Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Kota Pempek hingga Kapal Selam: Sejarah dan Evolusi Kuliner Ikonik Palembang

Dari Kota Pempek hingga Kapal Selam: Sejarah dan Evolusi Kuliner Ikonik Palembang
Minat|Diskusi Resep

Pempek sebagai identitas: lebih dari sekadar makanan khas

Pempek Palembang adalah olahan ikan dan tepung yang lahir dari kekayaan sungai dan akulturasi budaya, lalu berkembang menjadi kuliner tradisional Palembang yang bukan hanya mengenyangkan, tetapi menegaskan identitas kota, membentuk julukan Kota Pempek, dan menjadikannya simbol warisan kuliner nusantara yang dikenali luas di berbagai daerah. Pempek tidak lagi bisa dipisahkan dari cara kita membayangkan Palembang: ia hadir setara dengan Sungai Musi dan Jembatan Ampera sebagai ikon yang menempel di ingatan kolektif. Kekuatan pempek terletak pada cerita di balik tiap gigitan, bukan hanya pada rasa gurihnya. Ketika banyak makanan daerah lain sekadar menjadi oleh-oleh musiman, pempek naik kelas menjadi penanda kota. Wajar jika Palembang dibaca melalui pempeknya: bagaimana kota ini memanfaatkan hasil sungai, berinteraksi dengan pendatang, dan merajut identitas melalui sepiring makanan.

Sejarah pempek Palembang dan lahirnya nama Kota Pempek

Sejarah pempek Palembang berawal dari sungai, bukan dari dapur restoran modern. Wilayah Sumatra Selatan dikelilingi sungai seperti Musi, Ogan, dan Komering, yang membuat ikan melimpah di kawasan ini. Namun, cara mengolah ikan dulu terbatas. Di masa Kesultanan Palembang pada abad ke-16, saat Mahmud Badaruddin II berkuasa, datanglah masyarakat dari Tiongkok yang melihat potensi besar pada stok ikan yang kurang dimanfaatkan secara kreatif. Dari situ muncul inovasi sederhana tapi revolusioner: ikan digabung dengan tepung menjadi olahan baru, yang kelak kita kenal sebagai pempek. Menariknya, pempek awalnya bernama “kelesan”, artinya ditekan-tekan, merujuk pada cara pembentukan adonan di atas piri’an atau mangkuk berlubang di tengah. Nama pempek baru melekat ketika para penjual Tionghoa dipanggil “pek, empek” oleh pembeli, mengacu pada panggilan apek. Sejak itulah identitas kuliner ini semakin kuat, hingga Palembang mendapat julukan kota pempek karena makanan ini menyebar dari gerobak, rumah, hingga rumah makan di berbagai wilayah.

Makna nama pempek dan akulturasi rasa yang membentuk kota

Perjalanan nama dari kelesan ke pempek adalah cermin akulturasi budaya yang halus namun kuat. Kelesan, yang berarti ditekan-tekan, menegaskan asal-usul lokal berbasis teknik pengolahan tradisional di piri’an, mangkuk dengan bagian tengah berlubang. Ketika olahan ini mulai dijual oleh orang Tionghoa sekitar awal abad ke-20, interaksi antara penjual dan pembeli mengubah namanya. Panggilan “Pek, empek” kepada para apek yang menjajakan kelesan pelan-pelan menggeser istilah asli, hingga masyarakat lebih akrab dengan sebutan pempek. Nama yang lahir dari sapaan ini menunjukkan bahwa kelezatan pempek tidak berdiri di satu budaya saja; ia adalah hasil pertemuan masyarakat sungai yang terbiasa mengolah ikan dengan pendatang yang membawa teknik dan cara berdagang baru. Di sini, kuliner tradisional Palembang berubah menjadi simbol keberterimaan terhadap pengaruh luar, tanpa kehilangan akar lokalnya. Setiap gigitan pempek hangat dengan balutan cuko tidak hanya mengenyangkan perut dan membuat lidah senang, tetapi juga sebagai bentuk pewarisan budaya.

Pempek kapal selam dan cuko pedas manis: kasta tertinggi sang ikon

Di antara aneka varian pempek Palembang, pempek kapal selam menduduki kasta tertinggi di hati pencinta kuliner. Varian ini adalah olahan daging ikan gurih—umumnya tenggiri giling segar—yang dibentuk sebagai kantung adonan untuk menahan isian telur utuh di dalamnya. Dahulu, masyarakat Palembang menyebutnya “pempek telok besak”, atau pempek telur besar, nama yang langsung merujuk pada isiannya. Istilah kapal selam baru populer sekitar era 1980-an, karena pempek berisi telur itu akan tenggelam ke dasar panci saat direbus lalu mengapung ketika matang, mirip cara kerja kapal selam. Menikmati seporsi pempek kapal selam digoreng hingga bagian luarnya garing namun tetap lembut di dalam, lalu disiram cuko kental dan ditaburi mentimun serta mi kuning, adalah pengalaman rasa yang lengkap. Cuko asli Palembang memadukan pedas cabai rawit, manis gula batok khas Lubuklinggau, asam jawa yang segar, dan gurih ebi sangrai serta bawang putih halus, menciptakan cuko pedas manis yang kompleks dan khas.

Dari Kota Pempek hingga Kapal Selam: Sejarah dan Evolusi Kuliner Ikonik Palembang

Warisan kuliner nusantara yang mendunia dan tetap relevan

Pempek, terutama pempek kapal selam, adalah contoh jelas warisan kuliner nusantara yang lahir dari kearifan lokal masyarakat pesisir sungai, lalu melampaui batas ruang dan waktu. Pempek kapal selam bukan sekadar jajanan sore; ini adalah wujud nyata kearifan lokal masyarakat pesisir sungai yang sukses mengolah kekayaan alam menjadi warisan lezat dari Bumi Sriwijaya. Saat pempek berkembang menjadi oleh-oleh, makanan beku, dan menu restoran, kebutuhan akan cuko tetap mengikuti, menunjukkan bahwa identitas rasanya tidak bisa dipisahkan dari kuah pedas manis itu. Di era modern, industri pempek di Palembang berubah menjadi motor ekonomi daerah, didukung teknologi kemasan vakum dan pembekuan cepat yang membuat pempek kapal selam bisa dikirim hingga ke mancanegara tanpa kehilangan kualitas rasa. Dari pempek kita belajar bahwa makanan sehari-hari menyimpan kisah panjang sejak era kerajaan, dan setiap gigitannya adalah bagian dari narasi budaya yang terus ditulis ulang oleh generasi baru.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!