AI di Kelas: Bukan Pengganti Guru, Melainkan Keterampilan Baru
Pelatihan AI guru dalam program Terpujilah GURU adalah inisiatif pelatihan intensif yang membekali lebih dari 1.500 pendidik SMA, SMK, dan MA dengan literasi digital pendidik, keterampilan pembelajaran dengan AI, serta kreativitas digital kelas yang langsung bisa diterapkan dalam proses belajar mengajar di sekolah masing-masing. Program ini sengaja mengambil posisi tegas: AI bukan ancaman bagi profesi guru, melainkan bahasa kerja baru yang wajib dikuasai agar pengajaran tetap relevan. Telkomsel membaca kegelisahan yang nyata di lapangan, yaitu rasa takut guru tertinggal dari murid dalam memahami teknologi AI yang berkembang cepat. Alih-alih membiarkan kesenjangan digital melebar, Terpujilah GURU menjadikan AI sebagai alat bantu yang menguatkan peran humanis guru di kelas—bukan menggantikannya.
Desain Program: Dari Roadshow Ribuan Guru ke Akademi Intensif
Kekuatan utama program Terpujilah GURU adalah desain pelatihannya yang bertahap dan terukur, bukan sekadar sosialisasi sesaat. Sejak Mei, program ini menjangkau lebih dari 3.800 guru SMA, SMK, dan MA melalui roadshow di berbagai kota, dari Bogor hingga Batam, lalu menyaring 1.500 guru yang mengikuti rangkaian pelatihan lebih mendalam. Tahapan lanjutannya jelas: akademi daring untuk 400 guru, pendampingan bagi 80 guru, hingga pelatihan intensif luring untuk 12 finalis di Jakarta. Angka-angka ini menunjukkan bahwa pelatihan AI guru di sini bukan agenda simbolik, melainkan investasi serius pada kompetensi pengajar. Dengan struktur seperti ini, literasi digital pendidik tidak berhenti pada teori; peserta dipaksa bereksperimen, menguji, dan membuktikan ide mereka dalam bentuk rancangan pembelajaran konkret.

Keterampilan Praktis: AI sebagai Alat Kerja, Bukan Sekadar Tren
Terpujilah GURU pantas disebut sebagai program pelatihan AI guru yang pragmatis karena kurikulumnya dirancang agar hasil belajar langsung bisa dipakai di kelas, bukan hanya menambah istilah teknis di kepala peserta. Guru dilatih memahami pemanfaatan AI yang berpusat pada manusia, penyusunan instruksi AI untuk meningkatkan produktivitas, hingga pembuatan desain visual dan video yang memperkaya kreativitas digital kelas. Mereka juga belajar metode pembelajaran kreatif dan asesmen atau pengujian digital, lalu diwajibkan menutup proses dengan karya akhir berupa materi dan rancangan pembelajaran yang siap diterapkan di sekolah. "Kurikulum Terpujilah GURU dirancang agar keterampilan yang dipelajari dapat langsung digunakan," menjadi pernyataan penting yang menegaskan orientasi praktis program ini. Hasilnya, pembelajaran dengan AI tidak berhenti sebagai jargon, melainkan hadir sebagai perubahan nyata di kelas.
Menjaga Peran Humanis Guru di Tengah Gempuran AI
Di balik fokus pada literasi digital pendidik, program Terpujilah GURU mengambil posisi normatif yang jelas: AI adalah alat, guru tetap pemegang kompas nilai. Materi pelatihan tidak hanya mengajarkan cara membuat konten atau memanfaatkan chatbot, tetapi juga bagaimana membedakan karya AI dari karya murni manusia, serta menjaga cara berpikir mandiri siswa. Di sini, pembelajaran dengan AI dibingkai sebagai ekosistem yang tetap mengutamakan empati, interaksi langsung, dan pemahaman karakter siswa—hal-hal yang dinyatakan tidak akan pernah bisa digantikan oleh AI. Menariknya, guru juga didorong menjadi educator, creator, dan innovator sekaligus, sehingga teknologi memperluas peran mereka, bukan mengecilkannya. Sikap ini penting: tanpa panduan etis seperti ini, AI di kelas berisiko mendorong budaya menyontek canggih alih-alih berpikir kritis.
Dampak Nyata di Kelas dan Arah Ke Depan
Dampak paling terasa dari program ini adalah perubahan cara guru memanfaatkan teknologi di kelas: proses belajar menjadi lebih mudah dipahami, lebih menarik secara visual, dan lebih relevan dengan kebutuhan siswa. Setelah program selesai, pengetahuan dan keterampilan peserta tidak dibiarkan berhenti; mereka disambungkan ke jejaring alumni EduCreator sebagai ruang berbagi materi, pengalaman, dan praktik pembelajaran yang mereka kembangkan. Ini langkah strategis agar pelatihan AI guru menular ke lingkungan pendidikan yang lebih luas, bukan hanya tinggal di kepala 1.500 peserta terpilih. Informasi program disediakan secara terbuka melalui terpujilahguru.id, memberi peluang bagi guru lain untuk ikut bergerak. Kesimpulannya, Terpujilah GURU menunjukkan bahwa literasi digital pendidik dan pemanfaatan AI yang bijak bukan lagi pilihan tambahan, melainkan syarat dasar jika sekolah ingin tetap relevan bagi generasi yang tumbuh bersama AI.






