Dua suasana yang bertolak belakang
Konser Andrea Bocelli adalah pertunjukan musik yang digelar di JIExpo Kemayoran pada malam ketika demonstrasi penolakan di luar venue memanas, tetapi acara di dalam tetap berlangsung. Pada Selasa malam, 3 November 2026, ribuan penonton menikmati penampilan sang tenor Italia sementara massa berunjuk rasa di sekitar arena dan berhadapan dengan aparat. Kontras ini menjadi inti peristiwa: konser berjalan, tetapi ketegangan di pintu masuk tak bisa dipisahkan dari pengalaman malam itu. Di dalam gedung, suasana disebut kondusif dan orasi dari luar tidak terdengar, sehingga penonton dapat mengikuti pertunjukan tanpa gangguan langsung. Namun, keberhasilan menjaga suasana panggung tetap tenang bukan berarti kekhawatiran publik di sekitar venue menjadi sepele.

Penolakan berlanjut, promotor memilih tetap menggelar konser
Aksi penolakan konser digelar oleh Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) dan Front Persaudaraan Islam (FPI). Massa meminta konser dibatalkan karena tudingan bahwa Bocelli pernah terlibat dalam acara penggalangan dana untuk militer Israel pada 2010, serta mempertanyakan sikapnya terhadap kemerdekaan Palestina dan penderitaan warga Gaza. FPI juga mengajukan tiga tuntutan kepada promotor: Bocelli menyatakan dukungan bagi Palestina di panggung, bendera Palestina dikibarkan selama pertunjukan, dan 20 persen keuntungan konser disumbangkan untuk Palestina. Ketiganya ditolak setelah perundingan tidak menghasilkan kesepakatan. Keputusan promotor untuk tetap melanjutkan acara membuat dua hal berlangsung serentak: penolakan di luar dan pertunjukan di dalam. Pilihan itu menjaga jadwal konser, tetapi tak meredakan pertanyaan yang melandasi protes.

Kericuhan JIExpo membayangi akses penonton
Ketegangan di sekitar venue memberi dampak nyata bagi orang yang hendak masuk. Sebagian calon penonton merasa waswas ketika melihat kerumunan demonstran di depan JIExpo; seorang pengguna Threads menceritakan bahwa suara aksi dari luar tidak terdengar di dalam, tetapi perjalanan masuk tetap membuatnya cemas. Situasi memanas ketika demonstran berusaha menerobos barikade di pintu sembilan. Sejumlah orang dilaporkan melempar batu dan petasan asap ke arah petugas, merusak pagar pembatas, serta membakar kerucut pembatas jalan. Seorang jurnalis yang meliput bentrokan terkena lemparan batu di bagian samping kepala dan dibawa keluar dari kerumunan untuk memperoleh penanganan medis. Pengamanan melibatkan 2.411 personel gabungan TNI, Polri, dan Pemda DKI Jakarta. Besarnya pengerahan itu menunjukkan bahwa situasi di luar bukan sekadar gangguan kecil.
Panggung tetap berjalan, tetapi kontrasnya tak patut diabaikan
Di dalam gedung, penonton menyaksikan Bocelli membawakan lagu-lagu opera dan populer. Salah satu momen utama terjadi saat ia berduet dengan Lea Simanjuntak dalam The Prayer, sementara pertunjukan tetap berlangsung kondusif. Perbedaan suasana ini memperlihatkan bahwa acara dapat terlindungi dari suara protes, tetapi keamanan dan rasa aman tidak berhenti di dalam ruang konser. Ketika calon penonton perlu mengatasi kecemasan di pintu masuk dan seorang jurnalis terluka saat meliput, kelancaran pertunjukan saja bukan ukuran utuh keberhasilan penyelenggaraan. Penyelenggara telah mempertahankan acara setelah dialog dengan perwakilan massa gagal mencapai kesepakatan. Kesimpulannya, konser Andrea Bocelli memang tetap digelar dan dinikmati penonton, tetapi malam itu juga menunjukkan pentingnya pengelolaan akses serta keselamatan di sekitar venue ketika aksi penolakan berlangsung.







