EX2, Simbol Pergeseran Selera Pasar ke Mobil Listrik Kompak
Geely EX2 adalah mobil listrik kompak yang muncul sebagai model paling dominan di ajang otomotif GIIAS 2026, ditandai dengan kontribusi sekitar 70 persen dari total 3.033 Surat Pemesanan Kendaraan yang dibukukan Geely Group, sekaligus memperlihatkan pergeseran selera konsumen ke kendaraan elektrifikasi yang ringkas, efisien, dan praktis untuk mobilitas harian.
Dominasi EX2 di GIIAS 2026 bukan sekadar angka penjualan, tetapi sinyal keras bahwa pasar sedang bosan dengan SUV bongsor yang boros ruang dan energi. Ketika total SPK Geely melonjak lebih dari tiga kali lipat dibanding GIIAS 2025, jelas ada sesuatu yang mengklik di kepala konsumen: mobil listrik kompak terasa lebih relevan dengan kehidupan nyata, bukan hanya brosur pemasaran. Kehadiran lini EV, PHEV, hingga ICE memang membantu menarik massa, namun yang berujung menjadi primadona tetap EX2. Gelar No. 1 World’s Best-Selling Small EV dijadikan narasi, tetapi yang membuat orang mengeluarkan uang adalah kombinasi harga realistis, fitur yang terpakai sehari-hari, dan pengalaman berkendara yang tidak terasa murahan.

Angka 3.033 SPK: Bukti Strategi Test Drive dan Harga Berhasil
Kunci keberhasilan EX2 di GIIAS 2026 ada pada dua hal: orang diajak mencoba, lalu dibuat merasa harga dan paketnya masuk akal. Geely mencatat 3.033 SPK dan lebih dari 2.000 sesi test drive sepanjang pameran, dengan EX2 sebagai model yang paling sering dikemudikan pengunjung sebelum memutuskan membeli. Ini bukan kebetulan, melainkan strategi pemasaran yang sengaja menempatkan pengalaman berkendara di depan gimmick desain.
Geely EX2 harga dipatok mulai Rp239,9 juta, angka yang sengaja ditempatkan di wilayah psikologis "bisa dijangkau" bagi mereka yang ingin naik kelas ke EV tanpa harus masuk segmen premium. Nilai tambah berupa wall charger plus instalasi dasar dan portable charger membuat paketnya terasa lebih rasional: bukan hanya beli mobil, tapi sekaligus ekosistem pengisian di rumah. Pernyataan Constantinus Herlijoso bahwa pengalaman berkendara dan build quality menjadi faktor penting dalam keputusan pembelian terdengar klise, tetapi tercermin jelas di angka SPK: "Tahun ini, kami mencatatkan total 3.033 SPK dan lebih dari 2.000 sesi test drive." Konsumen yang sebelumnya ragu EV, pelan-pelan bergeser setelah merasakan langsung karakter EX2.

Mengapa EX2 Menang dalam Segmen Mobil Listrik Ringkas
Jika melihat perbandingan SUV listrik secara umum, EX2 jelas memilih jalur berbeda: bukan mengandalkan bodi besar dan tampang gagah, melainkan kepraktisan mobil listrik kompak yang berpihak pada kehidupan kota. Sebagai No. 1 World’s Best-Selling Small EV, EX2 menawarkan teknologi elektrifikasi yang cukup matang, efisiensi yang terasa di pemakaian harian, dan dimensi yang memudahkan parkir dan manuver di jalan padat.
Lebih dari 6.500 konsumen disebut sudah memilih EX2, angka yang menegaskan bahwa narasi "EV itu merepotkan" perlahan runtuh ketika produk yang ditawarkan memang menjawab kebutuhan nyata: ringkas, hemat, dan tidak ribet soal pengisian daya. Mobil listrik kompak seperti EX2 cocok untuk jarak tempuh harian, sementara SUV listrik besar sering berakhir berlebihan untuk sekadar perjalanan kantor dan belanja. Di panggung GIIAS, EX2 juga diapit portofolio lain seperti EX5, Starray EM-i, Coolray, dan Okavango, plus jajaran ZEEKR yang berkonsep tech-luxury. Kontras ini justru menguntungkan EX2: di tengah deretan mobil besar dan mewah, opsi yang masuk akal untuk mayoritas orang terlihat lebih menonjol.

Lonjakan Tiga Kali Lipat: Momentum EV yang Tak Lagi Bisa Diabaikan
Lonjakan penjualan lebih dari tiga kali lipat dibanding GIIAS 2025 adalah peringatan keras bagi pemain lama otomotif: pasar sudah mulai memprioritaskan efisiensi dan kualitas rakitan, bukan sekadar emblem di grille. Kombinasi EV, PHEV, dan ICE di booth Geely hanyalah pintu masuk; yang menggambar ulang peta persaingan adalah fakta bahwa mayoritas pemesanan jatuh ke satu mobil listrik kompak.
Tren ini menunjukkan dua hal. Pertama, konsumen sudah lebih berani mengadopsi teknologi mobilitas ramah lingkungan, asalkan harga dan dukungan purnajualnya masuk akal. Kedua, konsep "mobil masa depan" ternyata tidak harus berarti besar dan mahal; EX2 membuktikan bahwa bentuk paling logis dari EV untuk penggunaan harian adalah mobil kecil dengan teknologi yang bisa dipercaya. Lebih dari 2.000 sesi test drive menjadi semacam referendum publik terhadap EV: begitu orang merasakan sendiri, banyak kekhawatiran lama runtuh. Di titik ini, merek yang masih mengandalkan jargon tanpa pengalaman nyata berisiko tertinggal.
Kesiapan Unit dan Arah Baru Segmen EV Kompak
Keberhasilan penjualan tanpa kesiapan pasokan hanya akan berakhir pada kekecewaan. Di sinilah langkah Geely menyiapkan lebih dari 2.000 unit EX2 untuk dikirim bertahap pascapameran terasa penting: konsumen yang memesan di GIIAS 2026 tidak dibiarkan menunggu tanpa kepastian, bahkan sebagian unit sudah mulai diserahkan. Komitmen distribusi ini memperkuat kepercayaan pada merek yang masih relatif baru di lanskap EV lokal.
Ke depan, keberhasilan EX2 akan menjadi tolok ukur bagi seluruh segmen mobil listrik kompak. Jika model ini mampu mempertahankan kualitas pengiriman dan layanan purnajual, bukan tidak mungkin standar baru terbentuk: EV ringkas dengan harga masuk akal, paket pengisian lengkap, dan pengalaman berkendara yang meyakinkan. Pada akhirnya, lonjakan GIIAS 2026 pemesanan bukan sekadar event-based hype, melainkan indikasi arah pasar. EX2 menunjukkan bahwa ketika produsen berhenti menjual mimpi dan mulai menjual solusi konkret, konsumen siap berpindah dari mesin bakar ke listrik tanpa banyak drama.






