Diva yang Mengakui Masih Belajar
Belajar lagu Mandarin bagi seorang penyanyi bukan hanya soal menghafal lirik, tetapi proses panjang memahami lafal, cengkok, dan makna agar setiap nada terdengar jujur dan menyentuh, dan perjalanan ini bisa berlangsung puluhan tahun tanpa pernah benar-benar selesai bagi mereka yang serius menekuni teknik vokal Mandarin sebagai bagian dari karier profesional mereka. Kris Dayanti adalah contoh paling terang dari sikap tersebut. Di sela jumpa pers konser "A Tribute to Teresa Teng" di Plaza Senayan, Rabu (7/10/2026), ia mengakui masih harus belajar saat menyanyikan lagu Mandarin meski sudah membawakannya sejak awal kariernya. Pengakuan ini bukan kelemahan, melainkan pernyataan jujur bahwa bahkan seorang diva legendaris pun tidak kebal dari tantangan cengkok dan lafal yang rumit. Sikap mau terus belajar inilah yang membuatnya relevan di panggung musik lintas bahasa.
Puluhan Tahun Nyanyi, Tantangan Cengkok dan Lafal Tak Hilang
Kris Dayanti sudah puluhan tahun akrab dengan lagu-lagu Mandarin, dari masa masih gadis hingga kini menjadi nenek, dan tetap menyanyikannya di berbagai panggung. Namun ia mengaku hingga kini masih memiliki tantangan ketika membawakan lagu dalam bahasa tersebut. Lagu yang paling sering ia bawakan pun masih berputar di judul-judul klasik seperti "Yue Liang Dai Biao Wo De Xin", "Tian Mi Mi", dan "Lai Sheng Yuan". Ia menyebut referensinya belum banyak dan merasa malu karena lagunya "itu-itu aja" yang dibawakan. Di balik kejujuran itu, tersimpan fakta penting: cengkok dan lafal Mandarin bukan perkara sepele. Menurutnya, tantangan bukan sekadar menghafal lirik; pelafalan dan ekspresi harus diperhatikan agar lagu tetap memiliki makna. "Karena kan mesti cengkoknya mesti bener, jungwa-nya bener, terus artinya kita harus pahami juga supaya nyanyinya ada ekspresi," jelasnya.
Teknik Vokal Mandarin: Adaptasi di Luar Zona Nyaman
Bagi banyak penyanyi, berpindah dari lagu berbahasa Indonesia ke lagu Mandarin berarti masuk ke dunia teknik vokal yang lain sama sekali. Kris Dayanti menegaskan bahwa mempelajari lagu Mandarin bukan perkara mudah baginya. Nada-nada lembut khas Teresa Teng yang ia kagumi punya resonansi kuat, melodi yang bagus dan powerful, serta terasa mengena di semua acara, sehingga ia nyaman membawakannya. Namun kenyamanan itu tidak menghapus kebutuhan adaptasi teknis: cengkok dan lafal harus presisi, jungwa harus terdengar tepat, dan arti lirik wajib dipahami agar ekspresi tidak kosong. Di sini terlihat perbedaan jelas antara penyanyi Mandarin Indonesia yang punya banyak referensi dengan dirinya yang mengaku referensinya belum bertambah banyak. Ia pun membuka diri terhadap masukan dari penyanyi dan orang-orang yang terbiasa dengan acara Mandarin, termasuk Putri Ayu dan Edric Tjandra. Mindset menerima koreksi ini adalah bagian tak terpisahkan dari belajar lagu Mandarin secara serius.
Belajar Seumur Hidup: Strategi Bertahan di Industri Musik
Yang menarik dari sosok Kris Dayanti bukan hanya jam terbangnya, tetapi cara ia memaknai proses belajar. Meski mengaku daya hafalnya kini tidak lagi seperti ketika masih muda, ia tetap berusaha mempelajari lagu-lagu baru. Ia bahkan menyebut kebiasaan menghafal lagu sebagai cara untuk terus melatih kemampuan diri: "Latihan gak pikun ya, karena mau mencari wawasan lagi lagu-lagu baru". Bagi Kris Dayanti, permintaan lagu dari penonton adalah bagian dari profesinya sebagai penyanyi, baik di acara pernikahan maupun acara korporasi, dan hal itu sudah biasa ia temui selama puluhan tahun berkarier. Sikap mau memenuhi permintaan itu memaksanya terus belajar, termasuk ketika menyangkut teknik vokal Mandarin. Mindset pembelajaran seumur hidup inilah yang membuatnya tetap relevan di industri musik yang semakin global, di mana penyanyi dituntut luwes berpindah bahasa dan gaya tanpa kehilangan kualitas artistik.
Menuju Panggung Tribute, Pelajaran yang Tak Pernah Usai
Konser "A Tribute to Teresa Teng" pada 28 Oktober 2026 di The Ballroom at Plaza Senayan, Jakarta, menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan Kris Dayanti sebagai penyanyi yang terus belajar lagu Mandarin. Di sana ia tampil sebagai special performance bersama Flora Liu from Shanghai dan Putri Ayu. Bukan kebetulan jika sosok yang diperingati adalah Teresa Teng, penyanyi yang lagu-lagunya ia anggap punya resonansi kuat dan melodi yang mengena di berbagai acara. Konser ini menyatukan pengalaman puluhan tahun dengan semangat belajar yang belum padam. Di balik gaun panggung dan status diva, ada perempuan yang mengakui referensinya belum banyak, cengkok dan lafalnya masih perlu diasah, dan hafalannya tidak sekuat dulu. Justru kejujuran itulah yang membuat profilnya menarik: Kris Dayanti menunjukkan bahwa menjadi legenda bukan berarti berhenti belajar, terutama ketika menyentuh dunia teknik vokal Mandarin yang menuntut ketekunan tanpa akhir.






