Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Bahaya Tersembunyi di Jalur Trail: Cedera hingga Karhutla

Bahaya Tersembunyi di Jalur Trail: Cedera hingga Karhutla
Minat|Lari Trail

Trail Running: Indah, Adiktif, dan Penuh Risiko Tersembunyi

Trail running adalah aktivitas lari di medan alam seperti gunung, hutan, dan perbukitan yang memadukan tantangan fisik, keindahan lanskap, serta kondisi jalur yang tidak terduga sehingga pelari harus siap menghadapi risiko cedera, perubahan cuaca ekstrem, hingga ancaman bencana alam dalam situasi yang sering kali jauh dari fasilitas medis dan akses evakuasi cepat.

Kita sering meromantisasi lari trail sebagai pelarian dari hiruk pikuk kota, padahal bahaya tersembunyi mengintai di setiap tikungan. Kisah aktor sekaligus politikus Hengky Kurniawan yang tetap mengikuti trail run di Gunung Merbabu meski mengalami cedera engkel saat ajang lari di Cirebon menunjukkan betapa kuatnya daya tarik jalur alam bagi pelari, bahkan ketika tubuh belum pulih sepenuhnya. Ia mengakui bahwa cedera engkel seharusnya membuatnya beristirahat, namun tetap berlari karena tergoda keindahan pemandangan Merbabu.

Di sisi lain, 12 trail runner dari komunitas Rimba Borneo Runners nyaris celaka ketika terjebak kebakaran hutan dan lahan di Gunung Haur Bunak, Kalimantan Selatan, pada Sabtu 10 Oktober 2026, meski rute itu sudah sering mereka lewati dan dianggap aman. Dua kisah ini menegaskan satu hal: keselamatan pelari gunung tidak bisa diserahkan pada nasib baik.

Cedera Engkel: Musuh Lama yang Dianggap Sepele

Cedera engkel trail running bukan monopoli pemula. Hengky Kurniawan mengaku rutin mengikuti ajang lari setiap pekan dalam beberapa bulan terakhir, termasuk berlari sejauh 10 kilometer sebelum cedera di Cirebon terjadi. Artinya, volume latihan dan pengalaman tidak otomatis menghapus risiko. Medan tidak rata, batu lepas, akar pohon, dan turunan curam membuat pergelangan kaki bekerja ekstra keras di setiap langkah.

Keputusan Hengky untuk tetap mengikuti trail run di Gunung Merbabu dua hari setelah cedera, meski kakinya masih terasa sakit, adalah cermin mentalitas banyak pelari yang enggan mundur dari agenda lomba atau latihan favorit. Ia bahkan menyebut, “Bagian engkel, tetapi alhamdulillah finish strong”. Kalimat ini terdengar inspiratif, namun di baliknya ada risiko memperparah cedera, memperpanjang masa pemulihan, bahkan memicu kerusakan permanen pada ligamen.

Jika pelari berpengalaman saja bisa terjebak dalam glorifikasi “finish strong” saat cedera, komunitas perlu mengubah standar kebanggaan: lebih terhormat mundur untuk menyelamatkan engkel daripada memaksa diri demi satu medali. Mengabaikan sinyal sakit di pergelangan kaki di jalur gunung bukan keberanian, melainkan perjudian kesehatan jangka panjang.

Ketika Jalur Latihan Berubah Jadi Koridor Api

Jika cedera engkel adalah risiko klasik, kebakaran hutan lari trail adalah mimpi buruk modern. Di Gunung Haur Bunak, 12 anggota Rimba Borneo Runners, termasuk tiga perempuan, berangkat dari Banjarmasin untuk latihan di rute Aranaway–Haur Bunak yang sudah sering mereka lewati dan dikenal sebagai kombinasi makadam dan tanah habang yang ideal untuk latihan. Musim kemarau panjang membuat vegetasi kering dan rawan terbakar, namun jalur belum ditutup secara resmi sehingga mereka merasa masih aman.

Titik-titik api mulai muncul saat mereka masih di jalur Aranaway menuju Desa Belangian, bahkan sempat mereka coba padamkan dengan sisa air di softflask, tetapi api justru menyebar lebih cepat. Setelah mengisi ulang air dan makan di Desa Belangian, mereka naik lewat Jalur Penyaluhan yang masih aman hingga puncak, namun situasi berubah drastis saat turun melalui Jalur Plajau sekitar pukul 13.00–14.00 WITA, ketika asap tipis mulai terlihat di Pos 2 dan ranting serta daun kering yang terbakar besar memblokir jalur.

Dengan air hampir habis dan kekhawatiran kehabisan tenaga jika kembali ke puncak, mereka memutuskan menerobos jalur yang dilalap api, berlari kencang di tengah asap pekat, mata pedih, napas sesak, kaki bergoresan, dan kulit melepuh karena menginjak bara panas sebelum akhirnya selamat dengan cedera ringan hingga sedang. Kejadian ini mengingatkan betapa cepatnya api bisa mengancam di musim kemarau, bahkan di jalur yang dianggap aman.

Mengubah Cara Pandang: Dari Keberanian Nekat ke Keselamatan Pelari Gunung

Dua insiden berbeda—cedera engkel yang diabaikan dan rombongan pelari yang nyaris terkepung api—memperlihatkan pola yang sama: budaya mengagungkan ketangguhan di atas keselamatan. Padahal, keselamatan pelari gunung seharusnya menjadi tolok ukur utama keberhasilan sebuah lari trail, bukan seberapa heroik cerita penderitaan di garis finis. Ketika pelari tetap turun gunung dengan engkel bermasalah atau menerobos karhutla karena merasa tidak punya pilihan lain, yang gagal bukan hanya individu, tetapi juga ekosistem pendukungnya.

Sebagai penikmat alam, salah satu anggota Rimba Borneo Runners, Ilman Akbar, berharap pemerintah dan warga meningkatkan patroli di titik-titik rawan karena karhutla tidak hanya mengganggu aktivitas trail run, tetapi juga satwa dan hutan yang banyak terbakar. Pernyataan ini menegaskan bahwa keselamatan pelari tidak bisa dipisahkan dari keselamatan ekosistem. Jalur yang aman bagi lomba adalah jalur yang juga aman bagi hutan dan makhluk hidup di dalamnya.

Komunitas trail perlu berani mengkritisi glorifikasi “nekat demi pemandangan indah” dan mulai merayakan keputusan bijak: menunda race saat cedera, membatalkan latihan ketika titik api muncul, dan mengutamakan pulang dengan selamat. Tanpa perubahan cara pandang ini, setiap musim kemarau dan setiap start race baru akan selalu membawa potensi tragedi yang sama.

Penutup: Jalur Trail Bukan Arena Judi Nyawa

Trail running akan selalu mengandung risiko, tetapi banyak bahaya bisa dikurangi jika pelari dan komunitas berhenti menganggapnya sebagai konsekuensi wajar demi petualangan. Cedera engkel trail running yang dibiarkan, seperti dialami Hengky Kurniawan, menunjukkan bagaimana ambisi pribadi dapat mengalahkan logika istirahat dan pemulihan. Sementara itu, pengalaman Rimba Borneo Runners yang terjebak kebakaran hutan dan lahan di Gunung Haur Bunak memperlihatkan betapa tipis jarak antara latihan rutin dan insiden yang mengancam nyawa.

Kebakaran hutan lari trail dan cedera di medan teknis bukan sekadar cerita seram untuk ditertawakan setelah semua selamat. Keduanya adalah alarm keras bahwa jalur trail bukan arena judi nyawa. Jika kita mencintai gunung dan hutan, bentuk cinta paling nyata adalah pulang dengan selamat, menjaga tubuh tetap sehat, dan menuntut standar keselamatan yang lebih tinggi dari diri sendiri maupun penyelenggara kegiatan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!