Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Telur Mentah untuk Bayi: Risiko Salmonella dan Cara Aman Mengolah Telur dalam MPASI

Telur Mentah untuk Bayi: Risiko Salmonella dan Cara Aman Mengolah Telur dalam MPASI
Minat|Pengetahuan Parenting

Telur Mentah Bayi: Mengapa Praktik Turun-Temurun Ini Berbahaya

Telur mentah bayi adalah praktik memberikan telur yang tidak dimasak hingga matang kepada bayi atau anak kecil, baik dalam bentuk minuman, campuran makanan, maupun telur setengah matang, yang meningkatkan risiko infeksi Salmonella dan masalah keamanan pangan karena sistem imun mereka masih berkembang. Memberi telur mentah atau setengah matang pada bayi bukan sekadar pilihan selera; ini adalah keputusan yang langsung menyentuh keamanan pangan bayi dan bisa berujung pada konsekuensi medis serius. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) secara tegas mengingatkan agar masyarakat tidak memberikan telur mentah atau setengah matang kepada bayi dan anak karena berisiko mengandung bakteri Salmonella yang dapat menyebabkan infeksi saluran cerna. Mengabaikan peringatan ini sama saja mempertaruhkan kesehatan anak demi kebiasaan yang tidak punya dasar ilmiah.

Infeksi Salmonella Anak: Dari Diare hingga Komplikasi Serius

Bakteri Salmonella adalah kuman penyebab infeksi saluran pencernaan yang dikenal sebagai salmonelosis, dan pada anak kecil dampaknya bisa jauh lebih berat dibanding orang dewasa. Gejala infeksi Salmonella anak meliputi diare, demam, nyeri perut, muntah, dan dehidrasi. Pada bayi dengan sistem imun yang masih berkembang, kondisi ini tidak berhenti pada “diare biasa”; infeksi dapat berlangsung lebih berat dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius. Fakta bahwa imbauan IDAI muncul di tengah sorotan kasus bayi di Surabaya yang dilaporkan meninggal setelah diduga diberi telur mentah oleh anggota keluarganya, seharusnya menjadi alarm keras bagi orang tua. Telur mentah bayi bukan sekadar tradisi yang “menguatkan badan”; ia membuka pintu infeksi yang bisa mengancam nyawa.

Rekomendasi IDAI Telur: Kapan dan Bagaimana Telur Boleh Masuk MPASI

IDAI menegaskan bahwa pemberian makanan kepada bayi harus memperhatikan usia, kebutuhan gizi, kesiapan perkembangan, dan keamanan pangan. ASI tetap menjadi makanan terbaik, dengan rekomendasi ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan, kemudian MPASI mulai diberikan sekitar usia enam bulan dan dilanjutkan bersama ASI hingga dua tahun atau lebih. Dalam kondisi tertentu, MPASI boleh dipertimbangkan sejak usia empat bulan berdasarkan penilaian dokter, sementara sebelum empat bulan tidak dianjurkan. Di dalam kerangka ini, rekomendasi IDAI telur sangat jelas: telur mentah atau setengah matang tidak dianjurkan untuk bayi dan anak karena risiko keamanan pangan dan infeksi Salmonella. Telur hanya boleh masuk sebagai MPASI telur aman ketika dimasak hingga matang sempurna dan disesuaikan dengan usia serta kesiapan bayi.

MPASI Telur Aman: Prinsip Memasak hingga Matang dan Kebersihan Dapur

Telur sebenarnya adalah sumber protein berkualitas tinggi dan mengandung zat gizi penting bagi pertumbuhan anak, sehingga sayang jika dihindari sepenuhnya. Kuncinya adalah menjadikannya MPASI telur aman. IDAI menjelaskan bahwa telur yang dimasak hingga matang dapat menjadi bagian menu MPASI, asalkan disesuaikan dengan usia dan kesiapan bayi. Poin nonnegosiasi: "Pastikan telur dimasak hingga putih dan kuning telurnya matang". Selain kematangan, keamanan pangan bayi bergantung pada kebersihan proses pengolahan: tangan dan peralatan harus dicuci, kontaminasi silang antara bahan mentah dan makanan siap santap harus dicegah, dan telur yang retak atau rusak sebaiknya tidak digunakan. Tanpa disiplin ini, setiap sendok MPASI berpotensi membawa bakteri ke saluran cerna anak.

Keamanan Pangan Bayi: Menghentikan Mitos, Mengutamakan Ilmu

Panduan IDAI menekankan bahwa keamanan pangan adalah pilar utama dalam pengenalan makanan padat untuk mencegah penyakit infeksi pada bayi dan anak. Itu berarti orang tua tidak boleh lagi menjadikan kebiasaan keluarga atau informasi media sosial sebagai satu-satunya rujukan dalam memberi makan anak. Pemilihan makanan harus mempertimbangkan usia, kesiapan perkembangan, cara pengolahan, dan risiko infeksi, bukan sekadar klaim “bikin kuat” tanpa bukti. IDAI menganjurkan orang tua berkonsultasi dengan dokter bila ragu mengenai kecukupan ASI, waktu memulai MPASI, kesiapan makan, maupun pilihan makanan yang aman bagi bayi. Kesimpulannya, telur mentah bayi adalah praktik yang perlu dihentikan; jika ingin memanfaatkan gizi telur, masaklah hingga matang sempurna dan jadikan dapur rumah Anda benteng keamanan pangan bayi, bukan sumber bahaya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!