Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Jutaan Akun Anak Diblokir: Apakah Perlindungan Digital Benar-Benar Bekerja?

Jutaan Akun Anak Diblokir: Apakah Perlindungan Digital Benar-Benar Bekerja?
Minat|Aplikasi Ponsel

Perlindungan Akun Anak: Lebih dari Sekadar Angka Pemblokiran

Perlindungan akun anak di platform digital adalah rangkaian kebijakan, fitur teknis, dan pengawasan yang dirancang untuk mencegah anak dari akses, paparan, dan interaksi berisiko tinggi di media sosial, termasuk konten berbahaya, komunikasi dengan orang asing, serta perilaku adiktif yang merusak kesehatan fisik dan mental mereka.

Enam bulan setelah aturan perlindungan anak di ruang digital mulai diterapkan, pemerintah melakukan evaluasi PP TUNAS dan menemukan dua wajah perlindungan digital: angka pemblokiran yang mengesankan, tetapi fitur yang masih berbahaya. TikTok mengklaim telah menonaktifkan 9 juta akun anak, naik dari sebelumnya sekitar 4 juta akun. Meta memblokir 85 ribu akun Instagram, 99 ribu akun Facebook, dan mengalihkan 22,5 juta akun anak ke Teen Account. Angka ini membuat judul berita tampak heroik, tetapi jika berhenti di level statistik, orang tua berhak curiga: apakah akun anak platform digital betul-betul lebih aman, atau sekadar dipindahkan ke ruang yang risikonya disamarkan dengan label “teen”?

PP TUNAS: Ambisi Besar, Pekerjaan Rumah Lebih Besar

PP TUNAS dirancang sebagai payung regulasi konten berbahaya di ruang digital, dengan fokus pada perlindungan anak media sosial dari paparan pornografi, kekerasan, perundungan siber, penipuan online, hingga kecanduan gawai. Aturan ini efektif berlaku sejak 28 Maret 2026 dan membatasi akses anak di bawah 16 tahun ke platform berisiko tinggi. Secara konsep, ini lompatan penting: negara mengakui bahwa algoritma, fitur rekomendasi, dan desain aplikasi bukan netral, melainkan bisa merugikan anak. Namun evaluasi enam bulan menunjukkan ambisinya belum seimbang dengan implementasi. Pemerintah menegaskan keberhasilan tidak boleh diukur hanya dari jumlah akun anak yang diblokir, tetapi dari perubahan fitur yang mengurangi risiko kontak, konten berbahaya, kecanduan, hingga kesehatan mental. Pernyataan ini penting: negara mengirim pesan bahwa regulasi konten berbahaya harus menyentuh jantung bisnis platform, bukan sekadar memoles angka kepatuhan.

TikTok, Meta, dan Ilusi Keamanan Melalui Pemblokiran Massal

Pemblokiran 9 juta akun oleh TikTok sering dijadikan bukti keberhasilan fitur keamanan TikTok dalam melindungi akun anak platform digital. Ini progres nyata, terutama jika dibandingkan laporan sebelumnya yang baru menyentuh 4 juta akun. Namun ada pertanyaan yang tidak nyaman: berapa banyak akun baru yang langsung dibuat untuk mengganti akun yang diblokir, dan sejauh mana verifikasi usia efektif mencegah anak kembali masuk? Di sisi lain, Meta menonjolkan Teen Account sebagai kompromi: anak tidak sepenuhnya dilarang, hanya dipindahkan ke ruang dengan pengaturan khusus. Mereka mengalihkan 22,5 juta akun anak ke Teen Account sambil memblokir puluhan ribu akun Instagram dan Facebook di bawah 16 tahun. Tapi pemerintah tegas: Teen Account masih masuk platform berisiko tinggi karena fitur-fitur tertentu belum disentuh. Artinya, label “teen” tidak otomatis berarti aman; ia bisa sekadar baju baru untuk risiko lama.

Celah Fitur: Komunikasi Asing, Scroll Tanpa Akhir, dan Kesehatan Mental Anak

Evaluasi pemerintah menyorot dua lubang besar dalam perlindungan anak media sosial: fitur komunikasi dan mekanisme anti-adiksi. Pertama, masih adanya fitur yang memungkinkan anak berkomunikasi dengan orang tak dikenal membuat Teen Account tidak bisa dikategorikan sebagai platform berisiko rendah. Di sinilah bahaya grooming, perundungan, dan penipuan online bersembunyi. Selama anak bisa dihubungi siapa saja, klaim perlindungan tetap lemah. Kedua, pengaturan waktu penggunaan dan scroll time. Pemerintah menuntut pengaturan yang “dinolkan atau dibuat pada level yang tidak memberikan adiksi kepada anak”. Artinya, platform diminta berhenti berpura-pura: desain infinite scroll dan notifikasi beruntun adalah fitur yang sengaja dibuat untuk membuat anak betah, lalu kecanduan. Tanpa mengubah desain adiktif ini, pemblokiran sebagian akun hanyalah tambal sulam di permukaan.

Apa yang Harus Terjadi Selanjutnya: Dari Regulasi ke Tanggung Jawab Kolektif

Pemerintah sudah memberi sinyal, termasuk meminta Meta menunjukkan komitmen lebih kuat, terutama terkait Threads yang belum menyampaikan laporan penindakan akun anak. Pemerintah juga menyatakan, setelah evaluasi bersama, akan mencatat dan menjalankan langkah ke depan untuk memperkuat pelaksanaan PP TUNAS. Namun masa depan perlindungan anak media sosial tidak bisa diserahkan pada regulasi saja. Platform harus berani mengorbankan sebagian pola bisnis yang bergantung pada perhatian tanpa batas. Regulasi konten berbahaya perlu diterjemahkan ke dalam desain: komunikasi dengan orang asing di-default mati, rekomendasi konten sensitif dibatasi, dan fitur keamanan TikTok maupun Meta dibuat mudah dipahami orang tua. Kesimpulannya, jutaan akun anak yang diblokir adalah awal yang penting, tetapi bukan tujuan akhir. Ukuran keberhasilan sejati adalah ketika anak bisa hadir di ruang digital tanpa harus mengorbankan keselamatan, martabat, dan kesehatan mental mereka.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!