Keunggulan yang lepas di saat terakhir
Hasil imbang Bali United dengan Persita adalah pertandingan yang berakhir seri setelah Bali United gagal mempertahankan keunggulan hingga peluit akhir, meski sempat memimpin lebih dulu. Dalam laga pekan ketujuh Super League 2026/2027 di Banten International Stadium, Minggu (25/10/2026), gol Pablo Ganet pada menit 90+5 mengubah kemenangan yang nyaris diraih Serdadu Tridatu menjadi skor 1-1. Bagi Bali United, persoalannya bukan sekadar kehilangan dua poin pada penghujung laga. Tim yang sudah berada di ambang kemenangan gagal menjaga kendali saat tekanan Persita meningkat. Gol menit 90+5 itu menegaskan bahwa keunggulan belum cukup jika konsentrasi tak bertahan sampai pertandingan selesai. Karena itu, hasil Bali United vs Persita lebih tepat dibaca sebagai peringatan tentang cara tim mengelola momen penting, bukan hanya sebagai skor seri.
Gol pembuka tidak menjadi jaminan
Bali United sempat memiliki alasan kuat untuk percaya diri. Marko Dugandžić membawa tim tamu unggul pada menit ke-29 lewat sundulan, dan skor 1-0 bertahan hingga babak pertama usai. Namun, keunggulan itu tidak berkembang menjadi kendali yang cukup untuk menutup pertandingan. Persita meningkatkan intensitas serangan pada babak kedua, sementara Bali United berusaha mempertahankan hasil. Tekanan itu akhirnya berbuah pada masa tambahan waktu: setelah drama penalti pada menit ke-90+4, Pablo Ganet menyamakan kedudukan pada menit berikutnya. Rangkaian ini menunjukkan betapa tipis jarak antara bertahan dengan disiplin dan sekadar menunggu waktu habis. Bali United memang menjaga keunggulan sepanjang waktu normal, tetapi gagal melewati ujian terakhir. Gol penyeimbang itu bukan hasil dari awal yang buruk, melainkan dari akhir laga yang tak berhasil mereka kendalikan.
Evaluasi Jansen: fokus dan naluri menang
Johnny Jansen tidak mencari alasan rumit untuk menjelaskan hasil ini. Pelatih Bali United itu mengakui timnya kehilangan fokus ketika kemenangan sudah di depan mata, bahkan menyebut mereka “lupa cara untuk menang”. Pernyataan tersebut tajam, tetapi sesuai dengan masalah yang terlihat: setelah unggul, Bali United tidak mampu mempertahankan ancaman ke gawang lawan maupun memastikan pertahanan tetap rapat sampai akhir. Jansen juga menegaskan bahwa persoalannya bukan semata-mata apakah gol menit akhir sudah diantisipasi, melainkan bagaimana menjaga konsentrasi hingga laga selesai. Evaluasi ini penting karena menunjuk pada tanggung jawab kolektif, bukan satu momen atau satu pemain. Jika tim hanya menganggap gol Ganet sebagai nasib buruk, pelajaran utamanya akan terlewat: kemenangan harus dikelola, bukan sekadar ditunggu.
Satu poin dengan tuntutan pembenahan
Hasil imbang Bali United membuat mereka hanya membawa pulang satu poin dari Tangerang dan menempati posisi ketiga klasemen sementara dengan 13 poin. Angka itu memberi gambaran bahwa hasil seri ini tetap memiliki konsekuensi pada perjalanan tim, terutama karena catatan tandang mereka belum menghasilkan kemenangan hingga pekan ketujuh. Bukan berarti satu gol telat menentukan seluruh musim, tetapi kehilangan keunggulan pada detik terakhir memperlihatkan kebiasaan yang perlu segera dikoreksi. Bali United harus mampu mengubah keunggulan menjadi kontrol: mengurangi kesalahan, tetap berani menyerang, dan menjaga fokus ketika lawan menaikkan tekanan. Kesimpulannya jelas: gol menit 90+5 bukan sekadar drama, melainkan alarm bagi Jansen dan skuadnya. Tanpa pembenahan dalam menjaga konsentrasi, keunggulan serupa bisa kembali berakhir dengan penyesalan.






