Ketegasan sebagai penyeimbang, bukan ancaman
Pola asuh adalah cara orang tua membimbing anak melalui komunikasi, batas, dan konsekuensi, sekaligus menjaga kebutuhan emosionalnya agar ia merasa aman saat belajar. Keseimbangan ini lebih berguna daripada menganggap kelembutan dan ketegasan sebagai dua pilihan yang saling meniadakan. Denny Sumargo menggambarkan perbedaan pendekatan itu ketika berbicara di Jakarta pada 26 Oktober 2026: Olivia Allan cenderung lembut, sedangkan ia memilih lebih tegas untuk menyeimbangkan pola asuh istrinya dan mengenalkan disiplin sejak dini. Denny dan Olivia menikah pada 21 November 2020, lalu dikaruniai Gabriella Allan Sumargo pada 27 Juli 2024. Menurut Denny, Olivia mengarahkan putri mereka dengan komunikasi lembut. Ia turun tangan ketika nasihat itu sudah beberapa kali tidak diikuti. Pilihan tersebut dapat menjadi pola asuh tegas yang berguna selama ketegasan menjelaskan batas, bukan menggantikan percakapan dengan rasa takut. Sikap lembut pun bukan berarti membiarkan semua perilaku.

Batas membantu anak memahami konsekuensi
Kisah Denny menyoroti hal penting: disiplin anak bukan soal siapa di antara orang tua yang lebih keras, melainkan apakah anak memahami batas dan alasan di baliknya. Denny mengatakan putrinya mulai mengerti bahwa ketegasan ayahnya bukan ancaman, melainkan edukasi. Perbedaan itu patut dicermati: konsekuensi yang dijelaskan dan diterapkan dengan jelas dapat menjadi bagian dari belajar, sedangkan ancaman tanpa penjelasan berisiko membuat anak hanya patuh saat diawasi. Contoh lain datang dari Ringgo Agus Rahman, yang menceritakan aturan keluarga dengan nada bercanda: anggota keluarga tidak boleh melawan mama. Setelah Mars melanggar aturan tersebut, ia kehilangan hak menonton televisi dan bermain gim selama beberapa hari; Ringgo menyebutnya pelajaran berharga di usia enam tahun. Cerita itu memperlihatkan bagaimana aturan keluarga dapat memberi bentuk nyata pada kesepakatan rumah. Namun, yang layak ditiru bukan hukuman tertentu, melainkan adanya batas dan konsekuensi yang dipahami anak.
Kehangatan tetap bagian dari disiplin
Kisah dua keluarga ini tidak membuktikan bahwa satu gaya pengasuhan selalu lebih baik. Justru, pola asuh lembut dan ketegasan bisa sama-sama berperan: kelembutan membuka ruang komunikasi, sementara batas menolong anak memahami perilaku yang dapat diterima. Aturan keluarga juga bukan daftar larangan untuk mengendalikan setiap gerak anak. Jika dirumuskan secara sederhana, aturan menjadi cara keluarga menyatakan kebiasaan dan kesepakatan bersama. Pengalaman Mars menunjukkan konsekuensi berupa hilangnya hak istimewa menonton televisi dan bermain gim selama beberapa hari, bukan larangan tanpa batas waktu. Dalam praktik sehari-hari, nilai sebuah aturan bergantung pada apakah anak tahu apa yang diharapkan dan mengapa suatu konsekuensi diberikan. Karena itu, ketegasan sebaiknya tidak disamakan dengan kemarahan, dan kehangatan tidak berarti menghapus batas. Pengasuhan yang memberi arahan sekaligus menjaga hubungan membuat disiplin terasa sebagai proses belajar, bukan pertarungan kuasa.
Kesimpulannya, ketegasan dan kelembutan bukan lawan yang harus dipertandingkan. Denny Sumargo dan Olivia Allan menjadi pintu masuk untuk melihat bahwa batas dapat hadir bersama komunikasi penuh perhatian. Saat aturan jelas dan konsekuensi dipahami, disiplin anak tidak perlu mengorbankan perasaan anak; yang perlu dijaga ialah agar ketegasan tetap mendidik dan kehangatan tetap memberi arah.






