Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Lima Minuman Dingin Legendaris yang Menantang Zaman

Lima Minuman Dingin Legendaris yang Menantang Zaman
Minat|Makanan Kaki Lima

Minuman Dingin Jadul: Identitas, Bukan Sekadar Pelepas Dahaga

Minuman dingin jadul adalah aneka es tradisional yang diracik dengan bahan sederhana seperti santan, gula merah, es serut, dan roti atau buah, disajikan oleh pedagang kaki lima dengan gerobak atau becak, dan diwariskan lintas generasi sehingga menjadi bagian dari ingatan kolektif sekaligus identitas kuliner sebuah kota. Di tengah gempuran minuman kekinian dengan topping berlapis dan gelas estetik, es cendol legendaris, es campur tradisional, hingga es kapal Solo membuktikan satu hal: rasa yang jujur dan cerita yang kuat lebih tahan lama daripada tren musiman. Minuman-minuman ini bukan hanya menyegarkan tenggorokan, tetapi juga memelihara memori masa kecil, kebiasaan keluarga, dan ritme kota. Menyeruputnya berarti memilih berpihak pada warisan rasa, bukan sekadar mengikuti algoritma media sosial.

Bandung: Es Cendol, Goyobod, dan Oyen yang Tak Mau Tersingkir

Bandung mungkin penuh kafe dan kedai kopi, tetapi di sela gedung dan mal, minuman es tradisional tetap berdiri tegak sebagai ikon kota. Es cendol Elizabeth adalah contohnya: es cendol ini telah diperjualbelikan sejak 1972, ketika pendirinya, H. Rohman, mulai berjualan keliling menggunakan gerobak. Dari aktivitas keliling itu, nama Elizabeth tumbuh menjadi merek kuliner legendaris, lengkap dengan pusat usaha di Jalan Inhoftank Nomor 64 yang mulai dibangun sekitar tahun 1998. Butiran cendol hijau dari tepung beras, santan gurih, dan gula merah yang legit menjadikannya es cendol legendaris yang langsung terlintas di benak warga saat bicara pelepas dahaga. Di sisi lain, es goyobod dengan cincau hitam, santan, dan es serut, serta es oyen sebagai es campur paling ikonik Bandung, menunjukkan bahwa es campur tradisional tidak kalah menarik dibanding minuman kekinian.

Kota Batu: Es Campur Pak Said dan Nostalgia di Gang Sempit

Di Kota Batu yang sejuk, es campur tradisional justru menjadi persinggahan wajib setelah lelah berwisata di Jatim Park, Museum Angkut, atau Alun-alun; banyak wisatawan sengaja mampir demi semangkuk es yang menyegarkan. Di Gang Kauman, tepat di sebelah timur masjid besar dekat alun-alun, Es Tempo Doeloe Pak Said—lebih dikenal sebagai Es Campur Pak Said—menjadi legenda yang hidup dari gerobak sederhana. Pak Said mempertahankan konsep tempo dulu: cendol, tape, cincau hitam, dawet, dan potongan buah disiram kuah santan dan gula merah dengan manis yang tidak berlebihan. Bagi pelanggan setianya, datang ke sini bukan hanya soal menghilangkan dahaga, tetapi bernostalgia dengan rasa es campur masa kecil. Di era foto minuman harus instagramable, Pak Said membuktikan bahwa kesetiaan pelanggan dibangun oleh konsistensi rasa dan suasana, bukan dekorasi.

Lima Minuman Dingin Legendaris yang Menantang Zaman

Solo: Es Kapal dan Becak Es Balok yang Menjaga Rantai Dingin

Solo menyimpan dua wajah menarik dari dunia minuman dingin jadul: es kapal Solo dan pedagang es keliling yang memasok es batu ke penjaja kaki lima. Es kapal adalah minuman legendaris khas kota ini, menawarkan perpaduan rasa manis, gurih, dan segar dalam sajian sederhana. Es serut disiram santan dan sirup cokelat dari gula Jawa, lalu diberi roti tawar sebagai pelengkap—kombinasi unik yang membuat es kapal Solo berbeda dari minuman dingin lain. Nama es kapal lahir dari bentuk gerobak dengan salah satu sisi meruncing menyerupai kapal, yang kemudian menjadi identitas minuman ini. Di sisi lain, Ratno, penjual es batu, mengangkut balok es dengan becak dan berkeliling mengantarkan pesanan kepada pedagang kaki lima di Solo. Becak menjadi sarana untuk mendistribusikan es batu, menjaga rantai dingin bagi banyak minuman tradisional lain.

Lima Minuman Dingin Legendaris yang Menantang Zaman

Mengapa Minuman Legendaris Ini Layak Jadi Destinasi Wisata

Es cendol legendaris di Bandung, es campur tradisional di Batu, es kapal Solo, hingga pedagang es keliling dengan becaknya, semuanya berbagi satu peran penting: mereka mengikat rasa dengan tempat. Minuman es tradisional bukan sekadar pelepas dahaga, melainkan bagian dari ingatan kolektif warga dan warisan kuliner yang tumbuh dari usaha kecil. Es kapal bahkan diperkirakan populer sejak sekitar 1950-an, dan sebagian pedagangnya meneruskan usaha keluarga. Fakta ini seharusnya mengubah cara wisatawan merencanakan perjalanan: bukan hanya mencari spot foto, tetapi juga menyempatkan diri duduk di bangku plastik, memegang mangkuk atau gelas sederhana, dan mencicipi sejarah yang masih dingin dan segar. Selama masih ada gerobak, becak, dan antrean kecil di pinggir jalan, minuman dingin jadul ini akan terus menjadi alasan orang kembali ke kota yang sama.

Lima Minuman Dingin Legendaris yang Menantang Zaman

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!