Pertemuan yang memperluas jejaring batik
Jambore Batik Jabar adalah pertemuan pelaku batik yang mempertemukan perajin lintas daerah untuk berbagi pengetahuan, merawat hubungan, dan membangun kerja sama bagi keberlanjutan tradisi. Di Bandung, gagasan itu terasa lebih bernilai daripada sekadar menggelar acara: batik tumbuh melalui pertukaran pengalaman, bukan dengan menutup diri pada perubahan. Memasuki hari kedua Jambore Batik Jawa Barat 2026, kegiatan ini menghadirkan perajin dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Barat serta Pekalongan, Kudus, Yogyakarta, Lasem, Surabaya, Padang, dan Lampung. Ragam peserta membuka ruang percakapan tentang teknik, motif, pewarnaan, pemasaran, hingga tantangan menjaga usaha batik tetap hidup. Pertemuan semacam ini penting karena tiap daerah membawa pengalaman berbeda, sementara para pembatik menghadapi perubahan selera pasar, kemajuan teknologi, regenerasi tenaga kerja, dan persaingan tekstil modern. Jambore memberi alasan konkret untuk saling belajar, bukan hanya memamerkan kekhasan masing-masing.

Buku sebagai jembatan pengetahuan
Peluncuran buku “Kinarya dan Ekspresi Artistik Batik Jawa Barat” menjadi salah satu langkah paling berarti dalam rangkaian acara. Disusun oleh tim penulis dari pengurus Yayasan Batik Jawa Barat, buku ini mendokumentasikan kekayaan batik Jawa Barat, kreativitas perajin, ekspresi artistik, dan identitas budaya daerah. Dokumentasi bukan urusan pelengkap: tanpa catatan yang dapat dirujuk, pengetahuan yang hidup dalam pengalaman pembatik senior lebih sulit diteruskan dan dipelajari. Karena itu, buku tersebut berpotensi berguna bagi akademisi, peneliti, mahasiswa, desainer, perajin, dan masyarakat yang ingin memahami batik daerah dengan lebih mendalam. Nilainya akan semakin besar bila isi buku menjadi bahan percakapan, pembelajaran, dan penciptaan karya, bukan berhenti sebagai arsip. Dengan mempertemukan ingatan, keterampilan, dan riset, peluncuran ini memberi fondasi bagi generasi berikutnya untuk mengenali tradisi sekaligus mengembangkannya secara bertanggung jawab.

Teknologi dan fashion tanpa kehilangan akar
Jambore juga mengangkat hubungan antara keterampilan membatik dan perkembangan teknologi melalui diskusi bertema “Merayakan Batik dan Sinergitas Teknologi”. Ruang kolaborasi teknologi batik mencakup inovasi desain, dokumentasi digital, pengembangan produk, serta pemanfaatan platform pemasaran modern. Arah ini menjanjikan jangkauan yang lebih luas, tetapi kemajuan tidak boleh menjadi alasan untuk menghapus autentisitas, filosofi motif, atau ketelitian kerja perajin. Peragaan busana karya desainer nasional Deden Siswanto memperlihatkan bagaimana batik dapat hadir dalam fashion kreatif dan kontemporer, sekaligus membuka peluang peningkatan nilai produk. Tantangannya adalah menjaga agar pembaruan tetap berpijak pada keterampilan dan identitas daerah, bukan menjadikan batik sekadar corak yang mudah dipindahkan ke tren apa pun. Kolaborasi lintas bidang akan berhasil bila teknologi memperkuat kerja pembatik dan membantu publik mengenali makna kain, bukan menenggelamkan pembuatnya.
Regenerasi harus berlanjut setelah acara
Regenerasi pelestari batik daerah menjadi ujian penting bagi seluruh rangkaian jambore. Pemilihan Duta Batik Jawa Barat yang menjadi bagian acara memberi wajah muda pada upaya tersebut: finalis asal Bandung, Ardelia Calluella, terpilih dalam grand final di Auditorium RRI Bandung pada Jumat, 23 Oktober 2026. Seleksi yang dibuka pada Juni 2026 menjaring ratusan peserta dari 27 kabupaten dan kota, dengan tahapan yang mencakup wawancara, pembekalan, pengetahuan batik, dan praktik membatik. Ini pendekatan yang tepat karena kecintaan pada batik perlu disertai pemahaman sejarah, proses pembuatan, dan filosofi motif. Namun, gelar duta saja tidak menjamin regenerasi. Peran itu perlu berlanjut menjadi keterlibatan nyata bersama perajin dan komunitas. Ketua Umum Yayasan Batik Jawa Barat, Sendy Dede Yusuf, mengingatkan, “Jadilah sahabat dan pelestari batik sepanjang hayat.” Pesan itu merangkum ukuran keberhasilan jambore: tradisi tetap dipelajari, dipakai, dan dikembangkan setelah panggung selesai.






