KuybeliKuybeli

Program Sekolah Bekali Pelajar Jadi Konten Kreator di Era AI

Program Sekolah Bekali Pelajar Jadi Konten Kreator di Era AI
Minat|Aplikasi Ponsel

Konten Kreator Positif: Bekal Baru Pelajar di Era AI

Program konten kreator pelajar adalah inisiatif pendidikan di lingkungan sekolah yang sengaja dirancang untuk membekali siswa dengan keterampilan pembuatan konten digital, public speaking, dan jurnalistik, agar mereka mampu berkomunikasi efektif, berpikir kritis, serta menggunakan media sosial secara bertanggung jawab sebagai pencipta konten positif di tengah perkembangan kecerdasan buatan dan transformasi digital yang mengubah cara belajar, bekerja, dan berinteraksi. Di Nganjuk, AXIS School Fest hadir di SMAN 1 Berbek pada Jumat 31 Juli dan bersiap menyapa ratusan siswa SMKN 1 Lengkong pada Rabu 5 Agustus, menghadirkan sesi edukatif tentang content creation untuk generasi muda. Ini bukan sekadar acara seru-seruan, melainkan pernyataan tegas: sekolah wajib ikut menyiapkan pelajar menjadi produsen gagasan, bukan hanya penonton di timeline.

Pembukaan acara oleh Subowo, M.Pd., Waka Humas SMAN 1 Berbek, menegaskan pandangan tersebut. Ia menyebut kemampuan di bidang digital sebagai bekal penting generasi muda dan berharap siswa memanfaatkan teknologi secara positif, kreatif, serta bertanggung jawab. Di sini tampak jelas, literasi digital pelajar Indonesia tidak bisa lagi dianggap pelengkap; ia harus ditempatkan setara dengan mata pelajaran utama. Ketika AI mengotomatisasi banyak hal, yang membedakan pelajar adalah cara mereka mengolah ide, bercerita, dan memaknai teknologi. AXIS School Fest memilih menggarap ruang itu, langsung di jantung ekosistem pendidikan: kelas dan aula sekolah.

Dari Konsumen ke Kreator: Literasi Digital di Lapangan

Sesi bertema Creative Digital Content yang dibawakan konten kreator asal Kediri, Yuni Larasati, mengajak siswa melihat proses kreatif di balik konten digital yang menarik: mulai penggalian ide, storytelling, sampai menjaga relevansi dengan tren media sosial. Di sinilah program konten kreator pelajar punya nilai strategis. Anak-anak yang sehari-hari menghabiskan waktu di media sosial diajak naik kelas: bukan lagi sekadar mengonsumsi video dan meme, tetapi memahami teknik, alur, dan tujuan di balik tiap unggahan. Ini bentuk edukasi yang menyentuh kebiasaan nyata, bukan hanya teori di buku.

Brand Community Leader XLSMART wilayah Madiun–Pacitan, Dhafi Akbar Ramadhan Putra, secara gamblang mengajak pelajar bertransformasi dari konsumen menjadi pencipta konten yang bermanfaat dan inspiratif. Ia menegaskan AXIS School Fest sebagai komitmen nyata dalam peningkatan literasi digital di dunia pendidikan. Pernyataan ini penting: literasi digital pelajar Indonesia bukan hanya tentang tahu cara memakai aplikasi, tetapi tentang etika, tujuan, dan dampak konten. Menariknya, dukungan tidak berhenti di kelas; XLSMART membagikan kartu perdana AXIS gratis kepada seluruh peserta agar akses internet untuk belajar dan berkarya menjadi lebih mudah. Teknisnya sederhana, tapi sinyalnya kuat: industri telekomunikasi ikut menanggung tanggung jawab pendidikan digital.

Public Speaking dan Jurnalistik: Soft Skill di Tengah Gelombang AI

Gelombang kecerdasan buatan mengubah cara orang belajar, bekerja, hingga berkomunikasi. Di tengah perubahan ini, pelatihan jurnalistik digital sekolah dan public speaking siswa era AI menjadi sangat relevan. AXIS School Fest di SMKN 1 Jenangan membekali ratusan siswa dengan dua soft skill inti: berbicara di depan publik dan jurnalistik sebagai bekal di era digital. Inisiatif ini mengirim pesan jelas: ketika mesin bisa menulis dan menganalisis data, manusia harus memperkuat kemampuan berpikir kritis, merangkai argumen, dan menyampaikan gagasan secara meyakinkan.

Supervisor Akuisisi XLSmart Ponorogo–Pacitan, Dymas Niko Amriansyah, menekankan bahwa keterampilan nonteknis kini punya peran setara dengan kemampuan teknis. Public speaking melatih keberanian dan struktur berfikir, sementara jurnalistik mengasah kepekaan terhadap fakta, etika, dan sudut pandang. Keduanya menjadi landasan kuat bagi pelajar yang kelak akan bersentuhan langsung dengan AI: mereka belajar mengajukan pertanyaan yang baik, menyusun narasi, dan menilai informasi. Tanpa fondasi ini, teknologi secanggih apa pun hanya akan mempercepat penyebaran kebingungan. Dengan pelatihan terarah di sekolah, siswa diposisikan bukan sebagai korban arus digital, melainkan aktor yang mampu mengarahkan percakapan publik.

Kolaborasi Industri–Sekolah: Model Baru Pemberdayaan Generasi Muda

Ada gagasan besar di balik rangkaian AXIS School Fest: literasi digital dan komunikasi bukan tugas sekolah semata, tetapi tanggung jawab bersama industri dan dunia pendidikan. Kolaborasi positif antara operator telekomunikasi dan sekolah ini melahirkan makin banyak talenta muda yang adaptif, inovatif, dan berdaya saing di era digital. XLSmart, yang kini menaungi tiga merek utama XL, AXIS, dan Smartfren, memakai program ini untuk menunjukkan komitmen mendukung pengembangan talenta muda. Ini model kemitraan yang seharusnya ditiru: perusahaan tidak sekadar menjual koneksi internet, tetapi ikut membangun kualitas isi yang akan mengalir di jaringan mereka.

Namun, kolaborasi saja tidak cukup jika sekolah hanya memosisikan program seperti AXIS School Fest sebagai acara tambahan. Kegiatan-kegiatan ini perlu dipandang sebagai bagian dari strategi kurikulum: ruang untuk mengintegrasikan program konten kreator pelajar, pelatihan jurnalistik digital sekolah, dan public speaking siswa era AI ke dalam pengalaman belajar sehari-hari. Ketika siswa terbiasa berdiri di depan kelas, mengolah data, menulis berita, dan membuat konten yang bertanggung jawab, mereka sedang membangun identitas sebagai warga digital yang matang. Jika dibiarkan sporadis, peluang emas untuk menggeser budaya scroll tanpa pikir menjadi budaya berkarya akan terbuang.

Kesimpulan: Saatnya Sekolah Menjadi Rumah Kreator dan Jurnalis Muda

Rangkaian AXIS School Fest di SMAN 1 Berbek, SMKN 1 Lengkong, dan SMKN 1 Jenangan menunjukkan satu hal: pelajar siap diajak naik kelas, asal sekolah dan industri memberi ruang yang serius bagi pengembangan soft skill dan literasi digital. Pelatihan konten kreator, public speaking, dan jurnalistik bukan lagi bonus, tetapi kebutuhan dasar di era AI. Program seperti ini memicu keberanian siswa berbicara, mengasah kepekaan terhadap informasi, dan menyalurkan kreativitas ke konten yang bermanfaat.

Jika sekolah mau menjadikan inisiatif seperti AXIS School Fest sebagai bagian rutin dari ekosistem belajar, kita akan melihat generasi muda yang tidak panik menghadapi AI, tetapi menggunakannya sebagai alat untuk memperkuat suara dan gagasan mereka. Literasi digital pelajar Indonesia akan bertumbuh bukan lewat larangan, melainkan lewat peluang untuk berkarya dan berdiskusi. Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu dijawab setiap sekolah sederhana: apakah kita masih mendidik siswa sebagai konsumen informasi, atau sudah siap memfasilitasi mereka menjadi kreator dan jurnalis muda yang kritis serta bertanggung jawab?

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!