Skor PISA Membaca Sebagai Alarm Kegagalan Kurikulum
Standar PISA membaca adalah tolok ukur internasional yang menilai kemampuan siswa memahami, menafsirkan, dan menggunakan teks tertulis dalam berbagai konteks, sehingga mengungkap seberapa efektif kurikulum pendidikan nasional dan kualitas buku pelajaran membentuk keterampilan literasi yang dibutuhkan untuk hidup dan bekerja di abad ke-21. Skor membaca 359 pada PISA 2022, turun dari 371 pada 2018, bukan sekadar angka buruk; ini bukti bahwa sistem pembelajaran gagal menumbuhkan kebiasaan dan kemampuan membaca yang kokoh. Posisi yang “hanya sedikit di atas Filipina” dan masih di bawah Thailand serta Vietnam menelanjangi ilusi bahwa kurikulum sekarang sudah memadai. Selama pemerintah memperlakukan literasi sebagai pelengkap, bukan jantung pembelajaran, peringkat akan tetap memalukan dan siswa terus tertinggal.

Evaluasi Buku Ajar: Bukan Sekadar Ganti Sampul
Respons pemerintah berpusat pada evaluasi buku ajar Indonesia dari tingkat SD sampai SMA, dan langkah ini layak disambut tetapi juga diawasi. Instruksi Presiden lahir dari pengalaman langsung melihat buku pelajaran yang bahannya mudah rusak, sudah robek, dengan tulisan kecil yang memaksa anak SD membaca terlalu dekat. Fokus pada ukuran huruf, kualitas kertas, dan tampilan yang lebih menarik menunjukkan kesadaran baru: desain fisik buku berpengaruh nyata pada pemahaman teks. Namun jika pembaruan berhenti pada estetika, standar PISA membaca tidak akan bergerak naik. Konten, alur penyajian, dan latihan berpikir kritis harus berubah bersamaan. Buku yang awet dan enak dibaca tetapi masih sarat hafalan adalah kosmetik, bukan reformasi.

Membandingkan Buku Pelajaran Asia Tenggara: Cermin yang Tajam
Langkah Presiden mengumpulkan sampel buku pelajaran dari berbagai negara Asia Tenggara untuk dijadikan pembanding adalah pengakuan terang bahwa kurikulum pendidikan nasional tertinggal. Perintah untuk mengecek buku-buku lokal terlebih dulu lalu menimbangnya dengan buku negara tetangga menandai perubahan sikap: kita tidak lagi menutup mata terhadap fakta menyakitkan bahwa mutu pendidikan berada di bawah Thailand dan Vietnam. Hasil kajian atas sampel tersebut direncanakan menjadi bahan meracik standar kurikulum baru. Ini peluang besar, tetapi juga risiko: jika proses benchmarking hanya menyalin tanpa memahami konteks, kurikulum akan tampak modern di atas kertas namun gagal di kelas. Perbandingan harus dimanfaatkan untuk mengidentifikasi praktik yang benar-benar menguatkan pemahaman membaca, bukan sekadar menambah konten atau istilah teknis.
Desain Buku dan Dampaknya pada Pemahaman Membaca
Reformasi ini menempatkan kualitas buku pelajaran sebagai faktor kunci dalam capaian standar PISA membaca, dan itu tepat sasaran. Buku dengan tulisan kecil, layout padat, dan kertas mudah rusak bukan sekadar tidak nyaman; ia membuat teks sulit diakses dan menguras energi kognitif siswa sebelum mereka sempat memahami isi. Presiden menginginkan huruf lebih besar, bahan lebih awet, dan tampilan menarik agar buku dapat dipakai lebih lama dan lebih ramah dibaca. Desain yang mendukung mata dan otak anak adalah prasyarat, bukan bonus. Namun desain harus dikawinkan dengan konten yang mendorong siswa menanya, menyimpulkan, dan mengaitkan informasi. Tanpa latihan berpikir tingkat tinggi, kualitas fisik yang membaik hanya akan membuat hafalan menjadi sedikit lebih nyaman, bukan lebih bermakna.
Kurikulum Baru Harus Mengutamakan Literasi, Bukan Sekadar Mengejar Ranking
Ada kecenderungan menjadikan skor PISA sebagai gengsi nasional, padahal yang lebih penting adalah apa yang mencerminkan kehidupan siswa sehari-hari. Presiden mengakui tantangan besar wilayah dan jumlah penduduk, namun menegaskan hal itu tidak boleh menjadi alasan untuk tidak mengejar ketertinggalan. Sikap ini perlu diterjemahkan dalam kurikulum yang menempatkan membaca sebagai keterampilan hidup, bukan tugas sekolah. Penguatan karakter, sains, teknologi, dan bahasa asing yang disebut pemerintah hanya akan memiliki makna jika ditopang literasi yang kuat. Konklusinya jelas: reformasi buku ajar dan standar kurikulum pendidikan nasional harus menggeser fokus dari mengajar isi ke membangun kemampuan memahami teks. Jika literasi dijadikan fondasi, bukan ornament, barulah peringkat PISA naik dan siswa memperoleh manfaat nyata.






