Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Sport Tourism dan Trust Fund: Rp6,5 Miliar yang Mengguncang Ekonomi Olahraga

Sport Tourism dan Trust Fund: Rp6,5 Miliar yang Mengguncang Ekonomi Olahraga
Minat|Asia Tenggara

Sport tourism sebagai mesin ekonomi baru, bukan sekadar event

Sport tourism adalah strategi pengembangan ekonomi yang menggabungkan penyelenggaraan kegiatan olahraga dengan perjalanan wisata, memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada untuk menciptakan aliran pendapatan baru melalui belanja wisatawan, pemanfaatan fasilitas olahraga, dan penguatan aktivitas ekonomi lokal di berbagai sektor pendukung.

Keputusan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) membuka peluang pendanaan jangka panjang bagi olahraga adalah sinyal bahwa sport tourism mulai diperlakukan sebagai sektor ekonomi serius, bukan pelengkap agenda hiburan semata. Di forum Indonesia Sports Summit (ISS) 2026, Managing Director Danantara, Djamal Attamimi, menegaskan bahwa olahraga adalah sektor ekonomi yang membutuhkan modal, tata kelola, dan sistem pendanaan berkelanjutan, bukan proyek musiman yang hidup-mati mengikuti kalender event.

Data yang ia paparkan menunjukkan arah yang jelas: anggaran pengembangan sport tourism pada 2025 sebesar Rp6,5 miliar dengan serapan 98,88 persen menghasilkan aktivitas ekonomi sekitar Rp2 triliun di sejumlah provinsi. Jika angka ini tidak mengubah cara pandang terhadap olahraga sebagai instrumen ekonomi, sulit mencari contoh lain yang lebih telak.

Sport Tourism dan Trust Fund: Rp6,5 Miliar yang Mengguncang Ekonomi Olahraga

Multiplier effect: dari Rp6,5 miliar ke Rp2 triliun

Angka Rp6,5 miliar yang bertransformasi menjadi aktivitas ekonomi Rp2 triliun menggambarkan multiplier effect sport tourism yang sangat tinggi. Ini bukan sekadar statistik menarik, tetapi bukti bahwa pendanaan sektor olahraga bisa menjadi salah satu instrumen fiskal paling efisien ketika diarahkan ke desain kegiatan yang menggerakkan banyak rantai nilai sekaligus.

"Modal awal Rp6,5 miliar memberikan dampak ekonomi Rp2 triliun. Itu menunjukkan multiplier effect kegiatan yang berhubungan dengan olahraga cukup tinggi," ujar Djamal. Jika nilai ekonomi olahraga pada 2024 telah mendekati Rp40 triliun, maka porsi yang berasal dari sport tourism berpotensi tumbuh agresif ketika model pendanaan dan tata kelolanya dipastikan stabil dan jangka panjang.

Kekuatan sport tourism terletak pada kemampuannya menghubungkan berbagai sektor: pariwisata, perhotelan, transportasi, kuliner, hingga ekonomi masyarakat lokal. Setiap event olahraga yang mendatangkan penonton dan peserta dari luar daerah berarti okupansi hotel, pergerakan penumpang di bandara, transaksi di restoran, dan aktivitas pelaku usaha kecil. Dengan kata lain, investasi olahraga jangka panjang di bidang ini bekerja seperti pompa yang mengalirkan likuiditas langsung ke ekonomi riil.

Aset sudah ada, yang kurang adalah horizon pendanaan

Djamal secara tegas menempatkan sport tourism sebagai sektor paling siap dikembangkan karena kebutuhan modalnya relatif ringan dan didukung aset serta infrastruktur yang sudah tersedia. Stadion, arena, jalur lari, lintasan sepeda, venue alam, hingga jaringan hotel dan bandara sudah berdiri; artinya, fokus utama bukan lagi membangun dari nol, tetapi mengoptimalkan kapasitas yang ada.

Masalahnya, karakter industri olahraga tidak cocok dengan skema pendanaan jangka pendek. Pengembangan atlet membutuhkan sekitar 12 tahun, liga butuh sekitar 15 tahun hingga matang, dan stadion memiliki umur ekonomis sekitar 40 tahun. Memaksakan logika pembiayaan jangka pendek ke proyek dengan nature jangka panjang hanya akan melahirkan setengah solusi: fasilitas yang tidak terurus, liga yang tidak stabil, dan program pembibitan atlet yang putus di tengah jalan.

Di sinilah relevansi investasi olahraga jangka panjang dan trust fund. Danantara menegaskan bahwa kepastian jangka waktu pendanaan, klarifikasi klasifikasi industri olahraga, dan pengukuran dampak ekonomi adalah tiga pilar yang harus diperkuat sebelum modal besar berani masuk. Permodalan baru akan mengalir jika definisi sektor dan ekosistemnya jelas; tanpa itu, sport tourism akan terus diperlakukan sebagai proyek event, bukan industri.

Trust fund, kolaborasi, dan ekosistem olahraga nasional

Pendanaan sektor olahraga melalui skema jangka panjang yang berorientasi trust fund pada dasarnya adalah cara menormalkan olahraga sebagai kelas aset. Danantara membuka peluang kolaborasi pendanaan jangka panjang untuk memperkuat ekosistem olahraga nasional, bukan hanya satu cabang olahraga atau satu event.

Pandangan lain yang juga penting adalah penegasan bahwa olahraga tidak hanya soal prestasi, tetapi juga pembangunan manusia dan ekonomi, serta peningkatan daya saing bangsa. Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga investasi, federasi olahraga dan pemangku kepentingan lain disebut sebagai kunci membangun industri olahraga berkelanjutan. ISS 2026 menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi ini dan menempatkan sport tourism sebagai lokomotif awal ekosistem ekonomi olahraga yang terukur.

Dengan trust fund, investasi olahraga jangka panjang bisa dikunci secara institusional. Program tidak berhenti saat pergantian pejabat; infrastruktur tidak dibiarkan terbengkalai; dan liga tidak perlu bergantung pada sponsor tahunan yang fluktuatif. Jika pendanaan jangka panjang ini konsisten, maka ekosistem olahraga nasional dapat berkembang dari sekadar agenda seremoni menjadi sektor ekonomi yang punya logika bisnis jelas, sekaligus alat pembangunan sosial.

Momentum PON 2028 dan agenda besar sport tourism

PON 2028 disebut sebagai momentum strategis untuk menguji seriusnya komitmen terhadap sport tourism dan pendanaan olahraga jangka panjang. Event multi-cabang ini bukan hanya panggung prestasi, tetapi juga laboratorium nyata bagaimana kebijakan, infrastruktur, dan kolaborasi pendanaan bisa menghasilkan manfaat ekonomi berkelanjutan.

PON 2028 diproyeksikan memicu pengembangan infrastruktur seperti stadion, hotel, bandara, hingga akses jalan yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk kegiatan olahraga dan pariwisata secara berkelanjutan. Jika dirangkai dengan strategi sport tourism, fasilitas ini tidak boleh berhenti berfungsi setelah upacara penutupan; ia harus menjadi aset produktif yang mendatangkan event, wisatawan, dan aktivitas ekonomi baru secara rutin.

Kesimpulannya, keputusan Danantara mengarahkan Rp6,5 miliar ke sport tourism dengan dampak ekonomi Rp2 triliun bukan sekadar cerita sukses satu program, melainkan blueprint bagaimana ekosistem olahraga nasional seharusnya didanai dan dikelola. Jika trust fund jangka panjang, kolaborasi lintas sektor, dan pemanfaatan aset yang konsisten dapat dipertahankan, sport tourism Indonesia berpeluang menjadi salah satu mesin ekonomi paling efisien di tengah perlambatan berbagai sektor lain.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!