Definisi Pergeseran: Dari Belanja Bahan Segar ke Jajanan Gerobak
Pergeseran pola konsumsi makanan adalah perubahan bertahap namun besar dalam kebiasaan rumah tangga yang semakin jarang membeli bahan pangan segar untuk dimasak sendiri dan lebih sering mengandalkan makanan jadi murah yang siap santap, seperti cilok, seblak, dan gorengan, karena alasan harga, kepraktisan, dan keterbatasan waktu kerja.
Dalam satu dekade terakhir, pengeluaran untuk makanan jadi tumbuh jauh lebih cepat daripada pengeluaran untuk bahan makanan segar: naik 126 persen menjadi Rp 248.501 per kapita per bulan, sementara bahan makanan hanya naik 73,5 persen menjadi Rp 435.309 per kapita per bulan. Angka ini bukan sekadar statistik; ini sinyal bahwa dapur kian sepi, sementara gerobak di gang dan pinggir jalan kian ramai. Data tersebut berasal dari Survei Sosial Ekonomi yang dilakukan pada Maret 2015 dan Maret 2025.
Perubahan ini tidak netral. Ketika rumah tangga mengganti belanja sayur dan buah dengan ayam goreng tepung, nasi bungkus, dan jajanan terigu, mereka sedang menukar gizi jangka panjang dengan kenyamanan jangka pendek. Peningkatan kalori harian dari 1.993 kkal menjadi 2.073 kkal per orang per hari menunjukkan perut lebih kenyang, tetapi bukan berarti tubuh lebih sehat.

Cilok Lebih Dekat dari Pasar: Logika Akses dan Harga
Jika pilihan hari ini adalah cilok di depan rumah atau buah segar di pasar yang jauh dan mahal, banyak orang akan memilih cilok. Makanan jadi berbahan tepung tapioka atau terigu dengan tambahan ikan atau ayam—seperti cilok, siomai, dan batagor—terbukti konsumsinya naik 17,3 persen dalam beberapa tahun terakhir, dari 0,23 menjadi 0,27 porsi per minggu per orang, dengan pengeluaran yang ikut naik 76,5 persen. Ini bukti bahwa akses pangan murah yang paling nyata di mata warga adalah jajanan terjangkau, bukan buah dan sayur.
Pengalaman Rida, pekerja di Banjarmasin, menggambarkan keseharian banyak keluarga. Ia membeli ayam goreng 4–8 kali sebulan, termasuk ayam tepung gerobakan seharga Rp 6.000–Rp 8.000 per potong. Dengan uang terbatas dan waktu sempit, pilihan ini terasa masuk akal. Sebaliknya, Robby mengeluh buah segar terasa mahal; di pasar tradisional harganya lebih rendah tetapi kualitas sering mengecewakan, sementara di tempat lain kualitas lebih baik tetapi harga melonjak.
Kondisi ini menunjukkan tantangan akses pangan murah yang bergizi: kelompok berpengeluaran rendah bukan hanya kesulitan memenuhi jumlah makanan, tetapi juga kesulitan mengakses pangan yang beragam dan sehat dengan harga yang masih terjangkau. Ketika satu jam gaji terasa hanya cukup untuk membeli cilok, bukan sekilo buah, wajar jika pola konsumsi makanan condong ke jajanan tepung dan gorengan.
Urbanisasi, Jam Kerja Panjang, dan Budaya Makan Instan
Lonjakan konsumsi makanan jadi tidak bisa dilepaskan dari cara kota membentuk kebiasaan makan. Proporsi penduduk yang tinggal di kawasan urban meningkat tajam dalam satu dekade, mencapai sekitar 60 persen dari total 284,4 juta jiwa pada 2025, naik dari 53,3 persen pada 2015. Di kota, dapur bersaing dengan kemacetan, lembur, dan perjalanan pulang yang melelahkan.
Standar jam kerja 40 jam per minggu di atas kertas berubah menjadi kenyataan pahit bagi jutaan pekerja yang bekerja lebih dari 60 jam per minggu; jumlah mereka naik dari 13,2 juta menjadi 18,2 juta orang dalam sepuluh tahun. Waktu yang tersita untuk bekerja membuat warga lebih memilih sesuatu yang mudah dan praktis. Dalam situasi ini, memasak sayur bening dan menyiangi buah terasa seperti kemewahan, sementara membeli nasi ayam goreng di sudut jalan menjadi solusi harian.
Profesor Bayu Krisnamurthi menilai perubahan pola konsumsi ini dipengaruhi gaya hidup dan maraknya urbanisasi. Kutipan yang layak dicatat: “Waktu yang terbatas membuat warga lebih memilih sesuatu yang mudah dan praktis”. Pilihan praktis itu, sayangnya, sering berarti lebih banyak tepung, minyak, dan gula, serta lebih sedikit serat, vitamin, dan mineral.
Gerobak Seblak dan Cilok: Penyangga Ekonomi yang Rawan
Menjamurnya pedagang seblak, cilok, cimol, cireng, dan gorengan di setiap sudut kota hingga persimpangan gang sempit bukan sekadar tren kuliner; ini cermin struktur ekonomi informal yang menampung mereka yang tersisih dari sektor formal. Di satu sisi, gerobak-gerobak ini menjadi simbol ketahanan ekonomi: ketika lapangan kerja formal seret, orang beralih ke usaha makanan jalanan sebagai akses pangan murah bagi pembeli dan sumber nafkah bagi penjual.
Namun banyak pelaku usaha ini masuk kategori necessity entrepreneurship—berjualan bukan karena melihat peluang bisnis matang, melainkan karena terpaksa menyambung hidup. Sektor formal belum mampu menyerap angkatan kerja secara optimal; perlambatan industri dan gelombang pemutusan hubungan kerja membuat sektor informal menjadi penampungan utama. Ratusan ribu lulusan baru pun mengalir ke pasar kerja tanpa kepastian, dan gerobak jajanan terjangkau menjadi pintu masuk paling mudah.
Secara administratif mereka tercatat “bekerja”, tetapi banyak yang sesungguhnya mengalami pengangguran terselubung dengan produktivitas dan pendapatan rendah dibanding kapasitas mereka. Fenomena ini memperlihatkan paradoks: semakin banyak pilihan jajanan murah di jalan, semakin jelas bahwa ketahanan ekonomi informal dibangun di atas pondasi rapuh, sementara akses pangan bergizi tetap menjadi kemewahan bagi banyak keluarga.
Perut Kenyang, Gizi Tertinggal: Konsekuensi Kesehatan dan Jalan Keluar
Kenaikan konsumsi makanan jadi mengubah komposisi gizi harian. Rata-rata kalori memang naik menjadi 2.073 kkal per hari, tetapi energi protein kini lebih banyak berasal dari makanan jadi (12,7 persen) dibanding bahan makanan segar (11,9 persen), berbalik dari situasi satu dekade sebelumnya. Artinya, porsi protein dan lemak dari ayam goreng, sosis, dan makanan olahan menggeser peran lauk dan bahan segar di rumah.
Akademisi gizi mengingatkan bahwa pola ini mendorong konsumsi lemak berlebih yang memicu obesitas dan penyakit tidak menular seperti kanker, stroke, diabetes, dan jantung. Makanan tinggi lemak—misalnya sosis, ikan kaleng, kulit dan jeroan ayam—jika masih diolah dengan santan atau digoreng, kandungan lemaknya berlipat ganda. Sementara itu, pengeluaran untuk sayur dan buah memang naik lebih dari 120 persen, tetapi kenaikan konsumsi fisiknya jauh lebih kecil, bahkan beberapa komoditas seperti cabai rawit justru menurun.
Kesimpulannya, dominasi jajanan murah dalam pola konsumsi makanan adalah alarm sosial: kita membiarkan harga, jarak, dan jam kerja menentukan apa yang masuk ke piring. Jika akses pangan murah terus identik dengan tepung dan minyak, bukan buah dan sayur, biaya kesehatan jangka panjang akan jauh lebih mahal daripada tabungan yang kita rasa dapat dari cilok dan seblak hari ini. Kebijakan pangan, ketenagakerjaan, dan edukasi gizi perlu diarahkan pada satu tujuan sederhana: membuat pilihan sehat menjadi sama mudah dan terjangkau dengan membeli cilok di depan rumah.






