KuybeliKuybeli

Dari Kebaya hingga Beskap: Gaya Sehari-hari ala Dian Sastro

Dari Kebaya hingga Beskap: Gaya Sehari-hari ala Dian Sastro
Minat|Rilis Tren

Kebaya dan Beskap Keluar dari Kotak Pesta

Transformasi pakaian heritage Indonesia menjadi fashion tradisional kontemporer adalah proses mengadaptasi siluet dan detail klasik seperti kebaya, beskap, atau surjan ke dalam potongan, bahan, dan styling yang nyaman dipakai sehari-hari, sehingga tidak lagi terbatas pada upacara adat atau acara formal, tetapi menyatu dengan jeans, kemeja, dan busana kasual tanpa kehilangan akar budaya. Tren ini terasa jelas pada cara Dian Sastrowardoyo mengolah kebaya dan beskap sebagai kebaya modern styling yang relevan untuk perempuan masa kini. Berangkat dari karakter Dasiyah di serial ‘Gadis Kretek’, ia memindahkan estetika Janggan yang berkerah tinggi ke situasi santai dan profesional, mematahkan anggapan bahwa pakaian tradisional harus disimpan di lemari sampai undangan resmi datang. Di sini, pakaian heritage Indonesia diperlakukan sebagai wardrobe staple, bukan kostum musiman.

Dari Kebaya hingga Beskap: Gaya Sehari-hari ala Dian Sastro

Koleksi Janggan: Kebaya Modern Masuk Kantor dan Kondangan

Kolaborasi desainer lokal antara Wilsen Willim dan Dian Sastrowardoyo menghadirkan Janggan yang bisa dipakai sehari-hari. Sebanyak 13 artikel, mayoritas atasan, dirancang dengan siluet busana tradisional seperti Kebaya Kartini, Kebaya Kutubaru, Beskap, Sikepan Hussar, dan Surjan yang dikemas sebagai fashion tradisional kontemporer. Dengan bentuk kemeja, rok, korset, dan luaran, koleksi ini menawarkan kepraktisan dalam berpenampilan tradisional. Bahan katun, suiting fabric, Jacquard, dan batik tulis Cirebon berbasis katun dipilih agar nyaman digunakan dalam berbagai kesempatan, dari ke kantor hingga kondangan pernikahan. Ini bukan sekadar kebaya modern styling untuk foto di media sosial, tetapi gagasan kebaya sebagai “suit” perempuan yang pantas dibawa ke ruang profesional. Koleksi bagian pertama sudah dirilis di Melting Pot, ASHTA District 8 dan tersedia hingga 30 Agustus 2026, dengan T-shirt mulai sekitar Rp 1,2 jutaan dan atasan kebaya sekitar Rp 4 jutaan.

Dari Kebaya hingga Beskap: Gaya Sehari-hari ala Dian Sastro

Jeans Belel dan Janggan: Mengaburkan Batas Tradisional vs Kasual

Momen paling menarik dari gerakan ini adalah ketika Dian mengakui kebiasaannya memadukan top Dasiyah dengan jeans belel dan sepatu kantor. Ia memakai Janggan dengan denim worn-out, bukan dengan kain panjang formal, dan lewat gestur sederhana itu mengusik batas kaku antara tradisional dan casual wear. Koleksi Wilsen Willim x Dian Sastrowardoyo memang sengaja dirancang dengan palet netral—putih, hitam, merah hati, biru laut, hijau gelap—agar mudah dipadukan dengan wastra nusantara yang penuh motif dominan. Artinya, atasan Janggan bisa jatuh di atas celana bahan, rok batik tulis Cirebon, atau jeans harian tanpa kehilangan karakter. Dian eksplisit mengajak orang untuk “rethink about how we wear kebaya in daily situation” dan menjadikan kebaya modern styling sebagai bahasa gaya sehari-hari, bukan seragam peringatan hari besar.

Beskap Cropped: Aura Kartini yang Lebih Edgy

Garis pergeseran gaya tidak berhenti di kebaya. Beskap, yang selama ini diasosiasikan dengan acara resmi dan pakaian pria kraton, ikut ditarik Dian ke ranah gaya santai. Ia membuktikan beskap bukan hanya untuk acara formal, melainkan bisa digunakan untuk busana sehari-hari. Ketika beskap dikrop, disesuaikan proporsinya, dan dipadukan dengan ripped jeans, lahirlah pesona Kartini yang edgy: bukan sekadar ibu bangsa dalam lukisan jadul, melainkan figur perempuan modern yang nyaman menyeberang antara tradisi dan streetwear. Di sini beskap casual wear membuka kemungkinan baru bagi generasi muda yang selama ini menganggap pakaian tradisional “terlalu serius”. Kolaborasi desainer lokal dan keberanian styling selebriti menjadikan beskap sebagai statement look, menandai bahwa heritage fashion bisa bersuara lantang di ruang kreatif urban tanpa terasa costume-y atau menggurui.

Dari Kebaya hingga Beskap: Gaya Sehari-hari ala Dian Sastro

Dian Sastro dan Gelombang Baru Pakaian Heritage

Keberhasilan karakter Dasiyah membuat banyak perempuan terinspirasi mengenakan Janggan dengan kerah tinggi. Sejak saat itu terlihat fenomena orang-orang yang menyukai gaya Dasiyah, dan di sinilah kekuatan selebriti bekerja: mereka menggeser wastra tradisional dari ranah nostalgia ke ruang aspirasi anak muda. Dian sendiri menyatakan ingin mengajak teman-teman untuk memikirkan ulang cara memakai kebaya di situasi sehari-hari. Ketika figur publik mengadopsi pakaian heritage Indonesia sebagai bagian dari rutinitas—dari meeting hingga kondangan—konsumen muda terdorong mengeksplorasi heritage fashion, bukan sekadar membeli baju trendi tanpa konteks. Tren ini menandai perubahan sikap: pakaian tradisional tidak lagi dipisah ketat dari casual wear, tetapi diperlakukan sebagai bagian identitas yang fleksibel. Pada akhirnya, yang Dian tawarkan bukan hanya koleksi busana, melainkan cara baru memandang sejarah lewat lemari pakaian.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!