Masakan by Bu Guru: Definisi Program Makan Bergizi Mandiri dari Pelosok
Program makan bergizi mandiri adalah inisiatif lokal yang diinisiasi warga atau pendidik, dibiayai donasi dan swadaya, untuk menyediakan makanan bergizi rutin bagi murid sekolah yang belum terjangkau program resmi pemerintah, dengan pola gotong royong sederhana namun terencana di tingkat sekolah dan komunitas sekitar.
Di SD Kecil Ogolau, Parigi Moutong, istilah itu menjelma nyata lewat “Masakan by Bu Guru”, program MBG Mandiri yang dijalankan Riska Andriani sejak Mei 2026. Di tengah sorotan atas Program Makan Bergizi Gratis nasional yang belum merata dan cenderung terkonsentrasi di Jawa, sekolah kecil di kawasan pegunungan ini menjadi gambaran paling telanjang: ketika negara terlambat hadir, guru yang menambal sendiri. Ironisnya, SD Kecil Ogolau menjadi satu-satunya sekolah di desanya yang tidak dijangkau program resmi MBG. Dari situ, lahir alternatif: makan bergizi versi swadaya, lahir dari dapur guru, ditopang kepercayaan warganet, dan dikelola ala kampung.

Dari Gaji Guru ke Gerakan Kolektif: Inisiatif yang Tumbuh dari Krisis
Pemicu program ini bukan rapat koordinasi, melainkan kegelisahan pribadi. Usai menerima gaji, Riska tahu sebagian muridnya bahkan kesulitan untuk makan. Ia mulai membeli susu dan snack dari uang pribadinya, lalu membagikannya sebagai makan siang sederhana. Tindakan kecil itu direkam dan diunggah ke media sosial, tanpa target apa pun selain dokumentasi.
Respons publik membalik skala gerakan ini. Konten “Masakan by Bu Guru” mendadak viral dan menuai empati dari warganet yang kemudian menitipkan rezeki untuk murid-murid di Ogolau. "Program MBG mandiri bukan diinisiasi dari saya pribadi. Saya hanya meneruskan amanah teman-teman saya di sosial media yang menitipkan rezeki untuk anak-anak kami di pelosok". Dari uang pribadi, program makan bergizi mandiri ini menjelma gerakan kolektif: donatur membiayai seratus persen kebutuhan bahan makanan, gas yang mahal di daerah pegunungan, perlengkapan memasak, hingga biaya mobilisasi ke puncak gunung. Inilah bukti bahwa nutrisi anak sekolah pelosok bisa menjadi agenda publik, bukan sekadar urusan dapur keluarga.
Nutrisi Anak Sekolah Pelosok: Fungsi Ganda Sepiring Makanan
Begitu dukungan mengalir, jenis makanan yang disajikan pun meningkat kualitas gizinya. Setelah mendapatkan suntikan dana dari teman-teman di media sosial, Riska dapat menyajikan makanan dengan gizi lebih lengkap yang dinikmati para siswa di sekolah. Bagi Riska, yang terpenting adalah anak-anak tetap bisa mendapatkan makanan saat berada di sekolah. Di sini, program makan bergizi mandiri bukan sekadar memberi kenyang, tetapi menjamin akses makanan bergizi di titik terlemah rantai layanan publik.
Praktiknya realistis, tidak muluk. Masak dan makan bersama maksimal tiga kali dalam sepekan; di hari lain murid mendapat bekal susu dan makanan ringan. Pola ini mungkin belum ideal secara standar gizi, tetapi signifikan untuk anak-anak yang sebelumnya kerap berangkat belajar dengan perut nyaris kosong. Di balik sepiring makanan yang disajikan, tersembunyi problem besar: bagaimana program nasional seperti MBG bisa menjangkau anak-anak jauh dari pusat kota dengan akses jalan perbukitan dan setapak licin. Selama pertanyaan itu belum terjawab tuntas, setiap porsi yang keluar dari “Masakan by Bu Guru” adalah koreksi halus terhadap kegagalan pemerataan.
Gotong Royong Guru dan Orang Tua: Model Lokal yang Layak Ditiru, Bukan Dibiarkan Sendiri
Kekuatan utama inisiatif guru lokal ini terletak pada cara ia mengikat banyak pihak dalam satu meja makan. Program MBG Mandiri di SD Kecil Ogolau berjalan gotong royong: para guru memasak secara bergantian, dan ketika sibuk, mereka menitip tugas memasak kepada wali murid. Riska bergerak dengan apa yang tersedia, dibantu guru, orang tua, dan para donatur yang sukarela memberi bantuan. Model ini menunjukkan bahwa nutrisi anak sekolah pelosok bukan soal menunggu, tetapi mengorganisir solidaritas.
Namun di sinilah letak bahaya jika negara merasa nyaman. Inisiatif ini tidak boleh diperlakukan sebagai pengganti permanen program pemerintah. Ia adalah penyangga sementara, alarm yang berbunyi lantang dari sekolah kecil di puncak pegunungan: ketika akses belum sampai, kepedulian jangan ikut berhenti. Ke depan, pemerintah perlu menjadikan pola kolaborasi guru–orang tua–donatur ini sebagai inspirasi desain kebijakan, bukan alasan untuk mundur. Program makan bergizi mandiri seperti “Masakan by Bu Guru” layak diberi dukungan struktural dan logistik, agar keteladanan dari pelosok tidak berujung kelelahan, melainkan terhubung ke sistem yang lebih adil dan menyeluruh.






