada 7 Agustus 2026, diikuti 30 siswa kelas VI. Anak-anak tidak hanya mendengar teori fungsi kulit, kebersihan, faktor risiko gangguan kulit, dan cara memilih produk perawatan kulit yang aman, tetapi juga diajak membuat sendiri emulgel lotion aloe vera sebagai sediaan topikal sederhana yang dekat dengan kehidupan mereka. Praktik formulasi ini mengubah skincare dari sekadar produk di rak menjadi proses yang bisa dipahami: tekstur, cara meresap, hingga alasan aloe vera dipilih. Menariknya, pendekatan kombinasi teori dan praktik ini terbukti efektif: nilai rata-rata peserta naik dari 90,35 pada pre-test menjadi 93,93 pada post-test, menunjukkan peningkatan pemahaman nyata.

Lebih dari Cantik: Skincare sebagai Literasi Kesehatan dan Sains
Dua contoh di atas menunjukkan bahwa workshop skincare sekolah bukan sekadar kegiatan tambahan, melainkan pintu masuk penting ke literasi kesehatan dan sains. Ketika mahasiswa farmasi mengajar remaja SMA membaca label dan mengenali jenis kulit, mereka sebenarnya sedang membangun kemampuan kritis terhadap iklan dan konten media sosial. Ketika mahasiswa apoteker mengajak murid SD meracik lotion, mereka menghubungkan konsep sediaan farmasi, kebersihan kulit, dan keselamatan penggunaan produk dengan pengalaman langsung anak. Ini jauh lebih sehat daripada budaya perawatan kulit yang berpusat pada standar kecantikan sempit. Program-program ini menggeser fokus dari “cantik” ke “kulit sehat”, dari ikut tren ke pilih produk skincare yang aman dan berbasis bukti. Sekolah yang menganggap kesehatan kulit sebagai bagian dari perilaku hidup bersih dan sehat tidak memanjakan anak; mereka melatih generasi yang tahu kapan suatu klaim skincare ilmiah, dan kapan hanya bahasa promosi.

Kesimpulan: Saatnya Skincare Masuk Kurikulum Kesehatan Remaja
Pengalaman SMAN 18 Makassar dan SD Saraswati 1 Denpasar menunjukkan bahwa edukasi skincare remaja tidak harus menunggu mereka dewasa atau “bermasalah” dulu. Dengan kolaborasi program farmasi universitas, sekolah bisa menghadirkan perawatan kulit aman sebagai bagian dari pendidikan kesehatan, bukan urusan komersial. Pendekatannya jelas: ajarkan identifikasi jenis kulit, cara pilih produk skincare yang sesuai, dan risiko bahan aktif sejak dini; lalu kuatkan dengan praktik yang menyenangkan seperti pembuatan lotion agar konsep sains terasa dekat. Jika kita menganggap jerawat, iritasi, dan ketergantungan pada tren sebagai masalah serius, maka solusi paling logis adalah mengajarkan perawatan kulit seperti kita mengajarkan gizi dan olahraga. Skincare di sekolah pada akhirnya bukan tentang punya wajah sempurna, melainkan membekali remaja dengan pengetahuan yang membuat mereka aman, kritis, dan berdaya di tengah pasar kecantikan yang semakin agresif.






